Pelataran, Palembang, (10/6/2026) – Upaya membangun generasi muda yang mandiri, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan ekonomi umat terus menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk lingkungan perguruan tinggi. Tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah kelas C angkatan 2024 UIN Raden Fatah Palembang menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Entrepreneur Dakwah sebagai sarana pengembangan wawasan kewirausahaan yang berpijak pada nilai-nilai Islam.
Kegiatan yang diketuai oleh Wahyu Limpar Tobing tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa dan peserta untuk memahami bahwa dakwah tidak hanya dapat dilakukan melalui mimbar, kajian, atau aktivitas keagamaan formal semata. Lebih dari itu, dakwah juga dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk usaha produktif yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemahaman inilah yang menjadi landasan utama penyelenggaraan pelatihan, yakni membangun kesadaran bahwa aktivitas ekonomi dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan dengan misi dakwah dalam menciptakan perubahan sosial yang positif.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan susunan acara yang telah dipersiapkan secara matang oleh panitia. Sejak pagi hari, peserta mulai melakukan registrasi sebelum memasuki rangkaian pembukaan. Acara kemudian dibuka oleh pembawa acara yang dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, penyampaian sambutan dari berbagai pihak, serta doa bersama sebagai bentuk harapan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta. Suasana yang tertib dan penuh semangat sejak awal kegiatan menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti pelatihan yang diselenggarakan.

Semangat tersebut bukan tanpa alasan. Saat ini, isu kemandirian ekonomi menjadi salah satu perhatian penting di kalangan generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi yang menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja akibat tingginya persaingan dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Kondisi tersebut mendorong munculnya kebutuhan untuk membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini. Dalam konteks itulah entrepreneur dakwah hadir sebagai konsep yang menawarkan pendekatan berbeda, yakni mengembangkan usaha tidak semata-mata untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga sebagai sarana menghadirkan manfaat, membuka peluang kerja, serta memberdayakan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Islam.
Memasuki sesi inti, peserta memperoleh pemaparan mengenai konsep entrepreneur dakwah dan berbagai peluang pengembangannya di era modern. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya inovasi, kreativitas, dan keberanian dalam melihat peluang usaha yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Peserta diajak memahami bahwa perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi masyarakat membuka banyak kesempatan bagi generasi muda untuk menciptakan usaha yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui pemahaman tersebut, peserta diharapkan mampu melihat kewirausahaan bukan sebagai sesuatu yang sulit dijangkau, melainkan sebagai peluang yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing.
Pembahasan mengenai entrepreneur dakwah juga menyoroti pentingnya integritas dalam menjalankan usaha. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian sosial menjadi fondasi utama yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan muslim. Prinsip-prinsip tersebut dinilai sangat penting karena keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari sejauh mana usaha tersebut mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Perspektif inilah yang membedakan entrepreneur dakwah dengan konsep kewirausahaan yang hanya berorientasi pada aspek ekonomi semata.

Interaksi antara pemateri dan peserta berlangsung secara aktif sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan dan diskusi muncul terkait tantangan membangun usaha di tengah perkembangan teknologi, strategi menghadapi persaingan usaha, hingga cara mempertahankan nilai-nilai keislaman dalam aktivitas bisnis. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa tema yang diangkat memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Tidak sedikit peserta yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pengalaman dan wawasan yang dapat menjadi bekal dalam mengembangkan usaha maupun program pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. Agar suasana kegiatan tetap kondusif dan menyenangkan, panitia turut menghadirkan sesi penyegaran berupa ice breaking dan kegiatan interaktif lainnya. Kehadiran sesi tersebut berhasil menciptakan suasana yang lebih cair sehingga peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman. Pendekatan yang mengombinasikan penyampaian materi dan aktivitas interaktif tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pelatihan berlangsung lebih dinamis dan tidak monoton.
Bagi mahasiswa Manajemen Dakwah, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik, tetapi juga merupakan bentuk implementasi keilmuan yang dipelajari di bangku kuliah. Manajemen Dakwah pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai pengelolaan kegiatan keagamaan, melainkan juga mencakup upaya pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program yang mampu meningkatkan kualitas hidup umat. Oleh karena itu, entrepreneur dakwah dipandang sebagai salah satu instrumen strategis dalam mewujudkan dakwah yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat modern. Menjelang berakhirnya kegiatan, panitia memberikan apresiasi kepada pemateri yang telah berbagi ilmu dan pengalaman kepada peserta. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan pelatihan menjadi salah satu gambaran bahwa semangat kolaborasi dan pembelajaran masih tumbuh kuat di kalangan mahasiswa.
Melalui penyelenggaraan Pelatihan Entrepreneur Dakwah ini, mahasiswa Manajemen Dakwah C 24 UIN Raden Fatah Palembang berharap dapat mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang baik, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang mandiri, inovatif, dan produktif. Di bawah kepemimpinan Ketua Pelaksana Wahyu Limpar Tobing, kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman sekaligus memperkuat peran dakwah dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan semakin berkembangnya semangat kewirausahaan berbasis nilai-nilai Islam, generasi muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan yang membawa manfaat luas bagi umat dan lingkungan sekitarnya.




















