JOMBANG – Daluang dan lontar akan diperkenalkan dalam Workshop Pembuatan Kertas Daluang dan Menulis di Media Lontar 2026 yang berlangsung di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari, Jombang, pada 30 September–1 Oktober 2026. Sebanyak 50 peserta akan mengikuti rangkaian pembelajaran yang memadukan pengenalan sejarah dan karakteristik material dengan praktik pengolahan serta penggunaannya sebagai media tulis tradisional.
Kegiatan ini merupakan langkah pembuka dari kerja sama antara Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon dan Museum dan Cagar Budaya (MCB). Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut dilakukan melalui unit Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari sebagai bagian dari MCB. Kerja sama ini menjadi konteks penyelenggaraan workshop yang mempertemukan pengenalan material tulis tradisional dengan kegiatan pembelajaran berbasis praktik.
Kedua material tersebut memiliki bahan, karakter, proses pengolahan, dan teknik penggunaan yang berbeda. Perbedaan itu menjadi bagian dari materi workshop. Peserta akan terlebih dahulu memperoleh penjelasan mengenai masing-masing material sebelum mengikuti praktik secara langsung.
Rangkaian pembelajaran dimulai dengan sesi daluang. Sebagai salah satu media tulis tradisional, daluang dibuat melalui proses pengolahan bagian tertentu dari tanaman hingga menghasilkan lembaran yang dapat digunakan sebagai permukaan tulis.
Sebelum praktik dimulai, peserta akan diperkenalkan pada sejarah penggunaan, karakteristik, dan proses pengolahan daluang. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami bahan yang akan mereka olah.
Setelah mendapatkan penjelasan, peserta akan mengikuti tahapan pembuatan daluang secara langsung. Mereka akan melihat dan mempraktikkan bagaimana material alami dipersiapkan hingga menghasilkan lembaran yang dapat digunakan sebagai media tulis.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran karena peserta tidak hanya mengenal daluang dalam bentuk akhirnya. Mereka juga diperkenalkan pada tahapan yang dilalui material sebelum dapat digunakan sebagai permukaan tulis.
Melalui praktik, peserta dapat mengikuti hubungan antara bahan, proses pengolahan, dan hasil yang diperoleh. Pengetahuan mengenai daluang dengan demikian disampaikan melalui penjelasan sekaligus pengalaman langsung dalam mengolah material.
Setelah sesi daluang, pembelajaran berlanjut pada lontar. Material ini menggunakan daun lontar yang telah melalui proses pengolahan dan memiliki karakteristik serta sejarah penggunaan tersendiri dalam tradisi penulisan.
Pada sesi lontar, peserta akan mendapatkan pengenalan mengenai sejarah, karakteristik, dan penggunaan lontar sebagai media tulis. Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik teknik menggurat tulisan pada permukaan lontar.
Teknik tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari sesi sebelumnya. Jika pada daluang peserta mempelajari proses pengolahan bahan hingga menjadi lembaran, pada lontar peserta diperkenalkan pada penggunaan daun yang telah diolah sebagai permukaan untuk menulis.
Perbedaan kedua material tersebut menjadi bagian dari pembelajaran dalam workshop. Daluang dan lontar sama-sama digunakan sebagai media tulis tradisional, tetapi masing-masing memiliki karakter bahan dan proses yang berbeda.
Pendekatan sejarah dan praktik diterapkan pada kedua sesi. Penjelasan mengenai latar belakang, karakteristik, dan penggunaan material diberikan sebelum peserta melakukan praktik. Dengan demikian, peserta memperoleh konteks mengenai material sebelum mencoba proses pengolahan atau teknik penggunaannya.
Workshop menghadirkan narasumber pada masing-masing sesi. Agus Santoso, S.Hum akan menjadi narasumber dalam sesi daluang. Materi yang diberikan mencakup pengenalan daluang serta proses pembuatannya, termasuk pendampingan kepada peserta ketika mengikuti praktik pengolahan material.
Sementara itu, sesi lontar menghadirkan Gaza Triatama Ramdhani. Peserta akan mendapatkan penjelasan mengenai lontar dan penggunaannya sebagai media tulis, kemudian mengikuti praktik teknik menggurat pada permukaan lontar.
Pembagian sesi dan narasumber tersebut memberikan fokus yang berbeda pada setiap material. Peserta akan mengikuti proses pembelajaran mulai dari pengenalan bahan, sejarah dan karakteristik, hingga mencoba secara langsung proses atau teknik yang berkaitan dengan penggunaannya.
Sebanyak 50 peserta akan mengikuti seluruh rangkaian workshop. Mereka akan diperkenalkan pada dua jenis material melalui kegiatan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga melibatkan praktik.
Penempatan daluang dan lontar dalam satu rangkaian kegiatan memungkinkan peserta mengenali perbedaan keduanya secara langsung. Pada daluang, perhatian diarahkan pada proses pengolahan bahan tanaman hingga menjadi lembaran. Pada lontar, pembelajaran berfokus pada karakter daun dan teknik menggurat tulisan pada permukaannya.
Perbedaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran mengenai media tulis tradisional. Pemahaman mengenai material tidak hanya berkaitan dengan bentuk akhirnya, tetapi juga dengan bahan yang digunakan, cara pengolahannya, dan teknik yang diterapkan ketika material tersebut digunakan untuk menulis.
Workshop Pembuatan Kertas Daluang dan Menulis di Media Lontar 2026 di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari menjadi rangkaian pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan mengenai sejarah material dengan praktik pengolahan dan penggunaannya. Peserta akan mengikuti proses pengenalan hingga praktik sesuai dengan karakter masing-masing material.
Melalui kegiatan ini, daluang dan lontar diperkenalkan melalui pengalaman belajar yang menggabungkan penjelasan dan praktik. Peserta tidak hanya mempelajari karakter kedua material, tetapi juga mengikuti proses yang berkaitan dengan bagaimana keduanya dipersiapkan dan digunakan sebagai media tulis tradisional.

























