LAMONGAN – Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia. Kemajuan zaman membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan, tetapi di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran terhadap semakin memudarnya tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Bagi generasi milenial dan Generasi Z, yang tumbuh di tengah pesatnya industrialisasi digital, sejumlah tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Lamongan, Jawa Timur, mungkin sudah tidak lagi akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi sedekah bumi, wiwit, unjung-unjung, petik laut, megengan, kluputan, muludan, hingga nyadran merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat yang mengandung nilai sosial, spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Namun, seiring perubahan zaman, keberadaan tradisi tersebut menghadapi tantangan. Di sejumlah lingkungan masyarakat, pelaksanaannya mulai berkurang, mengalami perubahan bentuk, atau bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian generasi muda.
Persoalannya bukan sekadar hilangnya sebuah upacara adat. Lebih jauh, ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya ikut tergerus oleh perubahan pola pikir, gaya hidup, dan hubungan sosial masyarakat.
Tradisi Lokal, Identitas dan Jati Diri Bangsa
Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya pantas dikenang dalam buku sejarah atau ditampilkan pada acara seremonial. Budaya merupakan cerminan kehidupan masyarakat, identitas suatu bangsa, sekaligus bagian penting dari perjalanan sebuah peradaban.
Dalam tradisi sedekah bumi, misalnya, terdapat pesan tentang rasa syukur atas hasil bumi dan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Tradisi wiwit yang dikenal dalam kehidupan agraris masyarakat Jawa mengandung makna penghormatan terhadap proses pertanian dan ungkapan syukur menjelang panen.

Sementara itu, unjung-unjung menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga hubungan antarkeluarga, serta merawat ikatan sosial. Megengan menjelang Ramadan, muludan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan nyadran juga memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat dalam kehidupan sebagian masyarakat Jawa.
Adapun tradisi petik laut di masyarakat pesisir mengandung ungkapan syukur atas hasil laut sekaligus mengingatkan manusia akan besarnya ketergantungan terhadap sumber daya alam.
Bentuk dan pelaksanaan tradisi tersebut dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sebagian tradisi juga mengalami penyesuaian seiring perkembangan masyarakat dan pemahaman keagamaan.
Meski demikian, nilai kebersamaan, rasa syukur, kepedulian sosial, penghormatan terhadap alam, serta tanggung jawab antargenerasi merupakan warisan yang patut dipelajari dan dirawat.
Mengapa Generasi Muda Mulai Berjarak dengan Tradisi?
Perubahan sosial dan budaya tidak terjadi tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang memengaruhi hubungan generasi muda dengan tradisi lokal.
Pertama, faktor pendidikan dan perubahan pola pikir. Sistem pendidikan modern membuka wawasan generasi muda terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia internasional. Hal ini merupakan kemajuan yang perlu diapresiasi. Namun, pengenalan terhadap budaya lokal perlu berjalan beriringan agar generasi muda tidak hanya memahami dunia luar, tetapi juga mengenal akar sejarah dan identitas masyarakatnya sendiri.
Kedua, faktor ekonomi dan perubahan mata pencaharian. Tradisi yang tumbuh dalam masyarakat agraris dapat mengalami perubahan ketika masyarakat beralih ke sektor industri, perdagangan, atau pekerjaan lainnya. Ketika kehidupan sehari-hari tidak lagi berpusat pada siklus pertanian, sejumlah tradisi yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas bersama berpotensi kehilangan ruang pelaksanaannya.
Ketiga, perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Generasi muda kini dapat mengakses hiburan, informasi, dan budaya dari berbagai negara hanya melalui telepon genggam. Arus informasi tersebut membuka peluang besar untuk belajar, tetapi juga dapat menggeser perhatian dari kebudayaan di lingkungan sendiri apabila tidak diimbangi dengan pendidikan budaya yang memadai.
Keempat, perubahan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Tradisi akan sulit diwariskan apabila orang tua, tokoh masyarakat, dan generasi sebelumnya tidak lagi mengenalkan makna serta sejarahnya kepada anak-anak.
Karena itu, persoalan pelestarian budaya tidak tepat jika hanya menyalahkan generasi muda. Generasi tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan relevan.
Sami’an: Jangan Sampai “Wong Jowo Ilang Jawane”
Sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di salah satu madrasah swasta di Lamongan, Sami’an mendorong generasi muda agar tetap mengenal, memahami, dan menghargai budaya serta tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga jati diri melalui ungkapan Jawa, “Wong Jowo ilang Jawane,” yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai orang Jawa yang kehilangan kejawaan atau jati diri budayanya.
Pesan tersebut bukan ajakan untuk menolak modernisasi, menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan, ataupun membatasi pergaulan dengan masyarakat dunia. Sebaliknya, ungkapan itu menjadi pengingat agar kemajuan zaman tidak membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya dan nilai-nilai luhur yang membentuk identitasnya.
“Jangan sampai kita menjadi generasi yang begitu mengenal budaya luar, tetapi justru asing terhadap budaya sendiri. Kita boleh maju, menguasai teknologi, dan berpikir mendunia, tetapi jangan kehilangan jati diri serta nilai-nilai luhur bangsa,” demikian gagasan yang ditekankan dalam pesan pelestarian budaya tersebut.
Sami’an juga menekankan prinsip, “Otak boleh Amerika, tetapi hati harus tetap Jawa. Sekolah boleh Eropa, tetapi etika tetap Indonesia (Nusantara).”
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman global dapat dipelajari dari mana saja. Tidak ada yang salah dengan generasi muda yang menguasai kecerdasan buatan, teknologi digital, bahasa asing, ilmu pengetahuan modern, maupun berbagai inovasi dunia.
Namun, penguasaan ilmu harus disertai karakter, tata krama, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Kemajuan intelektual seharusnya berjalan seiring dengan kematangan moral.
Dalam konteks pendidikan, peserta didik tidak cukup hanya memperoleh nilai akademik yang tinggi. Mereka juga perlu memahami sejarah daerahnya, mengenal tradisi masyarakat, menghargai keberagaman budaya, serta mampu menerapkan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kearifan Lokal dan Hubungan Manusia dengan Alam
Salah satu persoalan penting dalam pelestarian budaya adalah hubungan manusia dengan lingkungan hidup.
Berbagai tradisi masyarakat Indonesia memperlihatkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan alam melalui mata pencaharian, pengetahuan lokal, kebiasaan bersama, dan nilai-nilai spiritual. Dalam masyarakat agraris, misalnya, pergantian musim, kesuburan tanah, ketersediaan air, dan hasil panen menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.
Tradisi sedekah bumi dan wiwit dapat menjadi pintu masuk untuk mengajarkan pentingnya rasa syukur sekaligus tanggung jawab dalam mengelola sumber daya alam. Tradisi masyarakat pesisir juga dapat menjadi sarana untuk membicarakan keberlanjutan laut dan kehidupan nelayan.
Di tengah persoalan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, nilai-nilai tersebut patut kembali diperhatikan.
Kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dijelaskan hanya melalui hilangnya tradisi budaya. Penyebabnya dapat melibatkan pembukaan lahan dengan api, kondisi lahan gambut yang mengering, cuaca, serta faktor tata kelola dan pengawasan. Karena itu, upaya penanganannya membutuhkan langkah ilmiah, penegakan aturan, pengelolaan lingkungan yang baik, dan keterlibatan masyarakat.
Meski demikian, kearifan lokal dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran ekologis. Masyarakat perlu memahami bahwa alam bukan sekadar objek untuk diambil manfaatnya, melainkan ruang kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.
Manusia memperoleh pangan, air, udara, dan berbagai kebutuhan hidup dari alam. Oleh sebab itu, rasa syukur tidak cukup diwujudkan melalui ritual atau ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata: tidak merusak hutan, tidak mencemari sungai, menjaga sumber air, mengelola sampah, dan menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Pesan moralnya sederhana: alam telah memberikan banyak hal kepada manusia, tetapi manusia juga memiliki kewajiban untuk merawat alam.
Di sinilah nilai budaya dan pengetahuan modern dapat saling melengkapi. Kearifan lokal memberikan landasan etika dan kedekatan sosial, sedangkan ilmu pengetahuan membantu masyarakat memahami persoalan lingkungan serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
Sekolah dan Keluarga Harus Menjadi Ruang Pewarisan Budaya
Revitalisasi budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah dan madrasah memiliki peran strategis karena menjadi tempat generasi muda membangun pengetahuan, karakter, dan kesadaran sosial.
Dalam pembelajaran IPS, budaya lokal dapat dikenalkan melalui sejarah desa, wawancara dengan sesepuh, dokumentasi tradisi, kunjungan ke tempat bersejarah, serta proyek pembelajaran berbasis lingkungan masyarakat.
Peserta didik dapat diminta menggali asal-usul sedekah bumi, mencatat perubahan tradisi unjung-unjung, mendokumentasikan cerita rakyat, atau mewawancarai petani dan nelayan mengenai hubungan antara budaya, mata pencaharian, serta lingkungan hidup.
Pembelajaran seperti ini membuat budaya tidak berhenti sebagai materi hafalan. Peserta didik dapat melihat langsung bagaimana kebudayaan tumbuh, berubah, dan memiliki arti dalam kehidupan masyarakat.
Keluarga juga memegang peran penting. Orang tua dapat mengenalkan tradisi melalui cerita, kebiasaan berkunjung kepada kerabat, kegiatan gotong royong, serta keterlibatan dalam acara masyarakat yang masih dijalankan.
Sementara itu, pemerintah desa, tokoh adat, organisasi kepemudaan, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama mendokumentasikan tradisi agar pengetahuan tersebut tidak hilang bersama generasi yang mewarisinya.
Perkembangan digital bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian. Generasi muda bisa membuat video dokumenter, podcast, tulisan, arsip foto, atau konten edukasi tentang tradisi Lamongan. Dengan demikian, teknologi yang selama ini dianggap berpotensi menjauhkan anak muda dari budaya lokal justru dapat menjadi alat untuk memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.
Merawat Budaya Bukan Berarti Menolak Perubahan
Pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan mempertahankan seluruh bentuk tradisi secara kaku. Kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan.
Sebagian tradisi mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi, perkembangan zaman, pertimbangan kesehatan, perlindungan lingkungan, dan pemahaman keagamaan masyarakat. Ada pula praktik lama yang perlu dievaluasi apabila bertentangan dengan keselamatan, hak asasi, atau kelestarian alam.
Karena itu, revitalisasi budaya perlu dilakukan secara kritis. Nilai positifnya dipelajari, pengetahuan sejarahnya diwariskan, dan pelaksanaannya dikembangkan sesuai kebutuhan zaman tanpa menghilangkan makna penting yang menjadi identitas masyarakat.
Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam perayaan budaya. Mereka perlu diberi ruang untuk memahami, mengembangkan, dan meneruskan tradisi dengan cara yang kreatif.
Kebudayaan yang hidup bukan sekadar kebudayaan yang dipertontonkan dalam festival, melainkan kebudayaan yang nilai-nilainya hadir dalam perilaku sehari-hari: menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, bergotong royong, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Menjaga Akar, Menyongsong Masa Depan
Modernisasi dan globalisasi merupakan bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia. Generasi muda perlu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan keterampilan agar mampu bersaing dalam kehidupan global. Namun, semua itu tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas budaya.
Lamongan memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus. Sedekah bumi, wiwit, unjung-unjung, megengan, muludan, nyadran, dan berbagai tradisi lainnya menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat, hubungan sosial, rasa syukur, dan cara manusia memaknai kehidupannya.
Tantangan saat ini adalah bagaimana memastikan tradisi tersebut tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap dipahami maknanya dan diwariskan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pesan Sami’an kepada generasi muda menjadi pengingat bahwa kemajuan dan kebudayaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Indonesia dapat menjadi bangsa yang modern tanpa kehilangan karakter, menjadi masyarakat yang menguasai teknologi tanpa melupakan etika, serta menjadi generasi global yang tetap menghargai akar budayanya.
Jangan sampai “Wong Jowo ilang Jawane.” aMari merawat budaya, menjaga kearifan lokal, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Sebab, bangsa yang melangkah menuju masa depan tetap membutuhkan akar sejarah dan identitas untuk mengenali jati dirinya.






















