Kuliah sekarang kadang terasa seperti pekerjaan dengan deskripsi tugas yang tidak pernah selesai.
Masuk kelas. Kejar IPK. Aktif organisasi. Ikut lomba. Cari magang. Kumpulkan sertifikat. Coba penelitian. Kalau bisa, punya publikasi. Jangan lupa bangun relasi. Setelah itu, mulai pikirkan karier.
Belum cukup?
Coba buka Instagram atau LinkedIn.
Ada teman yang baru memenangkan lomba. Ada yang diterima magang. Ada yang menjadi pembicara. Ada yang mendapat beasiswa. Ada yang menerbitkan tulisan. Ada yang baru pulang dari konferensi.
Kita ikut senang melihatnya.
Lalu beberapa detik kemudian muncul pertanyaan yang lebih personal:
“Aku sudah melakukan apa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, semakin sering muncul, semakin mudah membuat kuliah terasa seperti perlombaan yang tidak pernah kita sepakati.
Sebab hari ini, menjadi mahasiswa seolah tidak lagi cukup dengan belajar.
Kita juga dituntut untuk terlihat berkembang.
Di sinilah saya mulai melihat persoalannya secara berbeda. Mungkin masalahnya bukan mahasiswa yang terlalu ambisius. Mungkin ada standar sosial tentang seperti apa mahasiswa yang dianggap berhasil, dan tanpa sadar kita ikut mengukurnya pada diri sendiri.
Mahasiswa ideal seolah punya paket lengkap: nilai bagus, aktif organisasi, punya prestasi, produktif, berpengalaman, pandai berbicara, punya jaringan, dan sudah tahu hendak menjadi apa setelah lulus.
Pertanyaannya, siapa yang menentukan paket tersebut?
Pierre Bourdieu membantu kita melihat bahwa arena pendidikan tidak pernah benar-benar mempertemukan orang-orang dengan bekal yang sama.
Setiap mahasiswa datang membawa modal yang berbeda.
Ada yang sejak sekolah terbiasa mengikuti organisasi dan berbicara di depan umum. Ada yang memiliki akses terhadap buku, kursus, teknologi, atau lingkungan yang mendukung kegiatan akademik. Ada yang memiliki keluarga atau teman yang lebih dulu mengenalkan informasi tentang beasiswa, magang, penelitian, dan berbagai kesempatan lain.
Ada pula mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang pulang setelah kelas karena memiliki tanggung jawab lain. Ada yang baru mengenal organisasi ketika teman-temannya sudah lebih dulu memiliki jaringan. Ada yang punya kemampuan, tetapi tidak punya cukup waktu untuk mengubah kemampuan itu menjadi sederet pencapaian.
Di atas kertas, kesempatan mungkin terlihat sama.
Tetapi kemampuan untuk mengambil kesempatan itu belum tentu sama.
Mahasiswa yang memiliki waktu luang tentu memiliki ruang berbeda dengan mahasiswa yang harus membagi waktunya untuk bekerja. Mahasiswa yang sudah memiliki jaringan tentu lebih mudah mengetahui sebuah kesempatan dibandingkan mahasiswa yang bahkan belum tahu harus bertanya kepada siapa.
Karena itu, ketika seseorang terlihat “lebih aktif” selama kuliah, kita tidak selalu bisa membacanya semata-mata sebagai hasil kerja keras individual.
Ada kondisi sosial yang ikut bekerja di belakangnya.
Sayangnya, konteks seperti itu jarang ikut masuk ke media sosial.
Yang terlihat biasanya hanya hasil.
Sertifikat.
Piala.
Foto kegiatan.
Surat penerimaan.
Jabatan.
Publikasi.
Kita melihat pencapaian orang lain dalam bentuk yang sudah rapi, sementara kita menjalani kehidupan sendiri lengkap dengan proses yang berantakan.
Akhirnya, kita membandingkan etalase orang lain dengan ruang belakang kehidupan sendiri.
Di sinilah standar itu bekerja dengan cara yang menarik. Ia tidak selalu datang dari kampus, dosen, atau orang tua. Kita sendiri ikut memproduksinya.
Ketika melihat teman aktif organisasi, kita merasa harus ikut organisasi.
Ketika teman mendapat magang, kita mulai mencari magang.
Ketika teman punya publikasi, kita bertanya mengapa tulisan kita belum diterbitkan.
Ketika teman mendapat beasiswa, kita mulai merasa harus punya pencapaian serupa.
Lama-lama, sesuatu yang awalnya pilihan berubah menjadi kewajiban.
Kita tidak lagi bertanya:
“Apa yang ingin saya pelajari?”
Kita mulai bertanya:
“Apa yang belum saya punya?”
Perbedaannya kecil, tetapi mengubah cara kita menjalani kuliah.
Kampus yang semestinya menjadi ruang untuk mencoba berbagai hal dapat berubah menjadi arena perlombaan. Tidak ada garis start yang jelas. Tidak ada peluit tanda pertandingan dimulai. Tetapi semua orang seperti berlari.
Yang lebih membingungkan, garis finisnya juga tidak pernah benar-benar terlihat.
Sudah punya IPK bagus, masih merasa kurang karena belum magang.
Sudah magang, merasa kurang karena belum punya publikasi.
Sudah punya publikasi, masih membandingkan diri dengan orang yang mendapat beasiswa.
Setelah lulus pun, perlombaan belum tentu selesai. Ukurannya berganti menjadi pekerjaan, jabatan, penghasilan, lalu pencapaian berikutnya.
Standar keberhasilan terus bergerak.
Mungkin karena itu, ada mahasiswa yang merasa gagal bukan karena benar-benar gagal, melainkan karena ukuran keberhasilannya terus berubah.
Tentu saja, ini bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Berorganisasi tetap penting. Magang bisa membuka pengalaman. Penelitian dapat memperluas cara berpikir. Prestasi dapat menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras.
Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut.
Persoalannya muncul ketika kita mulai merasa harus memiliki semuanya agar dianggap cukup.
Tidak semua mahasiswa harus memiliki cerita yang sama.
Ada yang menemukan dirinya di organisasi. Ada yang tumbuh melalui penelitian. Ada yang belajar banyak dari pekerjaan. Ada yang tidak memenangkan lomba apa pun selama kuliah, tetapi menemukan kemampuan yang justru baru terlihat setelah lulus.
Namun, kehidupan mahasiswa sering kali dibaca melalui daftar.
IPK berapa?
Organisasinya apa?
Pernah ikut lomba apa?
Sudah magang di mana?
Punya sertifikat berapa?
Padahal manusia tidak pernah sesederhana CV.
Mungkin kita terlalu sering bertanya apakah seorang mahasiswa sudah cukup berprestasi, tanpa bertanya cukup untuk siapa?
Sebab bisa jadi, yang membuat banyak mahasiswa lelah bukan karena mereka tidak ingin berkembang. Mereka hanya sedang berusaha memenuhi terlalu banyak ukuran tentang keberhasilan sekaligus.
Dan di tengah arena yang membuat semua orang merasa harus berlari, mungkin pertanyaan yang paling jujur bukan lagi:
“Seberapa banyak yang sudah saya capai?”
Melainkan:
“Apakah semua yang saya kejar ini memang saya inginkan, atau saya hanya takut terlihat tertinggal?”























