Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Leaderboard Satu Rumah
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Opini

Di Balik Foto yang Katanya Cuma Main-Main

Dinda Fatimah Zahra by Dinda Fatimah Zahra
13 September 2026
in Opini
A A
0
ilustrasi foto retro 80an 16x9 1000kb
854
SHARES
1.2k
VIEWS

Ada yang aneh dari tren foto AI belakangan ini. Kita sedang membuat kenangan dari sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Wajah kita dipindahkan ke ruang tamu tahun 1980-an. Rambut dibuat ikal seperti anak muda zaman dulu. Pakaian diganti. Warna foto dibuat kusam, seolah-olah baru ditemukan dari album keluarga yang puluhan tahun tersimpan di lemari.

Kita melihat hasilnya dan tertawa.

Padahal kita tahu, foto itu tidak pernah ada.

Tren foto bergaya 1980-an memang ramai beredar di media sosial pada September 2026. Dengan bantuan AI, foto masa kini dapat diubah menjadi potret bergaya retro, mulai dari pakaian, rambut, latar, pencahayaan, hingga tekstur foto lama.

Tidak ada yang aneh dengan keinginan untuk mencobanya. Kita memang suka membayangkan diri dalam kehidupan yang berbeda. Kita pernah mencoba pakaian orang tua, melihat foto masa muda mereka, atau sekadar bertanya-tanya seperti apa wajah kita jika hidup beberapa puluh tahun lebih awal.

AI hanya membuat permainan itu menjadi jauh lebih mudah.

Namun, justru karena mudah, saya ingin berhenti sebentar di satu pertanyaan: sebenarnya apa yang sedang kita cari ketika ingin melihat diri sendiri sebagai orang yang tidak pernah kita jadi?

Mungkin jawabannya sederhana. Kita ingin terlihat.

Bukankah itu yang selama ini kita lakukan di media sosial?

Kita mengambil banyak foto, memilih satu yang paling bagus, membuang sisanya. Mencari sudut wajah yang pas, mengatur pencahayaan, memilih pakaian, kemudian menulis keterangan. Foto yang kurang sesuai dengan bayangan kita bisa saja tidak pernah sampai ke linimasa.

Kita menyebutnya memilih foto.

Erving Goffman mungkin akan melihatnya sebagai bagian dari pertunjukan sosial.

Dalam gagasan dramaturginya, kehidupan sehari-hari dapat dibayangkan seperti sebuah panggung. Di hadapan orang lain, kita menampilkan diri dan mengatur kesan seperti apa yang ingin muncul. Ada bagian diri yang kita pertontonkan dan ada bagian yang kita simpan di belakang panggung.

Media sosial membuat panggung itu ada hampir sepanjang waktu.

Baca Juga

Bahasa menyampaikan kata, tetapi sensitivitas sosial menyampaikan makna. ( iIlustrasi AI )

Bahasa Bukan Sekadar Kata: Sensitivitas Sosial dalam Komunikasi

13 September 2026
akuntansi mnj

Penerapan Metode Kalkulasi Biaya Produksi Tradisional sebagai Dasar Penetapan Harga Jual pada UMKM

13 September 2026
IMG 4253

Ekonomi itu apa sih? Yuk kenalan dengan Pengertian dan Fungsinya

13 September 2026
Sempat Jadi Kuli Bangunan 1

Mahasiswa Harus Bisa Semuanya

13 September 2026

Bedanya, sekarang kita tidak hanya memilih bagaimana ingin terlihat. Kita bisa meminta mesin menciptakan bagaimana kita ingin terlihat.

Dulu kita mungkin bertanya, “Dari sepuluh foto ini, mana yang paling bagus?”

Sekarang kita bisa berkata kepada AI, “Buat saya seperti ini.”

Di situlah foto AI menjadi lebih menarik daripada sekadar tren.

Ia memperlebar jarak antara diri yang kita jalani dan diri yang kita tampilkan.

Kita bisa menjadi tua tanpa bertambah usia. Menjadi muda tanpa kembali ke masa lalu. Berada di sebuah tempat tanpa pernah datang ke sana. Memakai pakaian yang tidak pernah kita punya. Bahkan menciptakan situasi yang tidak pernah berlangsung.

Tidak ada yang otomatis salah dengan itu. Tetapi panggung tidak pernah hanya berisi pemain.

Ada penonton.

Dan penonton media sosial punya kebiasaan yang menarik. Mereka tidak hanya melihat. Mereka ikut memberi makna.

Seseorang mengunggah foto AI. Orang lain meminta prompt. Teman menandai temannya. Yang lain ingin mencoba. Ada yang mengatakan tidak tertarik. Ada yang bercanda. Ada pula yang mulai mempertanyakan apa yang terjadi pada foto setelah diunggah.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sebuah tren tidak dibesarkan oleh teknologi sendirian.

Kitalah yang membuatnya ramai.

Kita meniru.

Kita membagikan.

Kita mengomentari.

Kita mengajak orang lain ikut.

Lalu orang lain melakukan hal yang sama.

Yang semula hanya sebuah fitur berubah menjadi kebiasaan bersama.

Tetapi ada titik ketika permainan itu mulai terasa berbeda: ketika wajah yang kita gunakan bukan lagi wajah kita sendiri.

 

Di internet, foto orang lain bisa menjadi bahan yang terasa mudah untuk dimainkan. Wajahnya dapat ditempatkan dalam situasi yang tidak pernah ia alami. Pakaiannya bisa diubah. Penampilannya bisa direkayasa. Setelah itu gambar beredar dan orang-orang mulai berkomentar.

Lalu seseorang berkata, “Santai, itu kan cuma AI.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tetapi coba kita balik.

Bagaimana kalau wajah di gambar itu wajah kita?

Bagaimana kalau kita tidak pernah memberikan izin?

Bagaimana kalau gambar itu membuat orang lain melihat kita dengan cara yang tidak pernah kita pilih?

Di sini persoalannya bukan lagi apakah gambarnya asli.

Orangnya tetap asli.

Wajahnya asli. Namanya asli. Hubungan sosialnya asli. Dan apa yang dirasakan seseorang ketika citranya dipakai tanpa persetujuan juga tidak menjadi fiksi hanya karena gambar tersebut dibuat mesin.

Karena itu, “bisa dibuat” dan “layak dibuat” adalah dua perkara berbeda.

AI membuat banyak hal menjadi mudah. Namun kemudahan teknis tidak otomatis menghapus batas sosial.

Kita boleh bercanda dengan foto sendiri. Kita boleh membuat versi retro dari wajah sendiri. Kita boleh menganggapnya lucu dan membagikannya kepada teman.

Tetapi ketika wajah orang lain masuk ke dalam permainan, ada sesuatu yang berubah.

Kita tidak lagi sepenuhnya berurusan dengan diri sendiri.

Ada orang lain yang punya hak untuk menentukan bagaimana dirinya ingin dilihat.

Dan mungkin di sinilah kolom komentar perlu kita lihat lebih dekat.

Komentar bukan sekadar tulisan kecil di bawah foto. Ia bisa ikut menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan. Pujian bisa membentuk citra. Candaan bisa mempermalukan. Permintaan yang tampak sederhana bisa mendorong orang lain melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Ketika satu orang meminta, yang lain mencoba.

Ketika yang lain mencoba, orang ketiga merasa wajar ikut meminta.

Batas sosial kadang bergeser bukan karena seseorang tiba-tiba berniat buruk, tetapi karena sesuatu yang awalnya terasa tidak biasa perlahan menjadi biasa.

Hal yang sama berlaku pada foto milik kita sendiri.

Kita tidak bisa mengatakan setiap layanan AI pasti menyimpan atau menyalahgunakan foto pengguna. Kebijakan tiap layanan berbeda. Karena itu, persoalannya bukan menebar ketakutan, melainkan memahami apa yang kita setujui ketika memasukkan foto ke sebuah layanan digital.

Sebab foto wajah bukan sekadar gambar.

Ia adalah bagian dari cara kita dikenali.

Ada identitas di sana. Ada tubuh. Ada kehidupan yang mungkin ikut terekam dalam latar. Kadang ada orang lain yang bahkan tidak tahu wajahnya ikut masuk ke dalam sebuah unggahan.

Semua itu dapat terasa begitu kecil ketika kita sedang duduk sambil menunggu gambar AI selesai dibuat.

Tidak ada alarm.

Tidak ada pintu yang terdengar tertutup.

Kita hanya memilih foto, menulis perintah, lalu menekan tombol.

Mungkin karena itu, kita jarang merasa sedang membuat keputusan yang akan masuk ke ruang sosial yang lebih luas.

Besok tren ini bisa saja lewat. Linimasa akan menemukan permainan baru. Kita kembali melihat orang lain melakukan sesuatu, lalu memutuskan apakah ingin ikut.

Barangkali ikut tidak masalah.

Barangkali tidak ikut juga bukan masalah.

Yang menarik adalah apa yang terjadi di antara keduanya.

Ketika kita melihat banyak orang melakukannya, lalu tiba-tiba ingin melakukan hal yang sama, apakah itu masih sepenuhnya pilihan pribadi?

Ketika kita melihat wajah orang lain diubah dan merasa bebas berkomentar, apakah karena gambarnya buatan AI kita merasa batas terhadap orang di dalamnya ikut berubah?

Dan ketika kita sendiri menyerahkan wajah kepada sebuah teknologi agar dibentuk menjadi apa pun yang kita inginkan, mungkin ada satu pertanyaan yang pantas dibawa pulang dari tren yang katanya cuma main-main ini:

seberapa jauh kita ingin mengatur cara orang lain melihat kita, dan seberapa jauh kita bersedia membiarkan orang lain mengatur cara kita terlihat?

    Tags: foto
    Share342Tweet214Share60Pin77SendShare
    Leaderboard apa apa
    Previous Post

    Antusias Ikuti Extranas 2026, Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Sukodadi Siap Tambah Wawasan di LSC Lamongan

    Next Post

    Sosialisasi Hemat Energi Listrik, Mahasiswa GIAT UNNES Ajak Ibu PKK Desa Kenteng Bijak Menggunakan Energi

    Dinda Fatimah Zahra

    Dinda Fatimah Zahra

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Related Posts

    Bahasa menyampaikan kata, tetapi sensitivitas sosial menyampaikan makna. ( iIlustrasi AI )

    Bahasa Bukan Sekadar Kata: Sensitivitas Sosial dalam Komunikasi

    13 September 2026
    akuntansi mnj

    Penerapan Metode Kalkulasi Biaya Produksi Tradisional sebagai Dasar Penetapan Harga Jual pada UMKM

    13 September 2026
    IMG 4253

    Ekonomi itu apa sih? Yuk kenalan dengan Pengertian dan Fungsinya

    13 September 2026
    Sempat Jadi Kuli Bangunan 1

    Mahasiswa Harus Bisa Semuanya

    13 September 2026
    Next Post
    foto wardah 1

    Sosialisasi Hemat Energi Listrik, Mahasiswa GIAT UNNES Ajak Ibu PKK Desa Kenteng Bijak Menggunakan Energi

    Sempat Jadi Kuli Bangunan 1

    Mahasiswa Harus Bisa Semuanya

    IMG 4253

    Ekonomi itu apa sih? Yuk kenalan dengan Pengertian dan Fungsinya

    WhatsApp Image 2026 09 12 at 9.57.22 PM

    Afifah Persembahkan Juara 3 Bulu Tangkis PKM Tingkat Kota untuk MAN 1 Yogyakarta

    akuntansi mnj

    Penerapan Metode Kalkulasi Biaya Produksi Tradisional sebagai Dasar Penetapan Harga Jual pada UMKM

    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    WhatsApp Image 2026 09 13 at 6.22.45 AM

    MAN 1 Yogyakarta Berdiri di Puncak Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ)#4

    13 September 2026
    IMG 20260913 WA0003

    Sabtu Sehati, WBP Lapas Arjasa Kompak Jaga Kebersihan Hunian

    13 September 2026
    Bahasa menyampaikan kata, tetapi sensitivitas sosial menyampaikan makna. ( iIlustrasi AI )

    Bahasa Bukan Sekadar Kata: Sensitivitas Sosial dalam Komunikasi

    13 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 13 at 5.39.59 AM

    Dukungan Penuh MAN 1 Yogyakarta untuk Dua Duta Terbaik di MTQ Nasional XXXI Semarang

    13 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 13 at 5.31.55 AM

    Sinergi Dua Madrasah Rujukan: MAN 1 Yogyakarta Gelar Benchmarking Strategic Collaboration ke MAN 2 Kudus

    13 September 2026
    akuntansi mnj

    Penerapan Metode Kalkulasi Biaya Produksi Tradisional sebagai Dasar Penetapan Harga Jual pada UMKM

    13 September 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Iklan MC DSA Square
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita