Siswa SMKN 5 Surabaya mempelajari perbedaan antara membuat produk dan membuat pelanggan memahami manfaat hingga mengambil keputusan pembelian.
SURABAYA, 9 September 2026 — Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani mengajak siswa SMKN 5 Surabaya berhenti hanya menjelaskan produk dan mulai mengomunikasikan solusi bagi pelanggan.
Pesan tersebut disampaikan dalam Sharing Session & Workshop “Dari Produk Jadi Cuan” yang diselenggarakan untuk meningkatkan penjualan produk Student Company dan Teaching Factory (TEFA), Rabu, 9 September 2026.
Kepala SMKN 5 Surabaya, Drs. Edy Prayoga, M.MTi., menilai kemampuan memahami pasar merupakan bagian penting dalam pembelajaran berbasis produksi dan kewirausahaan.
“Kualitas produk tetap menjadi fondasi. Namun, siswa juga perlu mampu menjelaskan nilai, mengenali kebutuhan konsumen, dan memastikan produk yang dibuat benar-benar memberi manfaat bagi penggunanya,” ujar Edy Prayoga.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri SMKN 5 Surabaya, Melinda Nurmawanti, S.Gr., mengatakan bahwa perspektif pelanggan perlu hadir sejak proses perencanaan produk.
“Hubungan dengan industri mengajarkan bahwa pasar tidak hanya menilai apa yang dibuat, tetapi juga relevansi, kemudahan, pelayanan, dan konsistensinya. Karena itu, siswa perlu terbiasa mendengar masukan serta menggunakannya untuk memperbaiki produk dan penawaran,” kata Melinda.
Ahmad menjelaskan bahwa siswa sering memulai penawaran dengan bahan, ukuran, warna, atau spesifikasi. Padahal, pelanggan lebih mudah tertarik ketika mengetahui persoalan apa yang dapat diselesaikan.
Ia mencontohkan produk snack box. Penawaran yang hanya menyebut pilihan menu dan harga akan berbeda dampaknya dengan penawaran yang menjelaskan bahwa layanan tersebut membantu panitia acara menyiapkan konsumsi secara praktis, tepat waktu, dan tidak merepotkan.
“Pelanggan tidak membeli fitur. Mereka membeli manfaat, kemudahan, rasa aman, dan hasil yang ingin diperoleh. Tugas pemasar adalah menerjemahkan spesifikasi menjadi alasan membeli,” ujar Ahmad.
Peserta kemudian diajak menggunakan pertanyaan utama sebelum membuat komunikasi pemasaran: masalah apa yang sedang dialami pelanggan dan bagaimana produk membantu menyelesaikannya?
Selain manfaat, kepercayaan juga menjadi bagian penting. Testimoni, cerita proses produksi, bukti kualitas, kemudahan pemesanan, serta pelayanan setelah pembelian membantu pelanggan menilai produk dengan risiko yang lebih kecil.
Workshop tersebut menegaskan bahwa peningkatan penjualan bukan semata-mata persoalan membuat promosi lebih sering. Penjualan bertumbuh ketika produk yang baik dipertemukan dengan kebutuhan yang tepat melalui komunikasi yang relevan dan pelayanan yang konsisten.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKSN Digital Marketing 2026. Ia aktif sebagai trainer, konsultan, guru, dan narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.























