Jakarta — Koordinasi internal menjadi salah satu modal penting dalam membangun kemandirian organisasi. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tanjung Priok, Ustadz H. Ahmad Munji, saat peresmian kantor MWCNU Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/10/2026).
Ahmad Munji menilai, kesamaan langkah antarpengurus diperlukan agar potensi organisasi dapat digerakkan secara bersama. Menurutnya, keputusan yang diambil melalui koordinasi internal yang kuat menjadi landasan untuk menjalankan program organisasi.
“Apapun keputusan yang kita ambil adalah berkah sebuah koordinasi internal yang kuat,” ujarnya dalam sesi wawancara.
Ia menjelaskan, kantor MWCNU Tanjung Priok terdiri atas dua lantai yang dirancang untuk menunjang kegiatan organisasi. Lantai atas memiliki ruangan untuk badan otonom (banom), kesekretariatan, dan MWCNU, serta area terbuka dan ruang pertemuan internal.
Sementara itu, lantai bawah direncanakan menjadi kafe yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pemasukan untuk mendukung kebutuhan organisasi. Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya memanfaatkan ruang yang tersedia agar dapat berkontribusi terhadap keberlangsungan kegiatan NU.
Ahmad Munji juga menyoroti potensi pengurus ranting dalam mendukung kemandirian organisasi. Dalam wawancara, ia menyebut tujuh ranting sebagai bagian dari kekuatan internal yang dapat digerakkan melalui koordinasi. Ia menilai, ketika pengurus dan unsur organisasi memiliki satu arah, berbagai potensi tersebut akan lebih mudah dihimpun.
Menurutnya, upaya membangun kemandirian tidak hanya bertumpu pada satu sumber dukungan. Ia menyebut masih ada potensi dari berbagai unsur NU, tokoh lingkungan, serta sumber daya lain yang dapat dijajaki untuk membantu memenuhi kebutuhan organisasi.
Peresmian kantor dilakukan oleh KH Zulfa Mustofa melalui prosesi gunting pita. Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Santri tersebut turut diisi dengan ikrar santri, pertunjukan musik, dan bazar makanan yang dikelola unsur badan otonom NU.
Sekretaris Kecamatan Tanjung Priok Muhammad Yohan, yang hadir mewakili camat, mengapresiasi pembangunan kantor tersebut. Ia membandingkan fasilitas pemerintah yang menggunakan anggaran negara dengan kantor MWCNU yang diwujudkan melalui partisipasi warga.
“Kalau pembangunan kantor BMKG tentunya dari APBN, kalau ini dari kita untuk kita,” ujarnya.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH Zulfa Mustofa mengingatkan hubungan erat NU dengan pesantren sebagai ruang pembentukan tradisi keilmuan dan amaliah keagamaan warga Nahdliyin.
“Pesantren adalah NU kecil atau miniatur Nahdlatul Ulama dan NU itu sendiri adalah pesantren besar. Kalau Anda ingin melihat Nahdlatul Ulama, datanglah ke pesantren,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan bazar dengan beragam sajian, mulai dari bubur ayam, nasi bakar, mi jebew, nasi uduk, hingga nasi pecel. Keterlibatan unsur organisasi dalam kegiatan tersebut turut memperlihatkan partisipasi warga dalam menghidupkan ruang bersama bagi Nahdliyin.

























