Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Satu unggahan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun. Kesadaran inilah yang menjadi pesan utama dalam Seminar Bijak Bermedia Sosial yang diselenggarakan MAN 1 Yogyakarta pada Jumat (16/10/2026) siang di aula madrasah.
Kegiatan kokurikuler tersebut diikuti seluruh murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta dengan pendampingan wali kelas dan Tim Kokurikuler. Seminar menghadirkan Mohamas Akyas, Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) RI, untuk mengajak murid memahami pentingnya menjaga etika, privasi, dan tanggung jawab di ruang digital.
Mengawali pemaparannya, Mohamas Akyas mengajak peserta mencermati realitas penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, mulai dari berkomunikasi, mencari informasi, hingga membagikan berbagai momen pribadi. Namun, kemudahan mengunggah konten sering kali tidak diimbangi dengan pertimbangan yang matang mengenai dampaknya.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal layak dibagikan ke ruang publik. Sebelum mengunggah foto atau video, murid perlu memastikan bahwa konten tersebut tidak melanggar privasi orang lain. Persetujuan dari orang-orang yang berada dalam foto atau video juga perlu diperoleh sebelum konten dipublikasikan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa aktivitas bermedia sosial bukan semata-mata persoalan kebebasan berekspresi. Ada hak orang lain yang harus dihormati, termasuk hak untuk menentukan apakah dirinya bersedia ditampilkan di ruang digital.
“Jejak hari ini adalah portofolio masa depan. Jaga akhlak digital sebagai cerminan diri dan madrasah,” pesan Mohamas Akyas kepada para peserta.
Menurutnya, unggahan di media sosial dapat menjadi bagian dari rekam jejak seseorang yang kelak berpengaruh terhadap reputasi pribadi maupun lingkungan tempatnya belajar. Karena itu, murid perlu membangun kebiasaan berpikir sebelum mengunggah sesuatu, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar perhatian pengguna lain.
Untuk membantu murid mengambil keputusan sebelum membagikan konten, ia memperkenalkan tiga filter kebebasan sebelum mengunggah, yakni cek privasi, cek norma, dan cek konsekuensi.
Filter pertama, cek privasi, mengajak murid memastikan bahwa konten yang akan dibagikan tidak membocorkan informasi pribadi atau melanggar hak orang lain. Filter kedua, cek norma, menekankan pentingnya mempertimbangkan etika, kesopanan, serta nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Adapun filter ketiga, cek konsekuensi, mengajak murid memikirkan dampak yang mungkin timbul setelah konten tersebar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Tiga langkah sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pengguna memiliki kendali atas apa yang dibagikannya. Sebelum menekan tombol unggah, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri “Apakah konten ini aman, pantas, dan siap dipertanggungjawabkan?”
Di tempat terpisah, Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut sebagai bagian dari upaya madrasah membekali murid dengan kecakapan yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini.
“Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian murid. Karena itu, mereka tidak cukup hanya mampu menggunakannya, tetapi juga perlu memahami etika dan tanggung jawab di balik setiap unggahan. Kami berharap kegiatan ini membuat murid lebih bijak, mampu menjaga diri dan menghormati orang lain, sekaligus membawa nama baik madrasah di ruang digital,” ujarnya.
Seminar berlangsung interaktif dan diakhiri dengan diskusi menarik mengenai berbagai persoalan di dunia digital. Para murid memperoleh kesempatan untuk membahas fenomena media sosial serta mendalami pentingnya mengambil keputusan secara bertanggung jawab ketika beraktivitas di internet. (dee)






















