LAMONGAN, 12 Oktober 2026 – Setiap kali memasuki wilayah Kabupaten Lamongan, baik dari arah Gresik maupun dari jalur perbatasan daerah lainnya, masyarakat kerap menjumpai gapura dengan bentuk arsitektur khas yang menyerupai bangunan bersejarah. Gerbang megah ini bukan sekadar penanda administratif bahwa seseorang telah memasuki wilayah Lamongan, melainkan representasi identitas budaya yang diwariskan dari perjalanan panjang sejarah Nusantara. Bangunan ikonik ini dikenal dengan nama Gapura Paduraksa Bersayap.
Namun, di balik kemegahannya yang kini menjadi salah satu ikon utama Kabupaten Lamongan, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami arti kata “Paduraksa”, asal-usul arsitekturnya, alasan di balik bentuk “sayap” yang mengembang, serta maksud dan tujuan pemerintah daerah menjadikannya sebagai ciri khas gerbang wilayah.
Pertanyaan tersebut menarik untuk ditelusuri. Sebab, sebuah nama, bentuk bangunan, monumen, maupun simbol yang dipilih sebagai identitas daerah umumnya tidak lahir tanpa pertimbangan. Di dalamnya terdapat sejarah, nilai budaya, filosofi, dan pesan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Lantas, seperti apa sejarah Gapura Paduraksa yang menjadi kebanggaan masyarakat Lamongan?

1. Mengenal Paduraksa: Warisan Arsitektur Klasik Nusantara
Secara umum, Paduraksa merupakan jenis bangunan gapura yang memiliki atap atau bagian atas yang menyatu dan menaungi bukaan pintu di bawahnya. Bentuk ini berbeda dengan gapura “Candi Bentar” yang terdiri atas dua bagian bangunan terpisah tanpa atap penghubung. Dalam tradisi arsitektur Jawa, bentuk Paduraksa banyak ditemukan pada kompleks keraton, tempat ibadah, serta kawasan pemakaman bersejarah, berfungsi sebagai pintu masuk sekaligus pembatas sakral antara satu ruang dengan ruang lainnya.
Arsitektur Paduraksa memiliki akar dalam tradisi bangunan klasik Nusantara, khususnya perkembangan arsitektur Hindu-Buddha di Jawa. Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya agama Islam, bentuk arsitektur tersebut mengalami penyesuaian dan perpaduan harmonis dengan kebudayaan setempat. Di Lamongan, bentuk yang diadopsi sebagai identitas gerbang daerah bukan sekadar meniru bangunan Paduraksa pada umumnya. Pemerintah daerah secara spesifik mengadopsi karakter Gapura Paduraksa Bersayap yang terdapat pada kompleks makam Sunan Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Dengan demikian, nama Paduraksa yang melekat pada gerbang Lamongan memiliki hubungan erat dan autentik dengan warisan arsitektur bersejarah di daerahnya sendiri.
2. Menelusuri Jejak Sejarah dari Sendang Duwur
Untuk memahami sejarah Gapura Paduraksa Lamongan, kita perlu menengok kompleks makam Sunan Sendang Duwur di Kecamatan Paciran. Sunan Sendang Duwur, yang dikenal sebagai Raden Noer Rahmat, adalah seorang tokoh penyebar Islam di wilayah pesisir utara Jawa. Kompleks makamnya memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang sangat penting karena memperlihatkan perpaduan unsur kebudayaan Hindu dan Islam yang akulturatif.
Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Lamongan menjelaskan bahwa kompleks makam tersebut memiliki gapura luar berbentuk Candi Bentar, sedangkan pada bagian dalam terdapat Gapura Paduraksa yang kaya akan ornamen dan ukiran. Perpaduan tersebut menjadi bukti nyata bahwa perkembangan kebudayaan di Jawa tidak selalu berlangsung dengan menghapus tradisi sebelumnya. Sebaliknya, unsur budaya yang telah berkembang dapat diolah dan disesuaikan dengan nilai serta kebutuhan masyarakat pada masa berikutnya.
Dari warisan arsitektur inilah, bentuk Gapura Paduraksa Bersayap kemudian diangkat secara resmi sebagai salah satu identitas visual Kabupaten Lamongan. Pada tahun 2016, pemberitaan mengenai kebijakan tersebut menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lamongan di bawah kepemimpinan Bupati Fadeli mendorong penggunaan arsitektur Paduraksa sebagai identitas gerbang, termasuk untuk diterapkan pada gapura-gapura desa. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak hanya ingin membangun gerbang yang berfungsi secara fisik, tetapi juga menghadirkan karakter arsitektur yang dapat dikenali sebagai ciri khas Lamongan.
3. Filosofi “Sayap” dan Simbolisme Alam Sakral
Salah satu ciri yang paling menarik perhatian dari gapura khas Lamongan adalah bentuk sayap yang mengembang di sisi bangunan. Bentuk tersebut bukan sekadar tambahan ornamen untuk memperindah tampilan. Dalam penjelasan mengenai filosofi arsitektur Paduraksa Lamongan, simbol sayap dikaitkan dengan perlambangan burung terbang dan gagasan tentang alam yang sakral.
Peraturan Bupati Lamongan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Gerbang/Gapura di Kabupaten Lamongan secara khusus memasukkan pertimbangan sejarah kompleks makam Sendang Duwur dalam konsep arsitektur gerbang daerah [[6]]. Peraturan itu juga menjelaskan perlambangan satwa burung yang terbang sebagai simbol yang memiliki hubungan dengan hal-hal sakral dan alam kayangan atau alam akhirat, yang diwujudkan dalam bentuk gapura bersayap. Dalam konteks arsitektur Lamongan, unsur tersebut dipahami sebagai bagian dari warisan simbolik masa Indonesia-Hindu yang mengalami perkembangan dan penyesuaian dalam lingkungan kebudayaan Islam. Dengan demikian, sayap pada Gapura Paduraksa dapat dibaca sebagai unsur simbolis yang membawa jejak tradisi lama, bukan semata-mata hiasan dekoratif.
4. Makna Tersembunyi di Balik Ornamen
Selain bentuk sayap, Gapura Paduraksa Bersayap Lamongan memiliki unsur ornamen yang juga menarik untuk diperhatikan. Dalam pengembangan identitas gerbang Lamongan, sejumlah ornamen dijelaskan melalui simbol-simbol yang berasal dari tradisi seni klasik:
* Pertama, unsur Kalpawreksa atau Kalpataru. Kalpawreksa dikenal dalam tradisi budaya India dan Nusantara sebagai pohon kehidupan atau pohon yang dikaitkan dengan pemenuhan harapan. Dalam penafsiran terhadap ornamen gapura Lamongan, unsur ini dipahami sebagai simbol kehidupan, harapan, dan keberlanjutan.
* Kedua, ornamen burung. Bentuk burung yang dikaitkan dengan figur Phoenix atau Simurgh muncul dalam penjelasan filosofis mengenai gapura tersebut. Simbol burung dalam berbagai tradisi memiliki penafsiran yang beragam, antara lain berkaitan dengan kehidupan, keluhuran, atau perjalanan spiritual.
* Ketiga, perpaduan unsur budaya Hindu dan Islam. Kompleks makam Sunan Sendang Duwur memperlihatkan bagaimana unsur arsitektur klasik dapat hadir dalam lingkungan keagamaan Islam. Bentuk gapura, ornamen, serta teknik seni bangunannya memperlihatkan proses pertemuan dan penyesuaian kebudayaan yang menjadi bagian penting dari sejarah Lamongan.
5. Landasan Kebijakan Pelestarian Identitas Daerah
Mengapa pemerintah daerah menjadikan Gapura Paduraksa sebagai identitas gerbang Lamongan, bukan menggunakan bentuk arsitektur modern yang seragam seperti di banyak daerah lainnya? Jawabannya dapat ditelusuri melalui Peraturan Bupati Lamongan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Gerbang/Gapura di Kabupaten Lamongan.
Dalam pertimbangannya, peraturan tersebut menyebutkan pentingnya menjaga, memberdayakan, melestarikan, dan mengembangkan arsitektur daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa. Peraturan itu juga menyoroti keberagaman bentuk gapura yang berpotensi menghilangkan identitas budaya daerah apabila tidak memiliki karakter arsitektur yang jelas. Tujuan pengaturan tersebut adalah menghadirkan gerbang yang mencerminkan corak dan karakter arsitektur tradisional daerah sekaligus menjaga keselarasan dengan nilai sosial budaya masyarakat Lamongan. Artinya, pemilihan Paduraksa memiliki landasan kebijakan kebudayaan dan penataan wilayah yang kuat.
6. Gapura sebagai Media Komunikasi Budaya
Jika dilihat dari sudut pandang pembangunan daerah, sebuah gapura memang memiliki fungsi praktis sebagai penanda batas wilayah administrasi. Namun, fungsinya dapat berkembang lebih jauh menjadi media komunikasi budaya. Bentuk arsitektur, ornamen, nama, dan penempatannya menyampaikan pesan mengenai karakter wilayah yang diwakilinya.
Dalam konteks Lamongan, Gapura Paduraksa Bersayap berfungsi sebagai pengingat terhadap warisan arsitektur lokal, terutama yang berhubungan dengan kompleks makam Sunan Sendang Duwur. Keberadaan simbol tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mengenali sejarah daerahnya sendiri. Bagi generasi muda, gapura yang setiap hari dilewati dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari sejarah lokal, tokoh penyebar Islam, perkembangan seni bangunan, dan proses akulturasi kebudayaan.
7. Dari Arsitektur hingga Gerakan Pendidikan Berkarakter
Menariknya, istilah “Paduraksa” tidak hanya digunakan dalam konteks arsitektur gerbang di Kabupaten Lamongan. Pada 19 Desember 2023, Pemerintah Kabupaten Lamongan meluncurkan Gerakan PADURAKSA di bidang pendidikan. Nama tersebut merupakan akronim dari Gerakan Pendidikan Terpadu: Pendidikan Terpadu Sekolah Ramah Anak, Akreditasi Perpustakaan Sekolah, Dan Sekolah Sehat, serta Unggul dan Ramah Lingkungan (Adiwiyata).
Gerakan itu dimaksudkan untuk menyatukan sejumlah program pendidikan agar berjalan secara terpadu dalam meningkatkan mutu pendidikan di Lamongan. Menurut pemberitaan resmi Pemerintah Kabupaten Lamongan, penggunaan nama Paduraksa dalam program pendidikan tersebut terinspirasi dari nama gapura di kompleks makam Sunan Sendang Duwur. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Paduraksa telah berkembang menjadi istilah yang memiliki resonansi di luar fungsi bangunan, digunakan untuk memperkenalkan gagasan keterpaduan dalam pembangunan pendidikan dan pembentukan karakter generasi emas
8. Tantangan Edukasi agar Tidak Hanya Menjadi Pajangan
Di tengah perkembangan zaman dan pembangunan infrastruktur, ada pertanyaan penting yang patut diajukan: apakah masyarakat Lamongan sudah benar-benar mengenal sejarah di balik gapura yang menjadi identitas daerahnya? Bisa jadi banyak orang mampu mengenali bentuk Gapura Paduraksa ketika melihatnya, namun belum tentu semuanya mengetahui asal-usul arsitekturnya, kaitannya dengan kompleks makam Sunan Sendang Duwur, atau alasan pemerintah daerah menjadikannya sebagai ciri khas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pegiat budaya, komunitas sejarah, dan media massa. Identitas budaya akan lebih bermakna apabila disertai pengetahuan yang memadai. Tanpa penjelasan sejarah, sebuah bangunan berisiko hanya dipandang sebagai ornamen atau konstruksi yang memperindah jalan. Edukasi tentang Gapura Paduraksa perlu diperkuat melalui penyediaan papan informasi sejarah, kode QR menuju sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dokumentasi digital mengenai filosofi arsitektur gerbang Lamongan.
9. Urgensi Kajian Sejarah yang Lebih Mendalam
Meskipun asal inspirasi arsitektur Gapura Paduraksa Lamongan dapat ditelusuri ke kompleks makam Sunan Sendang Duwur, sejumlah pertanyaan sejarah masih layak dikaji lebih mendalam. Misalnya, bagaimana perkembangan bentuk gapura tersebut dari masa ke masa? Siapa saja tokoh yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan arsitekturnya? Bagaimana penafsiran setiap ornamen berdasarkan penelitian sejarah, arkeologi, atau kajian seni bangunan?
Pertanyaan-pertanyaan itu memerlukan dukungan arsip, dokumentasi pembangunan, keterangan ahli, dan penelitian lapangan. Perlu dibedakan pula antara sejarah bangunan Paduraksa di kompleks makam Sunan Sendang Duwur, sejarah penetapan bentuknya sebagai identitas gerbang Kabupaten Lamongan, serta filosofi yang dijelaskan dalam kebijakan pemerintah daerah. Ketiganya saling berhubungan, tetapi bukan merupakan satu peristiwa sejarah yang sama. Pendekatan seperti ini diperlukan agar penulisan sejarah lokal tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
10. Kesimpulan: Mengenal Gapura Berarti Mengenal Jati Diri Lamongan
Gapura Paduraksa Bersayap bukan sekadar bangunan yang menandai pintu masuk Kabupaten Lamongan. Di balik bentuknya terdapat hubungan dengan warisan arsitektur kompleks makam Sunan Sendang Duwur, tradisi seni bangunan klasik Nusantara, serta proses pertemuan kebudayaan Hindu dan Islam. Pemerintah Kabupaten Lamongan kemudian mengangkat arsitektur tersebut sebagai identitas gerbang daerah, yang pengaturannya antara lain tertuang dalam Peraturan Bupati Lamongan Nomor 15 Tahun 2017
Makna pentingnya terletak pada upaya menjadikan sejarah dan kebudayaan lokal sebagai bagian dari identitas wilayah. Namun, upaya itu akan lebih kuat apabila diikuti pendidikan sejarah, penelitian, dokumentasi, dan pelestarian yang berkelanjutan. Sebab, sebuah daerah tidak hanya dikenal dari nama kabupaten, luas wilayah, atau pembangunan infrastrukturnya, tetapi juga dari sejarah, nilai, dan kebudayaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Gapura Paduraksa mengingatkan kita bahwa setiap simbol daerah memiliki cerita. Tugas masyarakat bukan hanya melewatinya setiap hari, tetapi juga mempelajari, memahami, dan menjaga makna yang terkandung di dalamnya. Jangan sampai kita bangga memiliki ikon budaya, tetapi justru tidak mengenal sejarah yang melahirkannya. Lamongan memiliki warisan sejarah yang patut dipelajari, dan mengenal Gapura Paduraksa adalah salah satu langkah awal untuk mengenal lebih dekat jati diri daerah sendiri.





















