Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Tantangan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Di balik kesulitan, selalu ada peluang bagi mereka yang mau belajar, membangun komunikasi, dan konsisten mengembangkan diri. Pesan itulah yang mengemuka dalam Training Motivasi peringatan Hari Sumpah Pemuda bagi murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta, Rabu (28/10/2026), di aula madrasah.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni Erik Hadi, S.Kom., M.Eng., dosen, motivator, sekaligus pakar komunikasi, serta Kafka Vadanta, pendiri Maximing Masa Muda sekaligus mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan alumni MAN 1 Yogyakarta. Keduanya diharapkan dapat menginspirasi murid untuk melihat masa muda sebagai kesempatan membangun potensi, membentuk pola pikir positif, dan menyiapkan langkah menuju masa depan.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengingatkan murid agar mampu mengubah tantangan menjadi peluang untuk bertumbuh. Ia mengajak generasi muda memaknai berbagai fenomena kehidupan sebagai bahan pembelajaran untuk mengembangkan diri.
“Jadikan tantangan yang ada sebagai peluang. Melalui ayat-ayat kauniyah, kalian dapat belajar memahami kehidupan dan mempersiapkan diri menjadi generasi emas. Pastikan langkah yang kalian tempuh adalah langkah yang baik, dan yang tidak kalah penting, jagalah konsistensi,” pesannya.
Pada sesi pertama, Erik Hadi mengajak peserta mengenali kecenderungan cara berpikir dan mengolah informasi. Ia memaparkan karakteristik yang secara umum dikaitkan dengan fungsi otak kiri, seperti bahasa, angka, analisis, logika, urutan, dan perhitungan detail. Sementara itu, otak kanan dikaitkan dengan kreativitas, seni, musik, imajinasi, pengolahan gambar, dan emosi.
Menurut Erik, mengenali kecenderungan diri dapat menjadi salah satu langkah untuk memahami potensi yang perlu dikembangkan. Namun, keberhasilan tidak cukup ditentukan oleh kemampuan berpikir. Cara seseorang memaknai pengalaman dan merespons keadaan juga turut memengaruhi langkah yang diambil.
Ia kemudian membahas motivated forgetting theory, yakni gagasan tentang kecenderungan seseorang menghindari ingatan atas pengalaman yang menyakitkan atau tidak menyenangkan. Pengalaman, persepsi, dan emosi dapat meninggalkan jejak dalam ingatan serta memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.

Dalam konteks pengembangan diri, Erik mengingatkan murid agar tidak terjebak dalam kebiasaan mengeluh. Menurutnya, keluhan yang terus dipelihara dapat menguras energi dan menghambat seseorang untuk bergerak mencari solusi.
Ia juga memperkenalkan konsep Hukum Kekekalan Energi dalam Kubik Leadership, yang dirumuskan melalui gagasan bahwa hasil usaha terdiri atas hasil usaha tunai dan tabungan energi. Tabungan energi tersebut berkaitan dengan empat aspek yang disebut 4TA, yakni harta, tahta, kata, dan cinta.
Pesan yang ditekankan ialah pentingnya mengelola energi, menjaga sikap, dan membangun kebiasaan yang mendukung pertumbuhan diri. Bagi murid, hal itu dapat dimulai dengan mengurangi keluhan, memperkuat kemauan belajar, serta mengarahkan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Selain pola pikir, Erik menyoroti pentingnya komunikasi efektif bagi generasi muda. Ia mengaitkannya dengan konsep qaulan baligha dalam Al-Qur’an, yakni perkataan yang berbekas pada jiwa, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 63.
Menurutnya, kemampuan berkomunikasi tidak sebatas menyampaikan pesan, tetapi juga memastikan pesan tersebut dipahami dan memberi pengaruh positif kepada orang lain. Keterampilan ini menjadi penting bagi murid yang kelak akan berhadapan dengan beragam lingkungan, membangun jejaring, maupun mengembangkan karya.
Untuk memperjelas materinya, Erik membagikan contoh mahasiswa yang memulai perjalanan dari titik nol hingga mampu membangun karier sebagai konten kreator dan memperoleh berbagai tawaran kerja sama atau endorsement. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa peluang dapat tumbuh ketika seseorang berani memulai, konsisten berkarya, dan mampu menyampaikan gagasannya secara efektif.
Melalui kegiatan ini, MAN 1 Yogyakarta berharap murid tidak sekadar memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga mengambil semangatnya dalam kehidupan sehari-hari. Masa muda menjadi kesempatan untuk mengenali potensi, membangun karakter, dan menyiapkan kontribusi nyata.
Sebab, generasi yang kuat bukan hanya mereka yang memiliki cita-cita besar, melainkan juga mereka yang bersedia memulai dari langkah kecil, belajar dari tantangan, dan menjaga konsistensi untuk terus bertumbuh. (dee)

























