Jakarta – KH Zulfa Mustofa mengingatkan warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak hanya mengaku sebagai bagian dari NU melalui amaliah keagamaan, tetapi juga menunjukkan sikap moderat dan toleran ketika menghadapi perbedaan pandangan.
Ia menegaskan, identitas ke-NU-an tidak cukup ditunjukkan melalui praktik keagamaan, tetapi juga harus tercermin dalam cara berpikir dan bersikap terhadap orang yang berbeda pandangan.
“Kalau cara berpikir keagamaan dan bernegaranya satu, terlihat sifat moderatnya. Terlihat sifat tawasuth moderat itu. Terlihat tolerannya. Toleransinya ketika berbeda pendapat,” ujarnya dalam tausiyah pada peringatan Hari Santri yang dirangkaikan dengan peresmian kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/10/2026).
KH Zulfa menjelaskan, identitas ke-NU-an mencakup tiga aspek, yakni fikratan atau pola pikir, amaliyatan atau praktik keagamaan, dan harakatan atau gerakan organisasi. Ketiganya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga NU.
Ia juga menegaskan hubungan erat antara NU dan pesantren. Menurutnya, pesantren merupakan ruang penting untuk memahami tradisi dan corak keagamaan Nahdlatul Ulama.
“Pesantren adalah NU kecil atau miniatur Nahdlatul Ulama dan NU itu sendiri adalah pesantren besar. Kalau anda ingin melihat Nahdlatul Ulama, datanglah ke pesantren,” tuturnya.
Ia turut menyebut sejumlah amaliah yang lekat dengan tradisi warga NU, seperti qunut Subuh, pembacaan Yasin, tawasul, Barzanji, selawat, zikir, dan ziarah kubur. Namun, identitas ke-NU-an juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama ketika menyikapi perbedaan.
























