Upaya meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan pengamatan hama menjadi salah satu langkah penting dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan program kerja bertajuk Pembuatan Alat Monitoring Hama melalui pelatihan Pan Trap, Pitfall Trap, dan Yellow Sticky Trap di Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Program kerja ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas pertanian yang berkelanjutan, serta SDGs poin 12 (Responsible Consumption and Production) dengan mendorong penggunaan pestisida secara lebih bijaksana berdasarkan hasil monitoring hama.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026, bertempat di Balai Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, dengan melibatkan kelompok tani Desa Karangan sebagai peserta. Program ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan monitoring Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sebagai bagian dari penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Selama ini, sebagian petani masih melakukan pengendalian hama berdasarkan perkiraan tanpa didahului kegiatan monitoring, sehingga penggunaan pestisida sering kali kurang tepat sasaran. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memperkenalkan Pan Trap, Pitfall Trap, dan Yellow Sticky Trap sebagai alat monitoring hama yang sederhana, mudah dibuat, berbiaya rendah, serta dapat diterapkan secara mandiri oleh petani untuk membantu mengamati keberadaan dan perkembangan populasi hama di lahan pertanian.
Pada kegiatan tersebut, mahasiswa KKN yang diwakili oleh Ghafansa Mukhairi Pasaribu selaku penanggung jawab program kerja Pembuatan Alat Monitoring Hama menyampaikan materi mengenai pentingnya kegiatan monitoring hama sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan dengan fungsi serta cara kerja Pan Trap untuk menangkap serangga terbang yang tertarik pada warna, Pitfall Trap untuk memantau serangga yang aktif di permukaan tanah, serta Yellow Sticky Trap yang digunakan untuk menangkap berbagai jenis serangga terbang yang tertarik pada warna kuning. Selain memberikan penjelasan mengenai fungsi masing-masing alat, pemateri juga memaparkan alat dan bahan yang diperlukan, tahapan pembuatan, hingga teknik pemasangan yang tepat agar alat monitoring dapat bekerja secara efektif di lahan pertanian.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan Pan Trap, Pitfall Trap, dan Yellow Sticky Trap yang dipandu oleh mahasiswa KKN. Peserta diperlihatkan tahapan perakitan, bahan yang digunakan, serta teknik pemasangan masing-masing alat sebagai bekal untuk melakukan monitoring Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Selanjutnya, pada Kamis, 9 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan penerapan Pan Trap dan Yellow Sticky Trap di lahan sawah milik petani Desa Karangan. Melalui kegiatan ini, petani dapat mengamati secara langsung cara pemasangan dan penggunaan alat monitoring hama di lapangan, sehingga diharapkan mampu menerapkannya secara mandiri sebagai bagian dari penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para petani aktif berdiskusi mengenai jenis hama yang sering ditemukan di lahan mereka serta cara memanfaatkan hasil monitoring sebagai dasar pengendalian yang lebih tepat. Kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman antara mahasiswa dan petani mengenai penerapan Pengendalian Hama Terpadu yang lebih ramah lingkungan.
Melalui program kerja ini, diharapkan petani Desa Karangan semakin memahami pentingnya kegiatan monitoring sebelum melakukan tindakan pengendalian hama. Pemanfaatan Pan Trap, Pitfall Trap, dan Yellow Sticky Trap diharapkan dapat membantu petani mengenali keberadaan serta perkembangan populasi hama di lahan, sehingga penggunaan pestisida menjadi lebih tepat sasaran, mengurangi penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, serta mendukung terciptanya sistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Dengan demikian, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi petani Desa Karangan, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian SDGs poin 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan praktik budidaya yang berkelanjutan serta SDGs poin 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pengendalian hama yang lebih bijaksana dan ramah lingkungan.

























