Pernahkah kita berpikir bahwa kebaikan sederhana yang dilakukan hari ini bisa menjadi amal terakhir dalam hidup kita? Tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Bahkan, sesuatu yang terlihat biasa, seperti sebungkus nasi Padang, bisa menyimpan kisah penuh makna tentang keikhlasan dan bekal menuju akhirat.
Pak Hasan adalah seorang tukang becak sederhana yang memiliki kebiasaan unik setiap hari Jumat. Seusai menunaikan salat Jumat, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli sebungkus nasi Padang. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Suatu ketika, Farhan, seorang pemuda yang sering memperhatikan kebiasaannya, bertanya mengapa Pak Hasan tetap bersedekah meskipun penghasilannya pas-pasan.
Pak Hasan hanya tersenyum dan menjawab,
“Kalau hari ini Bapak masih bisa makan, kenapa nggak berbagi sama orang yang mungkin belum makan?”
Jawaban sederhana itu membekas di hati Farhan.
Hingga suatu Jumat, Pak Hasan merasa tubuhnya tidak sekuat biasanya. Meski begitu, ia tetap pergi ke masjid dan menjalankan kebiasaannya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu seorang lelaki yang tampak kelaparan di pinggir jalan.
“Mas, sudah makan?” tanyanya.
Lelaki itu menggeleng. Tanpa banyak bicara, Pak Hasan menyerahkan sebungkus nasi Padang yang baru saja dibelinya. Lelaki tersebut menerimanya dengan penuh rasa syukur.
Namun, siapa sangka, itulah Jumat terakhir bagi Pak Hasan. Tak lama setelah pulang, kondisi kesehatannya memburuk. Pada sore harinya, ia mengembuskan napas terakhir. Seporsi nasi Padang yang mungkin terlihat sederhana ternyata menjadi sedekah terakhir sebelum ia menghadap Sang Pencipta.
Kisah ini mengingatkan kita pada firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”
Dari kisah Pak Hasan, kita belajar bahwa nilai sedekah tidak diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari keikhlasan hati. Hari Jumat menjadi salah satu kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan, baik melalui sedekah, membantu sesama, maupun tindakan sederhana lainnya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita miliki yang menjadi ukuran kemuliaan, melainkan bagaimana kita memanfaatkannya untuk mencari rida Allah.
Jangan menunggu kaya untuk berbagi, dan jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Sebab, kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan menjadi amal terakhir sebelum kembali kepada-Nya.
— Judul terinspirasi dari novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”
Penulis: Raisanaya Dea Putri (Kelas XI PK 2 MAN 1 Yogyakarta)
























