TRENGGALEK — Upaya percepatan transisi ekonomi hijau di kawasan perdesaan kian nyata melalui perpaduan antara rekayasa teknologi energi bersih dan pembenahan tata kelola pemasaran biofarmaka yang adil. Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat gabungan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menginisiasi program pendampingan terpadu pada Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Sari Bumi di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek Langkah strategis ini dirancang untuk memecahkan hambatan ganda mitra: kerentanan tata niaga petani akibat ketergantungan pada pembeli tunggal industri (single buyer), serta kurang optimalnya proses pengeringan pada fasilitas Solar Dome Dryer yang kerap terganggu cuaca lembab di dataran tinggi Pule. Di balik melimpahnya potensi tanaman biofarmaka yang mencapai 4.500 ton per tahun, Kecamatan Pule di Kabupaten Trenggalek masih menghadapi paradoks kesejahteraan.Berdasarkan kajian praktik keperantaraan pasar, kawasan ini tercatat sebagai salah satu kantong kemiskinan di Trenggalek.Keterbatasan kepemilikan aset produktif, pola budidaya yang masih tradisional, serta minimnya akses keuangan—di mana hanya 25,6% rumah tangga miskin dan rentan yang tersentuh perbankan—membuat petani lokal terus bergantung pada jerat tengkulak dan rantai pemasaran dengan nilai tambah yang sangat rendah. Kondisi rentan tersebut berakar pada dua aspek utama: manajemen tata kelola kelembagaan dan efisiensi teknologi pascapanen. Pada kunjungan pertama, tim pengabdi UPN “Veteran” Jatim memfokuskan agenda pada sosialisasi kelembagaan serta asesmen mendalam melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pengurus dan kelompok tani. Pertemuan ini membedah profil petani, kondisi produk, tata niaga harga saat panen raya, pencatatan logbook produksi, kalender diversifikasi komoditas untuk menekan masa fasilitas menganggur (3–4 bulan per tahun), dan pemetaan kebutuhan optimalisasi teknologi pengering. Ketua Tim Pengabdian, Bapak Wirya Wardaya, menegaskan pentingnya pembenahan tata kelola ini. “Penguatan manajemen BUMDESMA menjadi prioritas utama kami, terutama untuk melepaskan ketergantungan dari pembeli tunggal. Melalui perancangan SOP yang terstandar dan skema mitigasi tata niaga, kami mendorong agar kelembagaan ini memiliki daya tawar yang lebih kuat sehingga harga di tingkat petani tidak anjlok saat panen raya,” tegas Wirya. Memasuki kunjungan kedua (1–2 Agustus 2026), tim UPN “Veteran” Jatim bersama tim teknis dari ITS langsung mengeksekusi pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrida terotomasi pada unit Solar Dome Dryer kapasitas 1,6 ton. Intervensi teknologi ini berhasil mengatasi keterbatasan termodinamika alami kubah yang sebelumnya memicu risiko pembusukan dan memakan waktu 7–10 hari saat mendung sehingga kini mampu memangkas durasi pengeringan dari 3 hari menjadi hanya 1,5 hari secara mandiri energi. Dosen ITS yang memimpin instalasi teknis alat tersebut, Ir. I Putu Eka Widya Pratama, S.Si.,M.Sc., RWTH, memaparkan spesifikasi sistem pembangkit yang dipasang. “Sistem PLTS ini kami rancang secara presisi menggunakan panel surya berkapasitas 585 Watt-peak dan power inverter berdaya maksimal 1.000 Watt.[cite: 1] Energi matahari yang ditangkap tidak hanya langsung digunakan, tetapi juga dialirkan ke dalam baterai 12 Volt 100Ah sebagai penyimpan energi,” terang Ir. Putu Eka. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sistem ini dilengkapi fitur automasi pintar “Terdapat MCB timer yang secara otomatis mengatur kipas (exhaust fan) menyala di jam paling rawan kelembaban, yakni di-setting dari pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB. Adanya baterai memastikan sirkulasi udara yang menarik kelembapan ke luar kubah tetap berjalan optimal meskipun kondisi cuaca sedang mendung atau hujan,” pungkasnya. Melalui integrasi energi baru terbarukan dan penguatan tata niaga berkeadilan ini, kolaborasi pengabdian UPN “Veteran” Jatim dan ITS membuktikan komitmen nyata perguruan tinggi dalam mengawal transisi ekonomi hijau pedesaan serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Sebagai informasi tambahan, kegiatan kolaboratif ini terlaksana melalui jenis program “BIMA” untuk tahun pendanaan 2026. Pelaksanaan program ini didukung penuh dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Penulis : Wirya Wardaya S.E M.Sc; Dr.Wahyu Santoso S.P M.MA; I Putu Eka Widya .P S.Si, M.Sc RWTH; Muhammad Dinov Putra Andoyo; Muhamad Ilham Arrasyid

























