Bengkulu – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bengkulu mematangkan persiapan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Kelayanbinter (Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling Integrasi) melalui rapat koordinasi panitia yang dipimpin langsung oleh Kepala Bapas Kelas I Bengkulu, Aidil Jumidi, bersama jajaran panitia pelaksana, Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memastikan pelaksanaan FGD berjalan terencana dan mampu mendukung penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pelayanan pemasyarakatan.
Rapat persiapan tersebut membahas pemantapan teknis dan koordinasi antaranggota panitia guna memastikan setiap tahapan kegiatan dapat terlaksana secara efektif. Dalam arahannya, Aidil Jumidi menekankan pentingnya tanggung jawab, komunikasi, serta kerja sama seluruh panitia agar persiapan FGD berjalan optimal dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Aidil, persiapan yang matang merupakan bagian penting dalam mewujudkan kegiatan yang tidak hanya berjalan tertib secara administratif, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, setiap anggota panitia diharapkan memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing serta membangun koordinasi yang solid dalam mendukung pelaksanaan kegiatan.
Kelayanbinter merupakan wadah kolaborasi lintas sektor yang dikembangkan Bapas untuk memperkuat layanan bimbingan dan konseling integrasi bagi Klien Pemasyarakatan. Melalui sinergi dengan berbagai pihak terkait, program ini diharapkan dapat mendukung proses reintegrasi sosial, sehingga klien yang telah menjalani masa pidana dapat kembali diterima, memperoleh kesempatan untuk berkembang, dan berperan secara positif di tengah masyarakat.
Selain mendukung pendampingan Klien Pemasyarakatan, Kelayanbinter juga memiliki relevansi dalam mendukung pengawasan dan pelaksanaan pidana kerja sosial bagi terpidana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelaksanaan pidana kerja sosial diharapkan dapat mendorong tanggung jawab sosial, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan prinsip pembinaan dan pemulihan hubungan sosial.
Kepala Bapas Kelas I Bengkulu, Aidil Jumidi, menyampaikan bahwa keberhasilan program pemasyarakatan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, tidak hanya Bapas, tetapi juga pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga sosial, dan masyarakat.
“Persiapan FGD Kelayanbinter ini menjadi langkah penting untuk membangun koordinasi dan menyatukan pemahaman seluruh pihak yang nantinya terlibat. Kami ingin kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang memberikan manfaat bagi Klien Pemasyarakatan dan masyarakat. Dengan dukungan bersama, proses reintegrasi sosial dan pelaksanaan pidana kerja sosial diharapkan dapat berjalan lebih optimal,” ujar Aidil.
Melalui rapat persiapan ini, Bapas Kelas I Bengkulu menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan melalui pelayanan yang profesional, berintegritas, dan akuntabel. FGD Kelayanbinter diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat sinergi, menyamakan persepsi, serta merumuskan langkah kolaboratif yang berkelanjutan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendekatan pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan, pemulihan hubungan sosial, dan pemberdayaan. Dengan kolaborasi yang kuat, Klien Pemasyarakatan diharapkan memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk kembali berdaya, sementara masyarakat turut merasakan manfaat dari pelaksanaan program pemasyarakatan yang terarah dan bertanggung jawab.(IH)






















