Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Leaderboard Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2027
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Opini

Merawat Budaya Di Tengah Modernisasi Dan Globalisasi: Tantangan Generasi Muda Indonesia

Sami'an Harus Sukses by Sami'an Harus Sukses
18 October 2026
in Opini
A A
0
FB IMG 1792299119681
851
SHARES
1.2k
VIEWS

LAMONGAN – Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Kemajuan zaman membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan, tetapi di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran terhadap semakin memudarnya tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Bagi generasi milenial dan Generasi Z, yang tumbuh di tengah pesatnya industrialisasi digital, sejumlah tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Lamongan, Jawa Timur, mungkin sudah tidak lagi akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi sedekah bumi, wiwit, unjung-unjung, petik laut, megengan, kluputan, muludan, hingga nyadran merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat yang mengandung nilai sosial, spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.

Namun, seiring perubahan zaman, keberadaan tradisi tersebut menghadapi tantangan. Di sejumlah lingkungan masyarakat, pelaksanaannya mulai berkurang, mengalami perubahan bentuk, atau bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian generasi muda.

Persoalannya bukan sekadar hilangnya sebuah upacara adat. Lebih jauh, ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya ikut tergerus oleh perubahan pola pikir, gaya hidup, dan hubungan sosial masyarakat.

Tradisi Lokal, Identitas dan Jati Diri Bangsa

Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya pantas dikenang dalam buku sejarah atau ditampilkan pada acara seremonial. Budaya merupakan cerminan kehidupan masyarakat, identitas suatu bangsa, sekaligus bagian penting dari perjalanan sebuah peradaban.

Dalam tradisi sedekah bumi, misalnya, terdapat pesan tentang rasa syukur atas hasil bumi dan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Tradisi wiwit yang dikenal dalam kehidupan agraris masyarakat Jawa mengandung makna penghormatan terhadap proses pertanian dan ungkapan syukur menjelang panen.

1792299772382

Sementara itu, unjung-unjung menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga hubungan antarkeluarga, serta merawat ikatan sosial. Megengan menjelang Ramadan, muludan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan nyadran juga memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat dalam kehidupan sebagian masyarakat Jawa.

Adapun tradisi petik laut di masyarakat pesisir mengandung ungkapan syukur atas hasil laut sekaligus mengingatkan manusia akan besarnya ketergantungan terhadap sumber daya alam.

Bentuk dan pelaksanaan tradisi tersebut dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sebagian tradisi juga mengalami penyesuaian seiring perkembangan masyarakat dan pemahaman keagamaan.

Meski demikian, nilai kebersamaan, rasa syukur, kepedulian sosial, penghormatan terhadap alam, serta tanggung jawab antargenerasi merupakan warisan yang patut dipelajari dan dirawat.

Mengapa Generasi Muda Mulai Berjarak dengan Tradisi?

Perubahan sosial dan budaya tidak terjadi tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang memengaruhi hubungan generasi muda dengan tradisi lokal.

Pertama, faktor pendidikan dan perubahan pola pikir. Sistem pendidikan modern membuka wawasan generasi muda terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia internasional. Hal ini merupakan kemajuan yang perlu diapresiasi. Namun, pengenalan terhadap budaya lokal perlu berjalan beriringan agar generasi muda tidak hanya memahami dunia luar, tetapi juga mengenal akar sejarah dan identitas masyarakatnya sendiri.

Kedua, faktor ekonomi dan perubahan mata pencaharian. Tradisi yang tumbuh dalam masyarakat agraris dapat mengalami perubahan ketika masyarakat beralih ke sektor industri, perdagangan, atau pekerjaan lainnya. Ketika kehidupan sehari-hari tidak lagi berpusat pada siklus pertanian, sejumlah tradisi yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas bersama berpotensi kehilangan ruang pelaksanaannya.

Ketiga, perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Generasi muda kini dapat mengakses hiburan, informasi, dan budaya dari berbagai negara hanya melalui telepon genggam. Arus informasi tersebut membuka peluang besar untuk belajar, tetapi juga dapat menggeser perhatian dari kebudayaan di lingkungan sendiri apabila tidak diimbangi dengan pendidikan budaya yang memadai.

Keempat, perubahan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Tradisi akan sulit diwariskan apabila orang tua, tokoh masyarakat, dan generasi sebelumnya tidak lagi mengenalkan makna serta sejarahnya kepada anak-anak.

Karena itu, persoalan pelestarian budaya tidak tepat jika hanya menyalahkan generasi muda. Generasi tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan relevan.

Sami’an: Jangan Sampai “Wong Jowo Ilang Jawane”

Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di salah satu madrasah swasta di Lamongan, Sami’an mendorong generasi muda agar tetap mengenal, memahami, dan menghargai budaya serta tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga jati diri melalui ungkapan Jawa, “Wong Jowo ilang Jawane,” yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai orang Jawa yang kehilangan kejawaan atau jati diri budayanya.

Pesan tersebut bukan ajakan untuk menolak modernisasi, menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan, ataupun membatasi pergaulan dengan masyarakat dunia. Sebaliknya, ungkapan itu menjadi pengingat agar kemajuan zaman tidak membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya dan nilai-nilai luhur yang membentuk identitasnya.

Baca Juga

Screenshot 20261018 115235

Jasa Print dan Fotokopi di Sekitar Kampus dalam Perspektif Ekonomi Mikro

18 October 2026
ilustrasi pola konsumsi v2

Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia: Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

18 October 2026
31417d95 59c3 448d a16d 9de945b50af4

Perkembangan UMKM Makanan dan Minuman di Kota Tangerang Selatan

18 October 2026
1000321630

Komunikasi Bisnis di Era Digital: Kunci Membangun Kepercayaan dan Profesionalisme dalam Dunia Kerja

18 October 2026

“Jangan sampai kita menjadi generasi yang begitu mengenal budaya luar, tetapi justru asing terhadap budaya sendiri. Kita boleh maju, menguasai teknologi, dan berpikir mendunia, tetapi jangan kehilangan jati diri serta nilai-nilai luhur bangsa,” demikian gagasan yang ditekankan dalam pesan pelestarian budaya tersebut.

Sami’an juga menekankan prinsip, “Otak boleh Amerika, tetapi hati harus tetap Jawa. Sekolah boleh Eropa, tetapi etika tetap Indonesia (Nusantara).”

Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman global dapat dipelajari dari mana saja. Tidak ada yang salah dengan generasi muda yang menguasai kecerdasan buatan, teknologi digital, bahasa asing, ilmu pengetahuan modern, maupun berbagai inovasi dunia.

Namun, penguasaan ilmu harus disertai karakter, tata krama, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Kemajuan intelektual seharusnya berjalan seiring dengan kematangan moral.

Dalam konteks pendidikan, peserta didik tidak cukup hanya memperoleh nilai akademik yang tinggi. Mereka juga perlu memahami sejarah daerahnya, mengenal tradisi masyarakat, menghargai keberagaman budaya, serta mampu menerapkan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kearifan Lokal dan Hubungan Manusia dengan Alam

Salah satu persoalan penting dalam pelestarian budaya adalah hubungan manusia dengan lingkungan hidup.

Berbagai tradisi masyarakat Indonesia memperlihatkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan alam melalui mata pencaharian, pengetahuan lokal, kebiasaan bersama, dan nilai-nilai spiritual. Dalam masyarakat agraris, misalnya, pergantian musim, kesuburan tanah, ketersediaan air, dan hasil panen menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.

Tradisi sedekah bumi dan wiwit dapat menjadi pintu masuk untuk mengajarkan pentingnya rasa syukur sekaligus tanggung jawab dalam mengelola sumber daya alam. Tradisi masyarakat pesisir juga dapat menjadi sarana untuk membicarakan keberlanjutan laut dan kehidupan nelayan.

Di tengah persoalan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, nilai-nilai tersebut patut kembali diperhatikan.

Kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dijelaskan hanya melalui hilangnya tradisi budaya. Penyebabnya dapat melibatkan pembukaan lahan dengan api, kondisi lahan gambut yang mengering, cuaca, serta faktor tata kelola dan pengawasan. Karena itu, upaya penanganannya membutuhkan langkah ilmiah, penegakan aturan, pengelolaan lingkungan yang baik, dan keterlibatan masyarakat.

Meski demikian, kearifan lokal dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran ekologis. Masyarakat perlu memahami bahwa alam bukan sekadar objek untuk diambil manfaatnya, melainkan ruang kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.

Manusia memperoleh pangan, air, udara, dan berbagai kebutuhan hidup dari alam. Oleh sebab itu, rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui ritual atau ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata: tidak merusak hutan, tidak mencemari sungai, menjaga sumber air, mengelola sampah, dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Pesan moralnya sederhana: alam telah memberikan banyak hal kepada manusia, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk merawat alam.

Di sinilah nilai budaya dan pengetahuan modern dapat saling melengkapi. Kearifan lokal memberikan landasan etika dan kedekatan sosial, sedangkan ilmu pengetahuan membantu masyarakat memahami persoalan lingkungan serta menentukan langkah penanganan yang tepat.

Sekolah dan Keluarga Harus Menjadi Ruang Pewarisan Budaya

Revitalisasi budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah dan madrasah memiliki peran strategis karena menjadi tempat generasi muda membangun pengetahuan, karakter, dan kesadaran sosial.

Dalam pembelajaran IPS, budaya lokal dapat dikenalkan melalui sejarah desa, wawancara dengan sesepuh, dokumentasi tradisi, kunjungan ke tempat bersejarah, serta proyek pembelajaran berbasis lingkungan masyarakat.

Peserta didik dapat diminta menggali asal-usul sedekah bumi, mencatat perubahan tradisi unjung-unjung, mendokumentasikan cerita rakyat, atau mewawancarai petani dan nelayan mengenai hubungan antara budaya, mata pencaharian, serta lingkungan hidup.

Pembelajaran seperti ini membuat budaya tidak berhenti sebagai materi hafalan. Peserta didik dapat melihat langsung bagaimana kebudayaan tumbuh, berubah, dan memiliki arti dalam kehidupan masyarakat.

Keluarga juga memegang peran penting. Orang tua dapat mengenalkan tradisi melalui cerita, kebiasaan berkunjung kepada kerabat, kegiatan gotong royong, serta keterlibatan dalam acara masyarakat yang masih dijalankan.

Sementara itu, pemerintah desa, tokoh adat, organisasi kepemudaan, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama mendokumentasikan tradisi agar pengetahuan tersebut tidak hilang bersama generasi yang mewarisinya.

Perkembangan digital bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian. Generasi muda bisa membuat video dokumenter, podcast, tulisan, arsip foto, atau konten edukasi tentang tradisi Lamongan. Dengan demikian, teknologi yang selama ini dianggap berpotensi menjauhkan anak muda dari budaya lokal justru dapat menjadi alat untuk memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.

Merawat Budaya Bukan Berarti Menolak Perubahan

Pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan mempertahankan seluruh bentuk tradisi secara kaku. Kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan.

Sebagian tradisi mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi, perkembangan zaman, pertimbangan kesehatan, perlindungan lingkungan, dan pemahaman keagamaan masyarakat. Ada pula praktik lama yang perlu dievaluasi apabila bertentangan dengan keselamatan, hak asasi, atau kelestarian alam.

Karena itu, revitalisasi budaya perlu dilakukan secara kritis. Nilai positifnya dipelajari, pengetahuan sejarahnya diwariskan, dan pelaksanaannya dikembangkan sesuai kebutuhan zaman tanpa menghilangkan makna penting yang menjadi identitas masyarakat.

Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam perayaan budaya. Mereka perlu diberi ruang untuk memahami, mengembangkan, dan meneruskan tradisi dengan cara yang kreatif.

Kebudayaan yang hidup bukan sekadar kebudayaan yang dipertontonkan dalam festival, melainkan kebudayaan yang nilai-nilainya hadir dalam perilaku sehari-hari: menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, bergotong royong, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Menjaga Akar, Menyongsong Masa Depan

Modernisasi dan globalisasi merupakan bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia. Generasi muda perlu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan keterampilan agar mampu bersaing dalam kehidupan global. Namun, semua itu tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas budaya.

Lamongan memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus. Sedekah bumi, wiwit, unjung-unjung, megengan, muludan, nyadran, dan berbagai tradisi lainnya menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat, hubungan sosial, rasa syukur, dan cara manusia memaknai kehidupannya.

Tantangan saat ini adalah bagaimana memastikan tradisi tersebut tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap dipahami maknanya dan diwariskan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pesan Sami’an kepada generasi muda menjadi pengingat bahwa kemajuan dan kebudayaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Indonesia dapat menjadi bangsa yang modern tanpa kehilangan karakter, menjadi masyarakat yang menguasai teknologi tanpa melupakan etika, serta menjadi generasi global yang tetap menghargai akar budayanya.

Jangan sampai “Wong Jowo ilang Jawane.” aMari merawat budaya, menjaga kearifan lokal, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Sebab, bangsa yang melangkah menuju masa depan tetap membutuhkan akar sejarah dan identitas untuk mengenali jati dirinya.

    Tags: BudayaGenerasi MudaGlobalisasiModernisasi
    Share340Tweet213Share60Pin77SendShare
    Leaderboard apa apa
    Previous Post

    Jasa Print dan Fotokopi di Sekitar Kampus dalam Perspektif Ekonomi Mikro

    Next Post

    Tampil Memukau di Panggung Nasional, Naza MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 2 Speech Competition

    Sami'an Harus Sukses

    Sami'an Harus Sukses

    Related Posts

    Screenshot 20261018 115235

    Jasa Print dan Fotokopi di Sekitar Kampus dalam Perspektif Ekonomi Mikro

    18 October 2026
    ilustrasi pola konsumsi v2

    Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia: Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup

    18 October 2026
    31417d95 59c3 448d a16d 9de945b50af4

    Perkembangan UMKM Makanan dan Minuman di Kota Tangerang Selatan

    18 October 2026
    1000321630

    Komunikasi Bisnis di Era Digital: Kunci Membangun Kepercayaan dan Profesionalisme dalam Dunia Kerja

    18 October 2026
    Next Post
    WhatsApp Image 2026 10 18 at 5.31.55 AM

    Tampil Memukau di Panggung Nasional, Naza MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 2 Speech Competition

    Harleyava Chesna Alfiani, S.E., M.M., praktisi perbankan dan mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Lampung yang aktif berkontribusi dalam riset ekonomi digital dan pemberdayaan UMKM.

    Mengenal Harleyava Chesna Alfiani: Sosok Akademisi dan Praktisi Perbankan yang Berdedikasi bagi Kemajuan UMKM

    Photo bersama outdoor1

    Dosen dan Mahasiswa FEB Universitas Bina Sarana Informatika berikan Pelatihan Kewirausahaan Merencanakan dan Mengelola Usaha Mikro bagi Komunitas Bebas Rentenir Serpong Utara Tangerang Selatan

    Sandy Julyansyah, penggagas Project MEGA AI, berkomitmen menghadirkan inovasi kecerdasan buatan untuk efisiensi dokumentasi dan komunikasi korporasi global.

    Mengenal Sandy Julyansyah, Sosok di Balik Visi Project MEGA AI untuk Efisiensi Komunikasi Korporasi Global

    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    Sandy Julyansyah, penggagas Project MEGA AI, berkomitmen menghadirkan inovasi kecerdasan buatan untuk efisiensi dokumentasi dan komunikasi korporasi global.

    Mengenal Sandy Julyansyah, Sosok di Balik Visi Project MEGA AI untuk Efisiensi Komunikasi Korporasi Global

    18 October 2026
    Photo bersama outdoor1

    Dosen dan Mahasiswa FEB Universitas Bina Sarana Informatika berikan Pelatihan Kewirausahaan Merencanakan dan Mengelola Usaha Mikro bagi Komunitas Bebas Rentenir Serpong Utara Tangerang Selatan

    18 October 2026
    Harleyava Chesna Alfiani, S.E., M.M., praktisi perbankan dan mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Lampung yang aktif berkontribusi dalam riset ekonomi digital dan pemberdayaan UMKM.

    Mengenal Harleyava Chesna Alfiani: Sosok Akademisi dan Praktisi Perbankan yang Berdedikasi bagi Kemajuan UMKM

    18 October 2026
    WhatsApp Image 2026 10 18 at 5.31.55 AM

    Tampil Memukau di Panggung Nasional, Naza MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 2 Speech Competition

    18 October 2026
    FB IMG 1792299119681

    Merawat Budaya Di Tengah Modernisasi Dan Globalisasi: Tantangan Generasi Muda Indonesia

    18 October 2026
    Screenshot 20261018 115235

    Jasa Print dan Fotokopi di Sekitar Kampus dalam Perspektif Ekonomi Mikro

    18 October 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Gunakan Gambar AI atau 100% Gratis

    Untuk menghindari klaim hak cipta maka setiap gambar wajib merupakan gambar 100% gratis atau buatan AI. Cantumkan link sumber gambar di akhir tulisan kamu ya, tanpa ini tulisan kamu tidak akan kami terbitkan!

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Iklan Guest Post
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita