BIAK NUMFOR, 2 September 2026 — Para guru SMK Yapis TIK Biak Numfor mengikuti sesi “Dari Menyuruh Menjadi Menumbuhkan: Strategi Membangun Motivasi, Ownership, dan Keberanian Siswa Pemasaran” bersama Ahmad Madani.
Sesi tersebut dikembangkan dari temuan Monitoring dan Evaluasi Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas yang dilakukan sehari sebelumnya.
Ahmad menjelaskan adanya perbedaan antara membuat siswa patuh dan menumbuhkan kepemilikan terhadap proses belajar. Siswa yang hanya patuh bergerak ketika diperintah, sedangkan siswa dengan ownership memahami alasan, tujuan, dan hubungan tugas dengan masa depannya.
“Guru tidak cukup hanya menyuruh. Guru perlu menumbuhkan. Tujuan akhirnya adalah siswa mampu memimpin dirinya sendiri, memulai tanpa terus diingatkan, dan melihat tugas sebagai proses membangun kompetensi serta portofolio,” ujar Ahmad Madani.
Kepala SMK Yapis TIK Biak Numfor, Darsini, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa penguatan guru menjadi bagian penting dari perbaikan sekolah.
“Perubahan siswa membutuhkan konsistensi pendampingan. Guru perlu mempunyai ruang untuk mengevaluasi pendekatan, saling belajar, dan mengembangkan cara yang mendorong siswa semakin mandiri,” katanya.
Ketua Program Keahlian Pemasaran Bisnis Retail, Fatma Dewi Wuwu, S.Pd., mengatakan bahwa tugas perlu dihubungkan dengan manfaat yang dipahami siswa.
“Ketika siswa melihat bahwa tugas LinkedIn, praktik penjualan, atau presentasi merupakan bekal untuk portofolio dan dunia kerja, motivasinya dapat tumbuh dari dalam, bukan hanya karena mengejar nilai,” ujarnya.
Guru Program Keahlian Pemasaran Bisnis Retail, Army Astuti Apriliyanti, S.E., Gr., menyampaikan bahwa tantangan besar perlu dipecah menjadi langkah kecil.
“Siswa yang malu menjual tidak harus langsung diminta menawarkan kepada banyak orang. Ia dapat memulai dari satu teman atau anggota keluarga. Kemenangan kecil membantu siswa membangun keyakinan untuk naik ke tantangan berikutnya,” katanya.
Ahmad mengajak guru bergeser dari peran “sutradara” menjadi coach. Alih-alih memberikan seluruh jawaban, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti “Bagian mana yang belum dipahami?” atau “Langkah paling kecil apa yang dapat dilakukan hari ini?”
Pendekatan tersebut memberi siswa ruang berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Guru tetap memberikan arah dan bantuan ketika diperlukan.
Penilaian juga perlu memperhatikan proses, bukan hanya jumlah penjualan. Keberanian menawarkan, inisiatif, ketekunan setelah ditolak, kemampuan bekerja sama, serta kualitas perbaikan dapat menjadi indikator perkembangan.
“Siswa yang menawarkan kepada sepuluh orang dan belum memperoleh pembeli tidak otomatis gagal. Ia sedang mengumpulkan data untuk memperbaiki waktu, kalimat pembuka, pemahaman kebutuhan, dan presentasi produk,” kata Ahmad.
Sesi ini diharapkan membantu guru membangun budaya kelas yang menghargai keberanian, proses, dan pertumbuhan setiap siswa.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, guru, serta narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.























