Yogyakarta, 22 September 2026 — Pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta di SD INTIS Yogyakarta pada 20 Juli–22 September 2026 tidak hanya melibatkan kegiatan asistensi pembelajaran di kelas, tetapi juga pendampingan peserta didik dalam aktivitas keseharian. Salah satu pengalaman menarik selama pelaksanaan PK adalah melihat kreativitas peserta didik dalam menciptakan permainan menggunakan benda-benda yang tersedia di lingkungan mereka. Salah satunya adalah permainan “TungTingTas”, yang mereka ciptakan dengan memanfaatkan papan dakon atau congklak yang sudah tidak memiliki biji dan dua buah lego. Aktivitas tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan anak dalam menciptakan permainan dari benda sederhana, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan interaksi sosial sekaligus mempraktikkan nilai keadilan, aturan, dan sportivitas yang berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 16: Peace, Justice and Strong Institutions. SDG 16 mencakup pembangunan masyarakat yang damai dan inklusif serta mendorong pengambilan keputusan yang partisipatif dan inklusif. United Nations – Sustainable Development Goals
Permainan TungTingTas merupakan permainan satu lawan satu yang menggabungkan permainan batu-gunting-kertas dengan papan dakon. Dua pemain menggunakan lego sebagai penanda dan memajukannya satu lubang setiap kali memenangkan permainan “TungTingTas” hingga mencapai sisi lawan. Permainan ini berlangsung selama beberapa minggu dan secara konsisten menarik peserta didik lain untuk menyaksikan maupun ikut bermain. Peserta didik bahkan membentuk sistem peringkat informal berdasarkan kemenangan, dengan posisi “raja” yang dapat berubah ketika pemain lain berhasil mengalahkannya. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK mendampingi peserta didik ketika terjadi perselisihan, mengingatkan pentingnya mengikuti aturan yang telah disepakati, serta mendorong peserta didik untuk bermain secara adil dan tidak memilih-milih teman. Proses bermain tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkomunikasi, bekerja sama, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik dengan teman.
Selama permainan berlangsung, peserta didik menunjukkan kemampuan untuk mengawasi dan mempertahankan aturan yang mereka gunakan bersama. Mereka berani menegur teman yang dianggap melangkah lebih dari ketentuan, mempertanyakan pelaksanaan “TungTingTas” yang tidak adil, serta membela teman ketika muncul tuduhan kecurangan. Proses tersebut menunjukkan bahwa nilai keadilan dan penyelesaian konflik dapat dipelajari melalui pengalaman sehari-hari, bahkan dalam permainan sederhana yang diciptakan sendiri oleh anak. Pendampingan mahasiswa turut membantu peserta didik menyelesaikan perselisihan tanpa mengesampingkan hak teman untuk bermain. Praktik tersebut memiliki keterkaitan dengan SDG 16, khususnya nilai keadilan, inklusivitas, partisipasi, dan penyelesaian konflik secara damai. Target 16.3 menekankan pentingnya rule of law dan akses terhadap keadilan, sedangkan Target 16.7 menekankan pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif. United Nations – Goal 16 Targets
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan tidak selalu harus hadir dalam bentuk program khusus atau pembelajaran yang secara eksplisit menggunakan istilah SDGs. Nilai-nilai tersebut dapat tumbuh melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Kreativitas anak dalam mengubah benda di sekitarnya menjadi permainan memberikan ruang bagi mereka untuk belajar sekaligus membangun aturan dan kesepakatan bersama. Melalui permainan yang mereka ciptakan sendiri dan pendampingan yang tepat, peserta didik memperoleh kesempatan untuk belajar mengenai aturan, keadilan, sportivitas, partisipasi, dan penyelesaian konflik. Ke depan, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari praktik pembelajaran yang terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkreasi dan belajar melalui pengalaman sosial yang nyata dan bermakna.
Saya menuliskan ini untuk membuka ruang diskusi bahwa pengembangan SDGs dapat dimulai dari ruang-ruang kecil di pojok kelas dengan cara bermain bersama anak-anak.






















