Yogyakarta-Luka ringan seperti lecet akibat jatuh atau tergores benda tajam bisa terjadi kapan saja. Meski tampak biasa saja, penanganannya tetap memerlukan perhatian untuk mengurangi risiko infeksi. Apalagi luka yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang semestinya memiliki pengetahuan dasar dalam menangani luka tersebut. Tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Salah satunya, tunanetra juga penting memiliki pengetahuan terkait penanganan luka.
Sehari setelah peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) yang ke-81, siswa di SLB A Yaketunis mendapatkan pengalaman langsung terkait langkah-langkah penanganan luka ringan. Tepatnya, pada hari Jumat, tanggal 18 September 2026, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) pada siswa tunanetra di SLB A Yaketunis.
Meski memiliki hambatan penglihatan, hal tersebut tidak membatasi siswa tunanetra mempelajari bidang kesehatan. Mahasiswa PK UNY membawakan pelatihan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa tunanetra. Peserta tidak sekadar menerima penjelasan secara lisan, tetapi juga diajak mengenali perlengkapan P3K secara taktil atau rabaan dan juga praktik terbimbing.
Beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk menangani luka ringan, di antaranya air bersih/NaCl 0,9%, antiseptik, kasa steril, dan plester. “Adapun fungsi masing-masing peralatan, di antaranya air bersih/Nacl digunakan untuk membersihkan luka; antiseptik berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka; kasa steril digunakan untuk menutup luka; dan plester digunakan untuk merekatkan balutan pada luka”, ungkap Alfi mahasiswa PK saat memberi materi pelatihan P3K.
Adapun langkah-langkah penanganan luka ringan yang dipraktikkan siswa SLB A Yaketunis dilakukan secara bertahap. Peserta terlebih dahulu membersihkan luka menggunakan air mengalir/NaCl 0,9%. Setelah itu, kasa steril digunakan untuk membantu membersihkan sisa kotoran pada area luka. Peserta kemudian menggunakan antiseptik berupa povidone-iodine yang diteteskan pada kasa steril, kemudian diaplikasikan secara perlahan pada area luka. Setelah proses tersebut selesai, luka ditutup menggunakan kasa steril dan diperkuat dengan plester.
Pelatihan P3K yang dilaksanakan di sekolah tunantera ini menerapkan pendekatan pembelajaran multisensori dengan memaksimalkan indra perabaan dan pendengaran. Prinsip pembelajaran mendalam yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan juga diterapkan selama pelatihan P3K tersebut.
“Seru banget! Jadi punya ilmu baru”, ungkap Linda salah satu peserta didik SLB A Yaketunis saat refleksi di akhir pelatihan. “Bagus materinya, waktunya kurang lama ini”, ungkap Pak Widodo selaku guru SLB A Yaketunis setelah pelatihan berlangsung.
Sejalan dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat Sejahtera yang memberikan pengalaman langsung terkait pertolongan pertama dan juga SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pelatihan yang menyesuaikan dengan kebutuhan siswa tunanetra, Mahasiswa PK UNY memberikan pengalaman belajar kesehatan yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan ini juga menunjukkan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menjadi batasan bagi siswa tunanetra untuk mempelajari pertolongan pertama.


















