BIAK NUMFOR, 2 September 2026 — Siswa kelas X dan XI Jurusan Pemasaran SMK Yapis TIK Biak Numfor mengikuti sesi penguatan bertajuk “Sales Itu Bukan Soal Bakat: Berani Mulai, Berani Menjual, Berani Punya Masa Depan.”
Sesi disampaikan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani sebagai tindak lanjut Monitoring dan Evaluasi Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas pada 1 September 2026.
Ahmad mengajak siswa meninggalkan anggapan bahwa sales hanya cocok bagi orang yang sejak awal pandai berbicara atau sangat percaya diri.
“Sales profesional dibangun dari keberanian memulai, kemampuan bertanya dan mendengar, kemauan memahami orang lain, serta ketangguhan belajar dari penolakan. Percaya diri tidak selalu datang sebelum tindakan. Sering kali, tindakanlah yang menumbuhkan percaya diri,” ujar Ahmad Madani.
Kepala SMK Yapis TIK Biak Numfor, Darsini, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa penguatan keberanian penting bagi kesiapan masa depan siswa.
“Sekolah ingin siswa tidak hanya menguasai teori pemasaran. Mereka harus berani berkomunikasi, mengambil inisiatif, menunjukkan kemampuan, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya,” ujarnya.
Ketua Program Keahlian Pemasaran Bisnis Retail, Fatma Dewi Wuwu, S.Pd., menyampaikan bahwa hambatan siswa sering kali bukan kurangnya potensi, melainkan keraguan untuk memulai.
“Ketika tantangan dibuat bertahap dan siswa memahami manfaatnya bagi masa depan, mereka lebih mudah bergerak. Praktik menawarkan, presentasi, dan dokumentasi karya perlu terus menjadi bagian dari pembelajaran,” katanya.
Guru Program Keahlian Pemasaran Bisnis Retail, Army Astuti Apriliyanti, S.E., Gr., menilai apresiasi terhadap proses perlu diperkuat.
“Siswa yang berani menawarkan meskipun belum berhasil menjual tetap sedang belajar. Kami perlu melihat keberanian mencoba, kemampuan mengevaluasi, dan perbaikan dari percobaan pertama ke percobaan berikutnya,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, siswa diperkenalkan kepada empat keberanian dasar: berani menawarkan, berani berbicara, berani menunjukkan karya, serta berani gagal dan mencoba kembali.
Ahmad juga menjelaskan bahwa penolakan bukan serangan terhadap harga diri. Calon pelanggan dapat menolak karena belum membutuhkan produk, tidak mempunyai anggaran, waktunya belum tepat, atau cara penawaran masih perlu diperbaiki.
“Penolakan adalah data. Siswa perlu belajar membaca respons, memperbaiki komunikasi, dan mencoba lagi,” katanya.
LinkedIn dan jejak digital turut menjadi bagian materi. Tugas sekolah, praktik menjual, sertifikat, analisis, dokumentasi kegiatan, dan refleksi belajar didorong untuk dikembangkan menjadi portofolio.
“Dunia kerja tidak hanya bertanya, ‘Kamu bisa apa?’ Dunia kerja juga bertanya, ‘Mana buktinya?’ Karena itu, karya siswa perlu ditampilkan sebagai jejak profesional,” tutup Ahmad.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, guru, serta narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.






















