Desa Pendil, 4 Agustus 2026 – Setelah menjalani rangkaian pengabdian selama beberapa minggu, mahasiswa KKN Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Surabaya resmi mengakhiri kegiatan KKN di Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, pada 4 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB. Penutupan yang berlangsung di Balai Desa Pendil tersebut menjadi momen yang penuh cerita, tawa, sekaligus haru bagi mahasiswa dan perangkat desa.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Bapak Sekretaris PDM Kabupaten Probolinggo, yang selama pelaksanaan KKN juga menjadi tuan rumah bagi mahasiswa di posko. Sambutan tersebut terasa berbeda karena tidak hanya berisi pesan dan ucapan, tetapi juga cerita-cerita ringan tentang keseharian mahasiswa selama tinggal di posko.
Dengan diselingi lelucon, Bapak Sekretaris PDM menceritakan berbagai tingkah dan kebiasaan mahasiswa KKN selama berada di rumah. Hal-hal sederhana yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian, saat diceritakan kembali justru mengundang tawa dari mahasiswa dan tamu yang hadir. Di balik candaan tersebut, terasa kedekatan yang sudah terbangun selama mahasiswa tinggal dan beraktivitas di Desa Pendil.
Setelah itu, Kepala Desa Pendil menyampaikan pesan sekaligus menutup rangkaian kegiatan KKN Kelompok 10 UMSurabaya secara resmi. Pesan dan apresiasi yang diberikan menjadi bagian yang cukup mengharukan, mengingat selama beberapa minggu mahasiswa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Pendil.
Bagi mahasiswa, pesan tersebut bukan sekadar penutup acara. Ada nasihat dan doa yang menjadi bekal untuk melanjutkan perjalanan setelah kembali ke kampus. Begitu pula bagi perangkat desa, kehadiran mahasiswa KKN selama beberapa minggu tentu meninggalkan cerita tersendiri yang akan dikenang setelah kegiatan berakhir.
Sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih, Universitas Muhammadiyah Surabaya memberikan plakat kepada Desa Pendil yang telah menjadi mitra pengabdian masyarakat dalam agenda KKN 2026. Pemberian plakat tersebut menjadi simbol penghargaan atas sambutan, dukungan, serta kerja sama pemerintah desa dan masyarakat selama mahasiswa menjalankan berbagai program pengabdian.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama di Balai Desa Pendil. Suasana yang awalnya dipenuhi rasa haru perlahan kembali hangat dengan obrolan dan canda antara mahasiswa dan perangkat desa. Makan bersama menjadi penutup sederhana, tetapi justru terasa bermakna karena menjadi salah satu momen terakhir mahasiswa KKN Kelompok 10 berkumpul bersama keluarga dan perangkat Desa Pendil.
Pada akhirnya, penutupan KKN bukan hanya tentang berakhirnya sebuah program. Ada banyak hal yang ikut dibawa pulang oleh mahasiswa: pengalaman, pelajaran, pertemanan, dan kebaikan dari orang-orang yang selama ini menerima mereka dengan hangat.
KKN Kelompok 10 UMSurabaya mungkin telah selesai, tetapi cerita tentang Desa Pendil tidak berhenti di hari perpisahan. Ada kenangan yang akan tetap tinggal, bahkan ketika langkah mahasiswa sudah kembali ke tempat masing-masing.




















