Kartasura, 5 Maret 2026 – Memperingati turunnya kitab suci Al-Quran tidak harus selalu terpaku pada seremonial di dalam masjid. Santri Sahabat Bumi (SSB) bersinergi dengan Pengurus Ranting Muslimat NU Makamhaji menghadirkan terobosan baru yang inspiratif dalam merayakan Nuzulul Quran tahun ini. Pada Kamis (5/3/2026), kolaborasi kedua komunitas ini sukses meramu kegiatan spiritual dengan aksi ekologis berupa pelatihan pertanian perkotaan (urban farming) guna mendorong ketahanan pangan langsung dari pekarangan rumah tangga.
Kegiatan yang bergulir usai waktu salat Ashar pada pukul 15.30 WIB ini diawali dengan lantunan Asmaul Husna yang syahdu. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan semaan dan khotmil Quran yang dipimpin langsung oleh Ibu Nyai Intan Nafisah, S.Ag.
Suasana religius dan reflektif semakin kental manakala Ibu Nyai Hj. Murtafiah Mubarokah Dian Nafi memberikan mauidhoh hasanah (nasihat baik). Dalam tausiahnya, beliau menegaskan bahwa memuliakan ayat suci harus diwujudkan dalam laku keseharian yang nyata. “Al-Quran itu bukan sekadar bahan bacaan lisan, melainkan kompas penunjuk arah kehidupan. Ini termasuk bagaimana kita bersikap terhadap alam, merawat bumi, serta memastikan keberlanjutan pangan bagi generasi kita,” paparnya penuh makna.

Tak berhenti pada asupan rohani, agenda dilanjutkan dengan sesi inovatif bertajuk “Ngaji Pertanian”. Menghadirkan praktisi dari PT. Agrikencana Perkasa, Drs. Priyo Djatmiko, sesi ini mengajak puluhan ibu-ibu jamaah Muslimat untuk menyelami filosofi dan teknik bercocok tanam di lahan terbatas. Priyo mengingatkan agar masyarakat modern tidak terlepas dari realitas proses panjang di balik makanan yang terhidang di meja makan.

“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen pasif yang sekadar menikmati hasil panen. Ketahuilah keringat dan perjuangan para pahlawan pangan (petani) kita di lapangan. Di tengah situasi saat ini, mari kita bangun kemandirian pangan sendiri dan kurangi ketergantungan pada pihak luar,” imbau Priyo dengan tegas.
Secara aplikatif, Priyo membeberkan rahasia sukses urban farming. Untuk komoditas cabai rawit, ia menyarankan pemotongan cabang pada usia 28 hari guna merangsang tumbuhnya tiga ranting baru yang rimbun. Berbeda halnya dengan cabai keriting yang pertumbuhannya lebih lambat, sehingga pemotongan dini sangat tidak dianjurkan. Ia juga memberikan edukasi krusial mengenai manajemen penyiraman agar media tanam tidak terlalu becek, pemanfaatan bakteri alami untuk mengoptimalkan kompos, hingga tips penanaman ketela pohung yang cukup mengandalkan pupuk organik dan jamur mikoriza.

Guna mengubah teori menjadi aksi konkret, setiap peserta yang hadir dibekali paket tanaman mandiri dalam polybag yang difasilitasi oleh Santri Sahabat Bumi. Paket tersebut berisi dua bibit cabai keriting, dua bibit cabai rawit, serta satu bibit terong untuk langsung dirawat di rumah.
Ketua Santri Sahabat Bumi, M. Ibnu Nafiudin, menggarisbawahi pesan utama dari inisiatif ini. “Gerakan hari ini lahir dari rasa syukur terdalam kita kepada Sang Pencipta. Melalui momentum mulia Nuzulul Quran ini, kami ingin merangkul dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai terbangun kesadarannya akan urgensi kemandirian pangan keluarga,” tuturnya.
Peringatan Nuzulul Quran yang transformatif ini pun ditutup dengan kebersamaan berbuka puasa. Sebuah penutup manis yang membuktikan bahwa integrasi antara kedalaman spiritualitas iman dan aksi nyata pelestarian alam mampu menciptakan resonansi manfaat yang luar biasa bagi ketahanan masyarakat.




















