Sales tetap menjadi profesi penting di era Artificial Intelligence karena penjualan bukan sekadar menawarkan produk. Sales berperan memahami kebutuhan pelanggan, memberikan solusi, membangun kepercayaan, dan menciptakan nilai bagi perusahaan.
KEBUMEN, 14 Agustus 2026 — Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani mengajak siswa SMK Negeri 1 Kebumen mengubah pandangan terhadap profesi sales. Sales bukan pekerjaan buangan atau pilihan terakhir, melainkan profesi strategis yang mempunyai peluang karier luas di tengah perkembangan Artificial Intelligence dan ekonomi digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam sharing session bertema “Sales Naik Kelas: Menjual Masa Depan” yang berlangsung di SMK Negeri 1 Kebumen, Jumat, 14 Agustus 2026, pukul 08.00–11.00 WIB.
Kegiatan tersebut membahas tiga materi utama, yaitu Sales Itu Keren, AI adalah Senjata, dan Belajar dari Kompetisi. Para siswa juga diajak memahami penggunaan AI untuk membantu membuat konten, artikel, visual, video, dan materi promosi.
Question: Apakah Profesi Sales Masih Menjanjikan di Era AI?
Artificial Intelligence kini dapat membantu perusahaan menganalisis data, membuat konten, menyusun penawaran, melakukan otomatisasi, dan mempercepat berbagai aktivitas pemasaran.
Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah profesi sales masih dibutuhkan ketika teknologi semakin cerdas?
Pertanyaan yang sama juga muncul di kalangan siswa ketika mempertimbangkan pilihan karier setelah lulus. Profesi sales masih sering diasosiasikan dengan pekerjaan yang hanya mengejar target, menawarkan produk secara agresif, atau menjadi pilihan terakhir ketika seseorang tidak memperoleh pekerjaan lain.
Stigma tersebut membuat banyak anak muda tertarik pada hasil yang diperoleh para profesional penjualan, tetapi enggan menyebut sales sebagai cita-cita.
Answer: AI Mengubah Cara Kerja Sales, Bukan Menghilangkan Fungsinya
Ahmad Madani menjelaskan bahwa AI dapat mengambil alih sebagian pekerjaan administratif dan membantu meningkatkan produktivitas. Namun, fungsi sales dalam memahami pelanggan, membangun hubungan, memberikan rekomendasi, bernegosiasi, dan menciptakan kepercayaan tetap dibutuhkan.
“Yang berisiko hilang bukan profesi sales, melainkan cara lama menjadi sales. Sales yang tidak memahami digital, tidak mau belajar, dan hanya mengandalkan cara konvensional akan semakin sulit bersaing,” ujar Ahmad Madani.
Menurutnya, sales masa depan harus mampu menggabungkan kekuatan manusia dengan teknologi.
AI dapat membantu mencari ide konten, menyusun materi promosi, melakukan riset awal, membuat visual, mengembangkan video, menyiapkan presentasi, dan membangun personal branding. Namun, keputusan, evaluasi, empati, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.
“AI adalah senjata, bukan otak pengganti. Polanya harus manusia berpikir, AI membantu, manusia menilai, kemudian manusia mengeksekusi. Bukan AI berpikir dan manusia hanya melakukan copy-paste,” jelasnya.
Story: Semua Ingin Sukses, tetapi Mengapa Takut Menjadi Sales?
Sharing session dimulai dengan pertanyaan sederhana.
“Siapa di sini yang ingin sukses?”
Hampir seluruh siswa mengangkat tangan.
Mereka ingin mempunyai penghasilan yang baik, hidup mandiri, membahagiakan orang tua, mempunyai rumah, kendaraan, dan kesempatan mewujudkan berbagai impian.
Namun, suasana berubah ketika Ahmad Madani mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Siapa yang ingin menjadi sales?”
Sebagian siswa diam. Ada yang tertawa, saling menunjuk, bahkan spontan menjawab, “Ogah, Pak!”
Menurut Ahmad Madani, respons tersebut memperlihatkan adanya kontradiksi. Banyak orang menginginkan kesuksesan dan penghasilan besar, tetapi menghindari salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan bisnis.
Masyarakat mengagumi salesperson otomotif yang mampu menjual ratusan unit, tenaga penjualan properti yang menangani transaksi bernilai besar, account executive yang menjual solusi perusahaan, dan business development yang membuka pasar baru. Namun, nama profesi sales sendiri masih sering dipandang rendah.
“Sales harus naik kelas. Bukan hanya cara kerjanya yang harus berubah, tetapi juga cara kita memandang profesinya,” kata Ahmad Madani.
Explanation: Sales Profesional Bukan Sekadar Pandai Berbicara
Salah satu anggapan yang dikoreksi dalam sharing session tersebut adalah bahwa sales harus menjadi orang yang paling banyak bicara.
Sales profesional justru harus mampu mendengarkan, mengajukan pertanyaan, memahami masalah, dan memberikan solusi yang sesuai.
Seorang sales tidak cukup hanya mengatakan produknya bagus. Ia perlu bertanya mengenai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi pelanggan.
Menurut Ahmad Madani, orang tidak hanya membeli produk. Pelanggan juga membeli rasa aman dan kepercayaan kepada orang yang memberikan rekomendasi.
Dua sales dapat menawarkan produk, harga, dan promosi yang sama. Namun, pelanggan cenderung memilih salesperson yang jujur, mampu mendengarkan, tidak memaksa, dan berani mengatakan apabila sebuah produk memang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Karena itu, kemampuan membangun trust menjadi salah satu aset terbesar seorang profesional penjualan.
“Teknik closing dapat berubah. Platform dapat berganti. Teknologi terus berkembang. Namun, trust tetap menjadi fondasi hubungan manusia,” jelasnya.
AI sebagai Booster Produktivitas Sales
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada pemanfaatan AI untuk mendukung pekerjaan sales dan pemasaran.
AI dapat digunakan untuk:
- menggali ide konten promosi;
- menyusun draft caption dan script penjualan;
- membantu riset kebutuhan pelanggan;
- mengembangkan konsep kampanye;
- membuat visual dan video;
- menyiapkan bahan presentasi;
- serta mendukung personal branding.
Namun, siswa diingatkan agar tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.
AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas hasil tetap dipengaruhi oleh kemampuan penggunanya dalam memberikan instruksi, memeriksa informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan.
Formula penggunaan AI yang diperkenalkan adalah:
Manusia berpikir → AI membantu → Manusia menilai → Manusia mengeksekusi
Belajar dari Kompetisi, Bukan Hanya Mengejar Piala
Selain membahas profesi sales dan AI, Ahmad Madani mengajak siswa memandang kompetisi sebagai laboratorium pembelajaran.
Sebagai Juri Lomba Kompetensi Siswa bidang Pemasaran Digital Kemendikdasmen sejak 2019, ia melihat bahwa bakat dan nilai akademik tinggi tidak otomatis menentukan kesiapan seseorang dalam kompetisi.
Siswa yang berlatih secara konsisten, melakukan simulasi, memperbaiki presentasi, mempelajari produk, mencoba AI, dan menambah jam terbang dapat tampil lebih siap dibandingkan siswa berbakat yang jarang berlatih.
“Kompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah. Kompetisi adalah tempat belajar proses, melatih mental, mengasah kemampuan, dan menambah pengalaman,” ujarnya.
Ia merumuskan kesiapan menghadapi kompetisi dan dunia kerja dalam formula:
Kompetensi + Mental + Disiplin + AI + Jam Terbang = Juara
Kompetensi memberikan kemampuan. Mental membantu seseorang menghadapi tekanan. Disiplin membangun konsistensi. AI memberikan daya ungkit. Sementara jam terbang membentuk kesiapan menghadapi berbagai situasi.
Siswa SMK Pemasaran Memiliki Peluang Karier Luas
Ahmad Madani menegaskan bahwa siswa SMK bidang pemasaran berada pada posisi strategis karena hampir semua bisnis membutuhkan pelanggan.
Mereka mempelajari kemampuan memahami konsumen, memasarkan produk, berkomunikasi, menjual, membangun hubungan, dan menciptakan nilai.
Marketing membawa perhatian. Sales mengubah peluang menjadi transaksi. Customer service menjaga hubungan. Digital marketing memperluas jangkauan. AI meningkatkan produktivitas.
Ketika kompetensi tersebut digabungkan, lulusan pemasaran dapat memasuki berbagai jalur karier, mulai dari salesperson, account executive, digital marketer, content creator, customer relationship officer, business development, hingga entrepreneur.
Conclusion: Sales Naik Kelas Dimulai dari Perubahan Mindset
Sharing session tersebut tidak hanya mengajarkan teknik menjual, tetapi mendorong siswa mengubah cara pandang terhadap profesi sales dan kemampuan dirinya.
Sales modern harus berkembang dari sekadar penjual menjadi problem solver, dari mengejar pelanggan menjadi membangun kepercayaan, serta dari bekerja sepenuhnya secara manual menjadi mampu memanfaatkan teknologi.
“Profesi yang hebat membutuhkan profesional yang hebat. Sales harus memahami pelanggan, menguasai komunikasi, membangun trust, menggunakan AI, memperkuat personal branding, dan terus menambah jam terbang,” kata Ahmad Madani.
Menurutnya, nilai rapor tetap penting, tetapi tidak menjadi satu-satunya penentu keberhasilan karier.
Dunia kerja juga menilai kemampuan belajar, berkomunikasi, beradaptasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, menggunakan teknologi, dan memberikan nilai kepada orang lain.
Sales masa depan dapat dirumuskan melalui formula:
Trust + Kompetensi + Digital + AI + Jam Terbang
Karena itu, Sales Naik Kelas bukan sekadar slogan. Sales Naik Kelas merupakan perubahan dari menjual produk menjadi menciptakan solusi, dari sekadar mengejar target menjadi membangun hubungan, dan dari takut menghadapi AI menjadi mampu menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas.
Masa depan tidak hanya terbuka bagi mereka yang paling pintar atau paling berbakat. Masa depan lebih terbuka bagi mereka yang terus belajar, berani beradaptasi, dapat dipercaya, dan mampu menciptakan nilai.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, dosen Ilmu Komunikasi, dan content creator. Ia merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), serta sejak 2019 dipercaya menjadi Juri Lomba Kompetensi Siswa bidang Pemasaran Digital Kemendikdasmen.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.
























