Pembelajaran pemasaran yang relevan dengan kebutuhan industri tidak cukup hanya mengajarkan teori. Siswa harus memperoleh pengalaman nyata dalam membuat konten, menjual, berkomunikasi dengan pelanggan, membaca data, menggunakan AI, dan menyelesaikan masalah.
SEMARANG, 14 Agustus 2026 — Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani mendorong guru pemasaran mengubah pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi pengalaman yang mempersiapkan siswa menghadapi pekerjaan nyata.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Digital Marketing e-Guru.id bertema “Merancang Pembelajaran Pemasaran yang Bermakna Sesuai Kebutuhan Industri”, Jumat, 14 Agustus 2026.
Seminar berdurasi empat jam pelajaran tersebut membahas kesenjangan antara penguasaan teori di ruang kelas dan kemampuan lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Jika Teori 4P Penting, Mengapa Lulusan Masih Bingung Saat Bekerja?
Hampir setiap siswa pemasaran mempelajari 4P—Product, Price, Place, dan Promotion—serta STP Segmenting, Targeting, dan Positioning.
Namun, kemampuan menjelaskan teori belum tentu membuat siswa berani menentukan harga, membuat konten, melakukan live selling, membalas pelanggan, membaca data kampanye, atau menghadapi komplain.
Menurut Ahmad Madani, persoalan muncul ketika pendidikan menyamakan ketuntasan materi dengan kesiapan kerja.
“Tuntas materi tidak selalu berarti siap kerja. Industri tidak membayar seseorang karena ia hafal teori. Industri membayar seseorang karena ia mampu menyelesaikan pekerjaan,” ujar Ahmad Madani.
Teori Harus Bergerak Menjadi Tindakan dan Pengalaman
Teori tetap dibutuhkan sebagai dasar berpikir. Namun, pembelajaran tidak boleh berhenti pada definisi, ujian, dan nilai.
Ketika mempelajari segmentasi, misalnya, siswa perlu diberi masalah nyata: menentukan target pasar sebuah produk, membaca karakter konsumen, memperhitungkan daya beli, memilih media, dan membagi anggaran promosi.
Dengan pendekatan tersebut, teori berubah menjadi strategi dan keputusan.
Ahmad Madani merumuskan proses pembelajaran pemasaran dalam tiga tahap:
Kepala → Tangan → Hati
Pada tahap kepala, siswa memahami konsep.
Pada tahap tangan, siswa menggunakan konsep tersebut untuk membuat konten, melakukan presentasi, menjual produk, membaca data, dan menggunakan teknologi.
Pada tahap hati, siswa mengalami penolakan, kegagalan, tekanan, evaluasi, dan proses mencoba kembali.
“Pengalaman tidak hanya membangun keterampilan. Pengalaman juga membentuk mental, karakter, keberanian, dan ketahanan,” jelasnya.
Dua Lulusan dengan Kesiapan Berbeda
Dalam seminar tersebut, Ahmad Madani menggambarkan dua lulusan pemasaran.
Lulusan pertama mempunyai nilai tinggi dan mampu menjelaskan teori dengan baik. Namun, ketika perusahaan memintanya menghubungi calon pelanggan, tangannya gemetar. Ia takut salah, takut ditolak, dan tidak mengetahui cara membuka percakapan.
Lulusan kedua mungkin mempunyai nilai akademik biasa. Namun, selama sekolah ia pernah menjaga stan, menawarkan produk, melakukan live selling, membuat konten, membantu usaha keluarga, dan menghadapi pelanggan.
Ketika diberikan tugas yang sama, lulusan kedua lebih siap karena mempunyai jam terbang.
“Perbedaannya bukan sekadar kecerdasan. Lulusan kedua pernah melakukan, pernah gagal, dan pernah memperbaiki kesalahan,” kata Ahmad Madani.
Bagaimana Membuat Pembelajaran Pemasaran Lebih Relevan?
Pembelajaran pemasaran perlu bergerak dari slide menuju data dan pengalaman nyata.
Guru dapat memberikan sebuah produk, target audiens, tujuan, anggaran, dan batas waktu. Siswa kemudian diminta membuat kampanye, memublikasikan konten, membaca hasil, dan melakukan evaluasi.
Ketika konten sepi atau tidak menghasilkan respons, siswa tidak langsung dinilai gagal. Guru dapat mengajak mereka menelaah penyebabnya:
- Apakah pembukanya kurang kuat?
- Apakah audiensnya tidak tepat?
- Apakah visualnya kurang menarik?
- Apakah pesannya terlalu umum?
- Apakah ajakan bertindaknya tidak jelas?
Proses tersebut mengajarkan bahwa pemasaran bukan hanya membuat konten, tetapi juga:
Mengukur → Mengevaluasi → Memperbaiki
Guru juga dapat menjadikan UMKM lokal sebagai laboratorium pembelajaran. Siswa diberi tugas membantu visibilitas digital UMKM melalui riset konsumen, pembuatan konten, pemilihan kanal, publikasi, dan evaluasi data.
Asesmen Harus Mengukur Apa yang Bisa Dilakukan Siswa
Ahmad Madani mengingatkan bahwa asesmen pemasaran tidak cukup hanya mengukur pengetahuan melalui pilihan ganda.
Siswa dapat memperoleh nilai tinggi ketika menjawab definisi handling complaint. Namun, hal itu belum membuktikan bahwa ia mampu menghadapi pelanggan yang benar-benar marah.
Karena itu, asesmen vokasi perlu memberi ruang lebih besar bagi:
- portofolio;
- simulasi;
- proyek;
- roleplay;
- presentasi;
- praktik penjualan;
- komunikasi;
- kolaborasi;
- dan problem solving.
Portofolio dapat berupa konten, video, kampanye, presentasi, script live selling, landing page, analisis data, atau laporan proyek.
Sekolah Harus Menjadi Laboratorium Calon Profesional
Perubahan teknologi, platform, dan perilaku konsumen membuat sekolah tidak mungkin hanya mengejar penguasaan setiap aplikasi baru.
Tujuan pendidikan harus lebih tinggi: membentuk siswa yang mampu belajar, beradaptasi, memahami manusia, menggunakan teknologi, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah.
Guru pemasaran tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi. Guru perlu menjadi learning experience designer yang merancang pengalaman agar siswa berpikir, mencoba, gagal, mengevaluasi, dan berkembang.
“Pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa tidak hanya mengatakan ‘saya tahu’, tetapi mampu mengatakan ‘saya pernah melakukannya’,” kata Ahmad Madani.
Pendidikan vokasi harus mempersiapkan siswa menghadapi dunia nyata, bukan hanya menghadapi soal ujian. Karena industri tidak membutuhkan penghafal teori, tetapi profesional yang mampu menciptakan nilai dan menyelesaikan pekerjaan.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, dosen Ilmu Komunikasi, dan content creator. Ia merupakan Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Sekretaris Jenderal KOMISI, serta Juri LKS-Dikmen bidang Pemasaran Digital Nasional.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.
























