Probolinggo, Jumat, 31 Juli 2026. Penutupan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Pondok Pesantren Al-Mashduqiah tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya rangkaian perlombaan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi seluruh santri untuk memahami makna prestasi, pentingnya kedisiplinan, serta membangun keunggulan diri sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mashduqiah, KH. Dr. Mukhlisin Sa’ad, M.A menegaskan bahwa masa depan bangsa maupun individu tidak lagi ditentukan oleh besarnya jumlah penduduk ataupun melimpahnya sumber daya alam. Yang akan menentukan adalah keunggulan kompetitif, yakni kemampuan seseorang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan inovasi sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sebagai ilustrasi, beliau mengangkat perbandingan antara besi tua dan mobil mewah. Menurutnya, satu ton besi tua mungkin hanya bernilai puluhan juta rupiah. Namun, ketika besi tersebut diolah melalui ilmu, teknologi, dan kecerdasan menjadi sebuah kendaraan, nilainya dapat meningkat berkali-kali lipat.
“Keunggulan kita jangan hanya mampu mengumpulkan besi-besi tua. Kita harus mampu mengolahnya. Yang sejahtera adalah mereka yang memiliki ilmu dan kecerdasan untuk menciptakan nilai tambah,” tegas beliau.
Melalui analogi tersebut, para santri diajak untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, melainkan menjadi pribadi yang produktif, kreatif, dan mampu melahirkan karya yang bermanfaat. Persaingan, menurut beliau, bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi menjadi sarana meningkatkan kualitas diri agar kelak dapat berbagi manfaat melalui ilmu, tenaga, maupun harta.
Pada kesempatan itu, beliau juga mengingatkan bahwa piala dan trofi yang diterima para juara hanyalah simbol penghargaan. Nilai yang sesungguhnya terletak pada proses panjang yang melahirkan prestasi, mulai dari kerja keras, latihan, kedisiplinan, kolaborasi, hingga semangat pantang menyerah.
“Trofi hanyalah tanda. Yang lebih penting adalah apa yang ditandai oleh trofi itu, yaitu prestasi, kerja keras, sinergi, dan semangat untuk terus berkembang,” ungkapnya.
Lebih jauh, beliau mengajak seluruh santri untuk menjaga semangat belajar. Rasa prihatin disampaikan ketika masih menemukan santri yang kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Mengutip konsep Ahsani Taqwim, beliau mengingatkan bahwa manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang paling sempurna sehingga memiliki potensi untuk mencapai derajat yang sangat mulia apabila mampu menjaga kualitas diri melalui ilmu, akhlak, dan amal saleh.
Menurut beliau, Pondok Pesantren Al-Mashduqiah merupakan tempat menempa karakter sekaligus mengembangkan potensi. Pesantren bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembentukan generasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Beliau bahkan mendorong para santri untuk memiliki cita-cita besar, termasuk melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri, baik di Timur Tengah maupun negara-negara Barat. Kesempatan tersebut, tegasnya, hanya dapat diraih melalui kesungguhan, kedisiplinan, dan kerja keras.
“Kamu akan mendapatkan kesempatan itu jika memiliki kecakapan, kerja keras, dan kesungguhan untuk berlelah-lelah. Pondok ini adalah tempat kamu membentuk dirimu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri,” pesannya.
Selain memberikan motivasi, beliau juga menyampaikan apresiasi atas kreativitas panitia dan santri yang berhasil menghadirkan dekorasi penutupan Porseni dengan nuansa budaya yang menarik. Menurutnya, kreativitas merupakan bagian dari pengembangan potensi yang patut terus didorong, selama tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Menutup sambutannya, beliau menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh adab dan kedisiplinan. Menghormati guru dan orang yang lebih tua, menaati tata tertib pesantren, hingga membiasakan diri menjalankan aturan-aturan sederhana merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter seorang santri.
Dengan berakhirnya Porseni tahun ini, Pondok Pesantren Al-Mashduqiah berharap semangat kompetisi, sportivitas, kreativitas, dan disiplin yang tumbuh selama kegiatan dapat terus menjadi bagian dari kehidupan santri, sehingga mampu melahirkan generasi unggul yang berilmu, berakhlak, serta siap memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.






















