Lambangkuning, Probolinggo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 8 Universitas Muhammadiyah Surabaya melaksanakan salah satu program kerja unggulan, yaitu Laskar Desa, dengan mengangkat tema “Edukasi dan Simulasi Bencana Gunung Meletus”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan anak-anak terhadap potensi bencana alam melalui metode pembelajaran yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan.
Pendidikan mitigasi bencana sejak usia dini merupakan langkah penting dalam membangun budaya sadar bencana di masyarakat. Anak-anak termasuk kelompok yang rentan ketika terjadi bencana sehingga perlu dibekali pemahaman mengenai penyebab bencana, dampaknya, serta tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman belajar secara langsung melalui praktik sederhana.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran video edukasi mengenai fenomena gunung meletus. Video tersebut menampilkan proses terbentuknya gunung berapi, penyebab terjadinya erupsi, serta berbagai material vulkanik yang dikeluarkan, seperti lava, abu vulkanik, awan panas, dan lahar. Selain itu, peserta juga diperlihatkan dampak yang dapat ditimbulkan oleh letusan gunung berapi terhadap lingkungan, infrastruktur, maupun kehidupan masyarakat. Melalui media audiovisual tersebut, peserta memperoleh gambaran yang lebih nyata mengenai proses terjadinya bencana sehingga lebih mudah memahami materi yang akan dipelajari.
Setelah menyaksikan video edukasi, mahasiswa KKN mengajak seluruh peserta berdiskusi mengenai materi yang telah ditampilkan. Pada sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, serta berbagi pengetahuan mengenai gunung berapi. Mahasiswa kemudian menjelaskan kembali penyebab terjadinya letusan gunung berapi, tanda-tanda meningkatnya aktivitas vulkanik, serta pentingnya mengikuti informasi resmi dari instansi terkait ketika terjadi bencana. Kegiatan diskusi berlangsung secara interaktif sehingga mampu meningkatkan keaktifan dan rasa ingin tahu peserta.
Sebagai bentuk implementasi dari materi yang telah dipelajari, peserta kemudian dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh mahasiswa KKN untuk membuat simulasi sederhana gunung meletus menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Alat dan bahan yang digunakan meliputi botol plastik bekas sebagai inti gunung, kertas untuk membentuk struktur gunung, baking soda, cuka, cairan pencuci piring (Sunlight), serta pewarna makanan berwarna merah yang berfungsi sebagai ilustrasi lava.
Tahap pembuatan simulasi diawali dengan menyusun miniatur gunung menggunakan botol plastik bekas yang ditempatkan di bagian tengah, kemudian ditutupi menggunakan kertas hingga menyerupai bentuk gunung. Setelah miniatur selesai dibuat, setiap kelompok memasukkan baking soda ke dalam botol, kemudian menambahkan campuran cuka, cairan pencuci piring, dan pewarna merah. Ketika kedua bahan tersebut bereaksi, terbentuk gas karbon dioksida yang menghasilkan busa berwarna merah sehingga keluar dari mulut botol dan menyerupai aliran lava yang keluar saat terjadi letusan gunung berapi. Simulasi sederhana ini memberikan pengalaman belajar yang menarik sekaligus membantu peserta memahami konsep reaksi ilmiah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena erupsi gunung berapi.
Selama proses praktik berlangsung, setiap kelompok menunjukkan antusiasme yang tinggi. Anak-anak bekerja sama dalam menyusun miniatur, menyiapkan bahan percobaan, serta mengamati perubahan yang terjadi selama reaksi berlangsung. Mahasiswa KKN turut memberikan pendampingan pada setiap kelompok dengan menjelaskan hubungan antara simulasi yang dilakukan dengan proses letusan gunung berapi yang sebenarnya. Meskipun simulasi tersebut merupakan eksperimen sederhana, kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dasar gunung meletus sekaligus melatih kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan berpikir kritis.
Di akhir kegiatan, mahasiswa KKN kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Peserta diingatkan untuk tetap tenang ketika menghadapi situasi darurat, mengikuti arahan dari pihak yang berwenang, serta memahami langkah-langkah penyelamatan diri yang benar apabila terjadi bencana gunung meletus. Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan, yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan minat belajar dan pemahaman mereka terhadap materi kebencanaan.
Melalui program Laskar Desa: Edukasi dan Simulasi Bencana Gunung Meletus, mahasiswa KKN Kelompok 8 Universitas Muhammadiyah Surabaya berharap dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana sejak usia dini. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai fenomena gunung meletus, tetapi juga membangun sikap tanggap, peduli, dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Diharapkan program ini dapat menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sadar bencana, tangguh, serta mampu mengurangi risiko melalui edukasi yang berkelanjutan.

























