Ada yang aneh dari tren foto AI belakangan ini. Kita sedang membuat kenangan dari sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Wajah kita dipindahkan ke ruang tamu tahun 1980-an. Rambut dibuat ikal seperti anak muda zaman dulu. Pakaian diganti. Warna foto dibuat kusam, seolah-olah baru ditemukan dari album keluarga yang puluhan tahun tersimpan di lemari.
Kita melihat hasilnya dan tertawa.
Padahal kita tahu, foto itu tidak pernah ada.
Tren foto bergaya 1980-an memang ramai beredar di media sosial pada September 2026. Dengan bantuan AI, foto masa kini dapat diubah menjadi potret bergaya retro, mulai dari pakaian, rambut, latar, pencahayaan, hingga tekstur foto lama.
Tidak ada yang aneh dengan keinginan untuk mencobanya. Kita memang suka membayangkan diri dalam kehidupan yang berbeda. Kita pernah mencoba pakaian orang tua, melihat foto masa muda mereka, atau sekadar bertanya-tanya seperti apa wajah kita jika hidup beberapa puluh tahun lebih awal.
AI hanya membuat permainan itu menjadi jauh lebih mudah.
Namun, justru karena mudah, saya ingin berhenti sebentar di satu pertanyaan: sebenarnya apa yang sedang kita cari ketika ingin melihat diri sendiri sebagai orang yang tidak pernah kita jadi?
Mungkin jawabannya sederhana. Kita ingin terlihat.
Bukankah itu yang selama ini kita lakukan di media sosial?
Kita mengambil banyak foto, memilih satu yang paling bagus, membuang sisanya. Mencari sudut wajah yang pas, mengatur pencahayaan, memilih pakaian, kemudian menulis keterangan. Foto yang kurang sesuai dengan bayangan kita bisa saja tidak pernah sampai ke linimasa.
Kita menyebutnya memilih foto.
Erving Goffman mungkin akan melihatnya sebagai bagian dari pertunjukan sosial.
Dalam gagasan dramaturginya, kehidupan sehari-hari dapat dibayangkan seperti sebuah panggung. Di hadapan orang lain, kita menampilkan diri dan mengatur kesan seperti apa yang ingin muncul. Ada bagian diri yang kita pertontonkan dan ada bagian yang kita simpan di belakang panggung.
Media sosial membuat panggung itu ada hampir sepanjang waktu.
Bedanya, sekarang kita tidak hanya memilih bagaimana ingin terlihat. Kita bisa meminta mesin menciptakan bagaimana kita ingin terlihat.
Dulu kita mungkin bertanya, “Dari sepuluh foto ini, mana yang paling bagus?”
Sekarang kita bisa berkata kepada AI, “Buat saya seperti ini.”
Di situlah foto AI menjadi lebih menarik daripada sekadar tren.
Ia memperlebar jarak antara diri yang kita jalani dan diri yang kita tampilkan.
Kita bisa menjadi tua tanpa bertambah usia. Menjadi muda tanpa kembali ke masa lalu. Berada di sebuah tempat tanpa pernah datang ke sana. Memakai pakaian yang tidak pernah kita punya. Bahkan menciptakan situasi yang tidak pernah berlangsung.
Tidak ada yang otomatis salah dengan itu. Tetapi panggung tidak pernah hanya berisi pemain.
Ada penonton.
Dan penonton media sosial punya kebiasaan yang menarik. Mereka tidak hanya melihat. Mereka ikut memberi makna.
Seseorang mengunggah foto AI. Orang lain meminta prompt. Teman menandai temannya. Yang lain ingin mencoba. Ada yang mengatakan tidak tertarik. Ada yang bercanda. Ada pula yang mulai mempertanyakan apa yang terjadi pada foto setelah diunggah.
Dari sini kita bisa melihat bahwa sebuah tren tidak dibesarkan oleh teknologi sendirian.
Kitalah yang membuatnya ramai.
Kita meniru.
Kita membagikan.
Kita mengomentari.
Kita mengajak orang lain ikut.
Lalu orang lain melakukan hal yang sama.
Yang semula hanya sebuah fitur berubah menjadi kebiasaan bersama.
Tetapi ada titik ketika permainan itu mulai terasa berbeda: ketika wajah yang kita gunakan bukan lagi wajah kita sendiri.
Di internet, foto orang lain bisa menjadi bahan yang terasa mudah untuk dimainkan. Wajahnya dapat ditempatkan dalam situasi yang tidak pernah ia alami. Pakaiannya bisa diubah. Penampilannya bisa direkayasa. Setelah itu gambar beredar dan orang-orang mulai berkomentar.
Lalu seseorang berkata, “Santai, itu kan cuma AI.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Tetapi coba kita balik.
Bagaimana kalau wajah di gambar itu wajah kita?
Bagaimana kalau kita tidak pernah memberikan izin?
Bagaimana kalau gambar itu membuat orang lain melihat kita dengan cara yang tidak pernah kita pilih?
Di sini persoalannya bukan lagi apakah gambarnya asli.
Orangnya tetap asli.
Wajahnya asli. Namanya asli. Hubungan sosialnya asli. Dan apa yang dirasakan seseorang ketika citranya dipakai tanpa persetujuan juga tidak menjadi fiksi hanya karena gambar tersebut dibuat mesin.
Karena itu, “bisa dibuat” dan “layak dibuat” adalah dua perkara berbeda.
AI membuat banyak hal menjadi mudah. Namun kemudahan teknis tidak otomatis menghapus batas sosial.
Kita boleh bercanda dengan foto sendiri. Kita boleh membuat versi retro dari wajah sendiri. Kita boleh menganggapnya lucu dan membagikannya kepada teman.
Tetapi ketika wajah orang lain masuk ke dalam permainan, ada sesuatu yang berubah.
Kita tidak lagi sepenuhnya berurusan dengan diri sendiri.
Ada orang lain yang punya hak untuk menentukan bagaimana dirinya ingin dilihat.
Dan mungkin di sinilah kolom komentar perlu kita lihat lebih dekat.
Komentar bukan sekadar tulisan kecil di bawah foto. Ia bisa ikut menentukan bagaimana seseorang dipersepsikan. Pujian bisa membentuk citra. Candaan bisa mempermalukan. Permintaan yang tampak sederhana bisa mendorong orang lain melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Ketika satu orang meminta, yang lain mencoba.
Ketika yang lain mencoba, orang ketiga merasa wajar ikut meminta.
Batas sosial kadang bergeser bukan karena seseorang tiba-tiba berniat buruk, tetapi karena sesuatu yang awalnya terasa tidak biasa perlahan menjadi biasa.
Hal yang sama berlaku pada foto milik kita sendiri.
Kita tidak bisa mengatakan setiap layanan AI pasti menyimpan atau menyalahgunakan foto pengguna. Kebijakan tiap layanan berbeda. Karena itu, persoalannya bukan menebar ketakutan, melainkan memahami apa yang kita setujui ketika memasukkan foto ke sebuah layanan digital.
Sebab foto wajah bukan sekadar gambar.
Ia adalah bagian dari cara kita dikenali.
Ada identitas di sana. Ada tubuh. Ada kehidupan yang mungkin ikut terekam dalam latar. Kadang ada orang lain yang bahkan tidak tahu wajahnya ikut masuk ke dalam sebuah unggahan.
Semua itu dapat terasa begitu kecil ketika kita sedang duduk sambil menunggu gambar AI selesai dibuat.
Tidak ada alarm.
Tidak ada pintu yang terdengar tertutup.
Kita hanya memilih foto, menulis perintah, lalu menekan tombol.
Mungkin karena itu, kita jarang merasa sedang membuat keputusan yang akan masuk ke ruang sosial yang lebih luas.
Besok tren ini bisa saja lewat. Linimasa akan menemukan permainan baru. Kita kembali melihat orang lain melakukan sesuatu, lalu memutuskan apakah ingin ikut.
Barangkali ikut tidak masalah.
Barangkali tidak ikut juga bukan masalah.
Yang menarik adalah apa yang terjadi di antara keduanya.
Ketika kita melihat banyak orang melakukannya, lalu tiba-tiba ingin melakukan hal yang sama, apakah itu masih sepenuhnya pilihan pribadi?
Ketika kita melihat wajah orang lain diubah dan merasa bebas berkomentar, apakah karena gambarnya buatan AI kita merasa batas terhadap orang di dalamnya ikut berubah?
Dan ketika kita sendiri menyerahkan wajah kepada sebuah teknologi agar dibentuk menjadi apa pun yang kita inginkan, mungkin ada satu pertanyaan yang pantas dibawa pulang dari tren yang katanya cuma main-main ini:
seberapa jauh kita ingin mengatur cara orang lain melihat kita, dan seberapa jauh kita bersedia membiarkan orang lain mengatur cara kita terlihat?























