Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Usai mengikuti Giat Jalan, Jumat (25/09/2026) pukul 08.00–11.00 WIB, murid kelas X MAN 1 Yogyakarta melanjutkan rangkaian PRAGA XLI dengan kegiatan Eco Glam. Setelah dua hari mengikuti berbagai aktivitas kepramukaan, tantangan, dan pengembangan potensi, Eco Glam menjadi salah satu kegiatan yang mengajak murid mengekspresikan kreativitas melalui pemanfaatan barang bekas menjadi busana bernilai estetis.
Sebelum memasuki kegiatan Eco Glam, murid terlebih dahulu mengunjungi PRAGA EXPO yang digelar di area parkir depan ruang kepala madrasah. Expo ini memperkenalkan berbagai kegiatan kepramukaan di MAN 1 Yogyakarta, termasuk Tata Adat Ambalan Alibasyah dan Ratnaningsih. Setelah kegiatan Expo berakhir menjelang waktu salat Jumat, murid melanjutkan rangkaian kegiatan dengan persiapan Eco Glam.
Eco Glam atau Ecological Glamour menjadi salah satu kegiatan yang memberikan ruang luas bagi murid untuk berkreasi. Dalam kegiatan ini, murid ditantang memanfaatkan barang bekas yang didaur ulang menjadi kostum yang memiliki nilai estetis sekaligus menampilkan kesan indah, anggun, dan mewah. Berbagai bahan bekas dapat digunakan dalam pembuatan kostum, di antaranya kertas, koran, kalender, kardus, botol, plastik, kresek, karung, dan kaleng. Setiap kelas menyiapkan tiga orang perwakilan yang terdiri atas dua model dan satu narator. Narator bertugas menjelaskan filosofi tema serta bahan yang digunakan dalam kostum.

Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S. Ag., S. Pd., M. Pd., menyampaikan bahwa kreativitas merupakan salah satu potensi yang perlu mendapatkan ruang dalam kegiatan murid. Menurutnya, kegiatan seperti Eco Glam memberikan pengalaman kepada murid untuk melihat sesuatu yang sederhana dari sudut pandang yang berbeda dan mengubahnya menjadi sebuah karya. Lebih jauh Edi menyatakan bahwa kreativitas tumbuh ketika anak-anak diberi kesempatan untuk mencoba dan menghasilkan sesuatu dengan cara mereka sendiri.
“Eco Glam menunjukkan bahwa barang yang sering dianggap tidak bernilai pun dapat diolah menjadi karya ketika ada ide, kerja sama, dan kemauan untuk berkarya,” terang Edi.
Pembina Pramuka MAN 1 Yogyakarta Esti Supeni, S. Pd., mengapresiasi keterlibatan seluruh murid dalam proses pembuatan kostum. Menurut Esti, yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya penampilan akhirnya, tetapi juga proses ketika anak-anak bekerja bersama, berbagi ide, dan menyelesaikan sebuah karya.
“Proses seperti inilah yang menjadi pengalaman belajar yang penting bagi mereka,” tutur Esti.
Esti juga menjelaskan bahwa Eco Glam sengaja ditempatkan sebagai salah satu kegiatan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk menampilkan sisi kreativitas mereka. Eco Glam menjadi salah satu cara memberikan ruang kepada anak-anak untuk berkarya.
“Mereka tidak hanya diminta menghasilkan kostum, tetapi juga memikirkan konsep, memilih bahan, membangun kerja sama, dan kemudian mempertanggungjawabkan karya tersebut melalui penampilan,” kata Esti.
Dalam pelaksanaannya, Eco Glam terdiri atas tiga ronde. Ronde pertama menilai presentasi, pemanfaatan barang bekas dan kostum, kemudian ronde kedua menampilkan gaya berjalan para model di atas red carpet. Pada ronde ketiga, seluruh model tampil secara berurutan untuk sesi bersama dan dokumentasi.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan upacara penutupan dan pemberian hadiah bagi pemenang di Lapangan MAN 1 Yogyakarta. Dengan berakhirnya PRAGA XLI, pengalaman dua hari tersebut diharapkan menjadi bekal bagi murid untuk semakin mengenal lingkungan kepramukaan, membangun kebersamaan, serta berani mengembangkan potensi dan kreativitas mereka. Eco Glam pun menjadi penutup yang merepresentasikan semangat PRAGA XLI: mengenal lebih dekat, bekerja bersama, dan leluasa berkarya. (luf)

























