Bagi mahasiswa, tempat print dan fotokopi adalah salah satu usaha yang paling sering dikunjungi. Tugas, makalah, laporan, dan materi kuliah hampir selalu berakhir di mesin cetak. Di balik kesederhanaannya, usaha ini bisa dianalisis dengan ekonomi mikro, yaitu ilmu yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta bagaimana keputusan tentang produksi, permintaan, penawaran, dan harga terbentuk.
Menurut Sukirno (2005), pembahasan ekonomi mikro mencakup permintaan dan penawaran, elastisitas, teori produksi, biaya produksi, dan bentuk-bentuk pasar. Semua konsep tersebut dapat ditemukan pada usaha jasa print di lingkungan kampus.
Permintaan jasa print sangat dipengaruhi kalender akademik. Menjelang ujian dan batas pengumpulan tugas, permintaan melonjak dan antrean memanjang, sedangkan pada masa libur semester permintaan turun drastis. Dari sisi harga, jumlah tempat print di sekitar kampus cukup banyak sehingga konsumen mudah berpindah ketika satu tempat menaikkan harga. Dalam kondisi normal, permintaan bersifat elastis. Namun mendekati tenggat, mahasiswa lebih mementingkan kecepatan daripada harga, sehingga permintaan menjadi lebih inelastis untuk sementara.
Layanan antar tempat print pada dasarnya serupa, tetapi pelaku usaha berusaha berbeda melalui kecepatan, kualitas hasil, jam operasional, dan layanan tambahan seperti jilid, laminating, atau pengetikan. Kondisi ini menggambarkan pasar persaingan monopolistik.
Proses produksi jasa print meliputi menerima file, mengatur format, mencetak, memeriksa hasil, hingga menyerahkannya kepada konsumen. Biaya tetapnya berupa sewa tempat dan mesin, sedangkan biaya variabelnya berupa kertas, tinta atau toner, dan listrik. Sebagai ilustrasi, misalkan biaya tetap Rp3.000.000 per bulan dan biaya variabel Rp200 per lembar. Perhitungannya sebagai berikut:
Jika mencetak 5.000 lembar:
Biaya variabel = 5.000 × Rp200 = Rp1.000.000
Total biaya = Rp3.000.000 + Rp1.000.000 = Rp4.000.000
Biaya rata-rata = Rp4.000.000 ÷ 5.000 = Rp800 per lembar
Jika mencetak 10.000 lembar:
Biaya variabel = 10.000 × Rp200 = Rp2.000.000
Total biaya = Rp3.000.000 + Rp2.000.000 = Rp5.000.000
Biaya rata-rata = Rp5.000.000 ÷ 10.000 = Rp500 per lembar
Jika mencetak 20.000 lembar:
Biaya variabel = 20.000 × Rp200 = Rp4.000.000
Total biaya = Rp3.000.000 + Rp4.000.000 = Rp7.000.000
Biaya rata-rata = Rp7.000.000 ÷ 20.000 = Rp350 per lembar
Dari perhitungan tersebut terlihat bahwa semakin besar jumlah cetakan, semakin kecil biaya rata-rata per lembar karena biaya tetap terbagi ke lebih banyak unit. Dengan begitu, usaha yang ramai dapat menawarkan harga lebih bersaing.
Jika harga kertas atau tinta naik, biaya produksi ikut naik dan pelaku usaha harus memilih antara menaikkan harga atau menerima keuntungan yang lebih tipis. Hal ini sejalan dengan teori penawaran bahwa perubahan biaya input memengaruhi harga dan jumlah jasa yang ditawarkan. Dengan demikian, usaha jasa print dan fotokopi menunjukkan bahwa ekonomi mikro hadir dalam kehidupan sehari-hari, dan pemahaman tentang permintaan, elastisitas, biaya produksi, serta struktur pasar membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang tepat.
Sukirno, S. (2005). Mikroekonomi: Teori Pengantar (Edisi Ketiga). Jakarta: Rajawali Pers.























