Madiun — Lima mahasiswa Politeknik Negeri Madiun (PNM) mengembangkan Technowalk, sebuah smart walker yang menggabungkan teknologi Computer Vision dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pemantauan pola berjalan pasien Spinal Cord Injury (SCI) atau cedera sumsum tulang belakang.
Technowalk dikembangkan oleh Muhamad Mas’ud bersama Arya Pramana M., Annisa Salsa Bila Z., Aulia Ervi W.I., dan Faisa Al Fatika K. Pengembangan dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 dengan bimbingan Sulfan Bagus Setyawan, S.ST., M.T.
Inovasi ini berangkat dari kebutuhan akan alat bantu berjalan yang tidak hanya membantu pengguna dalam menjaga keseimbangan, tetapi juga dapat memberikan informasi mengenai pergerakan selama proses rehabilitasi.
Menghadirkan Pemantauan Gait pada Walker
Technowalk memanfaatkan teknologi Computer Vision untuk membantu mendeteksi pergerakan tubuh pengguna. Sistem menggunakan marker pada beberapa bagian tungkai untuk memperoleh informasi mengenai pergerakan sendi.
Data tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis beberapa parameter gait, termasuk pergerakan dan sudut sendi hip, knee, dan ankle, serta parameter temporal gait.
Dalam prosesnya, NVIDIA Jetson Nano digunakan untuk pemrosesan citra dan analisis gerakan. Sementara itu, ESP32 digunakan untuk membaca dan mengirimkan data sensor sebagai bagian dari sistem IoT.
Pada bagian pegangan walker juga terdapat Force Sensitive Resistor (FSR) yang digunakan untuk mendeteksi tekanan genggaman pengguna. Informasi tersebut menjadi data tambahan mengenai interaksi pengguna dengan walker selama digunakan.
Melalui integrasi tersebut, Technowalk dikembangkan agar informasi mengenai pola berjalan dapat diperoleh secara digital dan menjadi data pendukung dalam proses pemantauan rehabilitasi.
Mengembangkan Smart Walker dengan Biaya Lebih Terjangkau
Selain mengembangkan fungsi pemantauan, tim juga mempertimbangkan aspek biaya dalam pembuatan Technowalk.
Melalui pemilihan komponen dan integrasi sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan, Technowalk dirancang sebagai smart walker dengan biaya yang relatif lebih terjangkau. Konsep tersebut memungkinkan fungsi alat bantu berjalan dan pemantauan berbasis teknologi berada dalam satu perangkat.
Aspek keterjangkauan menjadi salah satu pertimbangan tim agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya memiliki kemampuan teknologi, tetapi juga mempunyai peluang untuk dikembangkan dengan biaya yang lebih ekonomis.
Technowalk tetap ditempatkan sebagai alat pendukung dalam proses rehabilitasi. Penilaian kondisi pasien dan penentuan program terapi tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Mendapat Tinjauan dari Tenaga Kesehatan
Pengembangan Technowalk tidak hanya dilakukan melalui perancangan dan pengujian teknis. Tim juga melibatkan tenaga kesehatan untuk memperoleh masukan mengenai penggunaan alat dalam proses rehabilitasi.
Tim melakukan tinjauan prototipe di RSUD Kota Madiun bersama dokter Poli Rehabilitasi Medik dan tenaga kesehatan. Pada kegiatan tersebut, tim memperkenalkan Technowalk serta menjelaskan fungsi dan mekanisme kerja alat.
Selain kegiatan tinjauan, Technowalk juga diuji bersama fisioterapis. Dalam proses pengujian tersebut, alat sempat digunakan pada pasien dengan pendampingan fisioterapis.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada tim untuk melihat penggunaan prototipe secara langsung sekaligus memperoleh masukan dari tenaga kesehatan. Masukan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan Technowalk.
Kolaborasi Teknologi dan Rehabilitasi
Keterlibatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam pengembangan Technowalk. Tim tidak hanya memperhatikan kemampuan teknologi dalam mendeteksi dan mengolah data, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana alat dapat digunakan dalam lingkungan rehabilitasi.
Bagi tim mahasiswa, proses tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu di bidang komputer kontrol dan elektronika pada kebutuhan di bidang kesehatan. Pengalaman melakukan tinjauan dan pengujian bersama tenaga kesehatan juga memberikan gambaran mengenai aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan alat.
Melalui proses tersebut, Technowalk terus dievaluasi agar fungsi dan penggunaannya dapat semakin sesuai dengan kebutuhan.
Terus Dikembangkan dan Dievaluasi
Technowalk masih terus dikembangkan melalui proses evaluasi dan penyempurnaan. Tinjauan dari dokter, fisioterapis, serta pengalaman penggunaan alat pada pasien menjadi bagian dari proses pengembangan prototipe.
Tim berharap Technowalk dapat terus disempurnakan sehingga mampu memberikan dukungan dalam pemantauan pola berjalan pasien SCI selama proses rehabilitasi.
Pengembangan ini juga menjadi bentuk upaya mahasiswa PNM dalam menghubungkan penerapan teknologi dengan kebutuhan nyata di bidang kesehatan.























