Seluma, Bengkulu — Sepuluh mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) turun ke Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bilateral Bengkulu Sakato Serawai. KKN ini digelar bersama dua kampus lain, yaitu Universitas Bengkulu (UNIB) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, berlangsung selama sebulan penuh, 1–31 Juli 2026.
Kesepuluh mahasiswa UNP tersebut disebar ke 8 desa, yakni Keban Agung, Pasar Ngalam, Lunjuk, Lubuk Lagan, Sengkuang, Tanjung Seru, Dusun Baru, dan Padang Rambun. Tiap desa didampingi 1-2 mahasiswa, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Sebagai bagian dari kolaborasi ini, tim UNP mengusung konsep Arsitektur Empat Pilar dengan tagline “Basamo Mangko Manjadi”. Keempat pilar itu adalah Ekosistem Digital Nagari (penguatan tata kelola dan literasi digital desa), Pencegahan Stunting (sadar gizi dan posyandu digital), UMKM Naik Kelas (pendampingan dan digitalisasi pemasaran), serta Bank Sampah & Energi Sederhana (ekonomi sirkular mikro).
Di Keban Agung, program unggulan yang diusung adalah Gerakan Bersama Masyarakat Anti Stunting, sejalan dengan Pilar 2: Pencegahan Stunting. Program ini memadukan sosialisasi pencegahan stunting dengan penyediaan Pojok Anti Stunting sebagai media edukasi berkelanjutan, mengintegrasikan kegiatan sosialisasi, pelayanan Posyandu, dan pemantauan tumbuh kembang anak sejak dini.
Sementara itu, mahasiswa yang bertugas di Pasar Ngalam berfokus pada inovasi infrastruktur lewat pembuatan plang sampah, rambu hati-hati, dan reflektor jalan, sejalan dengan Pilar 4: Bank Sampah & Energi Sederhana. Plang sampah dipasang sebagai media edukasi kebersihan lingkungan, sementara rambu hati-hati dan reflektor jalan dipasang di titik-titik rawan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari.
Beralih ke Lunjuk, program digitalisasi dijalankan lewat “Lunjuk Digital Map”, sejalan dengan Pilar 1: Ekosistem Digital Nagari. Mahasiswa memetakan fasilitas umum, UMKM, dan objek wisata desa ke Google Maps, dimulai dari survei lapangan, pelatihan input data bagi perangkat desa dan karang taruna, hingga sosialisasi ke masyarakat agar peta digital ini bisa dimanfaatkan untuk promosi dan perencanaan pembangunan desa.
Adapun di Lubuk Lagan, mahasiswa menyusun Majalah Desa Lubuk Lagan sebagai media informasi dan dokumentasi, sejalan dengan Pilar 1: Ekosistem Digital Nagari. Majalah ini memuat profil desa, potensi wisata, UMKM, budaya, hingga kegiatan pemerintahan, sekaligus jadi sarana promosi desa kepada masyarakat luas.
Program di Sengkuang berfokus pada pengelolaan sampah, sejalan dengan Pilar 4: Bank Sampah & Energi Sederhana. Mahasiswa mendampingi warga membuat pupuk organik dari kotoran ternak yang difermentasi menggunakan larutan EM4, dicampur sekam padi dan serbuk kayu, lalu didiamkan selama kurang lebih dua minggu sebelum bisa digunakan sebagai pupuk tanaman. Selain itu, mahasiswa juga membentuk bank sampah di SDN 72 Desa Sengkuang sebagai sarana edukasi memilah sampah sejak dini bagi siswa, serta memasang papan plang sampah di titik-titik strategis desa sebagai penanda sekaligus imbauan agar warga tidak membuang sampah sembarangan.
Masih dalam pilar yang sama, mahasiswa di Tanjung Seru menggelar edukasi dan praktik pembuatan pupuk kompos pada Jumat, 17 Juli 2026 di halaman Kantor Desa. Setelah berkoordinasi dengan Kepala Desa, perangkat desa, dan Karang Taruna, mahasiswa mendemonstrasikan proses pembuatan kompos menggunakan ember komposter, mulai dari pencacahan sampah organik hingga penambahan kotoran ternak dan larutan EM4. Kegiatan ini disambut antusias warga, meski masih ada kendala berupa rendahnya kesadaran sebagian warga dalam memilah sampah organik dan anorganik.
Beda lagi dengan Dusun Baru, yang programnya diarahkan pada digitalisasi UMKM lewat pembuatan poster promosi digital, sejalan dengan Pilar 3: UMKM Naik Kelas. Mahasiswa membantu pelaku UMKM mulai dari pengumpulan informasi usaha, pengambilan foto produk, hingga perancangan desain poster yang bisa dipakai di media sosial dan aplikasi perpesanan untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Terakhir, di Kelurahan Padang Rambun, mahasiswa menjalankan program Edukasi Pencegahan Stunting untuk Ibu Hamil dan Balita, sejalan dengan Pilar 2: Pencegahan Stunting. Kegiatan ini mencakup penyuluhan, demonstrasi menu PMT, serta pendampingan posyandu, dengan harapan dapat menekan angka stunting di wilayah tersebut.
Delapan program yang tersebar di delapan desa ini menunjukkan bagaimana satu kerangka besar — Arsitektur Empat Pilar — bisa diterjemahkan secara berbeda-beda sesuai kebutuhan tiap wilayah, mulai dari urusan sampah, gizi anak, hingga pemasaran UMKM. Warga dan perangkat desa pun menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN selama sebulan penuh ini, terlihat dari antusiasme mereka mengikuti berbagai kegiatan yang digelar, mulai dari sosialisasi, pelatihan, hingga praktik langsung di lapangan. Harapannya, program-program ini tidak berhenti begitu masa KKN usai, melainkan terus dijalankan dan dikembangkan sendiri oleh warga, sebagai bukti nyata bahwa perubahan kecil di tingkat desa bisa berdampak panjang kalau dikerjakan bersama-sama — sejalan dengan semangat “Basamo Mangko Manjadi” yang menjadi ruh dari seluruh rangkaian KKN ini.





















