Jakarta — Ada perubahan menarik dalam cara manusia menemukan pengetahuan. Dahulu seseorang membuka mesin pencari, menulis kata kunci, lalu memilah sejumlah tautan. Kini semakin banyak pengguna cukup mengajukan pertanyaan lengkap kepada artificial intelligence dan menerima jawaban yang sudah diringkas, dibandingkan, serta dilengkapi rekomendasi.
Perubahan tersebut menempatkan mesin AI bukan sekadar sebagai teknologi pembuat teks, melainkan sebagai perantara baru antara informasi dan masyarakat.
Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani melihat fenomena ini mempunyai dampak lebih luas daripada sekadar teknik digital marketing. Menurutnya, berkembangnya Generative Engine Optimization atau GEO menunjukkan bahwa reputasi digital mulai memasuki fase ketika informasi tentang seseorang maupun organisasi tidak hanya dibaca manusia, tetapi juga ditafsirkan oleh mesin.
“Selama ini kita sibuk memikirkan bagaimana manusia melihat profil digital kita. Sekarang ada lapisan baru. Mesin juga membaca jejak tersebut, menghubungkan berbagai informasi, lalu menjawab pertanyaan pengguna berdasarkan apa yang berhasil dipahaminya,” ujar Madani.
Madani yang aktif sebagai praktisi AI Visibility-GEO, Sales Evolution Trainer, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS Digital Marketing Nasional tersebut menilai hal itu membawa perubahan besar terhadap konsep reputasi.
Brand tidak lagi cukup dikenal. Ia harus dapat dijelaskan.
Seorang profesional tidak cukup menulis bahwa dirinya ahli. Ia membutuhkan karya, pengalaman, publikasi, aktivitas, dan referensi yang secara konsisten memperkuat bidang keahliannya. Sebuah sekolah tidak cukup mengklaim unggul. Ekosistem digitalnya perlu memperlihatkan kegiatan, prestasi, program, kolaborasi, dan kompetensi yang dapat diverifikasi.
Demikian pula sebuah pesantren, UMKM, perusahaan, komunitas, maupun organisasi.
“Di sinilah GEO menjadi menarik. GEO sebenarnya memaksa kita kembali kepada substansi. Kalau tidak ada pengalaman, karya, pemikiran, dan bukti yang bisa dibaca, apa yang ingin kita minta kepada AI untuk direkomendasikan?” katanya.
Perubahan tersebut semakin nyata ketika platform besar mengembangkan sistem pencarian berbasis generative AI. Google telah mengembangkan AI Overviews dan AI Mode, sementara ChatGPT Search dan Perplexity dapat mencari serta menyajikan informasi dengan sumber pendukung. Google bahkan pada 2026 menyediakan pelaporan tersendiri untuk membantu pemilik situs melihat visibilitas mereka di fitur generative AI Search.
Bagi Madani, fenomena tersebut perlu dibaca bukan hanya oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh dunia pendidikan.
Dalam berbagai kegiatan edukasi pemasaran dan vokasi yang dijalaninya, Madani mendorong siswa untuk tidak berhenti menjadi pengguna media sosial. Mereka perlu mulai membangun identitas profesional, portofolio, dokumentasi karya, serta jejak pemikiran yang dapat ditemukan di ruang digital.
Ia melihat LinkedIn, website, media, artikel, dokumentasi proyek, dan berbagai kanal digital lain bukan semata tempat publikasi. Semuanya membentuk kumpulan bukti yang menjelaskan identitas seseorang.
“Anak muda hari ini mungkin berpikir personal branding sekadar foto bagus dan feed yang rapi. Padahal reputasi digital masa depan jauh lebih dalam. Pertanyaannya adalah: ketika AI mencari tahu tentang kita, adakah cukup bukti untuk menjelaskan siapa kita dan apa yang kita kerjakan?” ujarnya.
Dalam perspektif pemasaran, Madani menyebut pergeseran dari SEO menuju GEO bukan berarti Search Engine Optimization kehilangan fungsi. Google sendiri masih menegaskan bahwa SEO tetap menjadi fondasi fitur AI generatifnya. Yang berubah adalah pusat perhatian strateginya.
Jika dulu tujuan akhirnya adalah mencapai posisi atas hasil pencarian agar mendapatkan klik, kini sebuah brand juga perlu mempertimbangkan apakah informasi tentang dirinya cukup bernilai untuk menjadi bagian dari jawaban.
Menurut Madani, ada tiga kata yang akan semakin penting: dipahami, dipercaya, dan direkomendasikan.
“Kita memasuki zaman ketika reputasi manusia dan organisasi akan berinteraksi dengan mesin. Karena itu jangan sekadar memenuhi internet dengan konten. Isi internet dengan jejak yang benar, berguna, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pada akhirnya, GEO bukan hanya cerita tentang algoritma baru. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kemajuan artificial intelligence, otoritas tetap lahir dari pengalaman nyata, pengetahuan yang berguna, dan kepercayaan yang dibangun dalam waktu panjang.























