Kabupaten Semarang, 3 Oktober 2026 — Bagi anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni Desa Ketapang, berakhirnya rangkaian pendampingan bukan berarti berakhir pula proses belajar dan mengembangkan usaha. Justru, sebuah langkah baru dimulai. Melalui evaluasi akhir, Tim Pengabdian Cooking Therapy UNNES bersama masyarakat melihat kembali proses yang telah dilaksanakan sekaligus mengidentifikasi peluang keberlanjutan program. Evaluasi menjadi penting untuk memastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan sarana yang telah diberikan dapat benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kegiatan mereka setelah program berakhir.
Selain itu, Tim Pengabdian Cooking Therapy UNNES menyalurkan alat pengering kerupuk, masyarakat Desa Ketapang mendapatkan dukungan sarana yang diharapkan mampu memperkuat kegiatan produksi sekaligus membuka peluang peningkatan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan. Momentum ini menjadi bagian dari evaluasi akhir program pengabdian Cooking Therapy Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang dilaksanakan di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, pada 3 Oktober 2026. Selain itu, program pengabdian ini didanai oleh DP2M dan menjadi rangkaian pemberdayaan masyarakat yang telah berlangsung melalui proses pembelajaran, pendampingan, pengembangan produk, hingga praktik pemasaran.
Kegiatan dihadiri oleh Kepala Desa Ketapang Bapak Muhammad Ni`am, ST., perwakilan PT Astra Motor, Kepala Sekolah Perempuan Teras Harmoni Ibu Nurul Fiqriyah, serta seluruh anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni. Selain itu, Tim pengabdian Cooking Therapy UNNES juga ikut hadir dalam acara ini dengan beranggotakan Achmad Miftachul ‘Ilmi, S.Pd., M.Pd., Edwindha Prafitra Nugraheni, S.Pd., M.Pd., Kons., Setyo Bhahak Fendi Baihaqi, S.ST., M.T., Ahmad Fadlullah, Janu Tri Wibowo, dan Alber Gustafo. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa Ketapang.
Penyerahan pengering kerupuk menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Alat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni sebagai sarana pendukung produksi kerupuk, sehingga proses produksi dapat dilakukan secara lebih optimal dan berkelanjutan. Dengan adanya sarana tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh fasilitas, tetapi juga memiliki modal pendukung untuk melanjutkan kegiatan ekonomi setelah rangkaian pendampingan program selesai. Salah satu anggota mengungkapkan bahwa keberadaan alat tersebut memberikan harapan baru untuk mengembangkan usaha secara lebih konsisten. “Desa Ketapang memiliki produk unggulan kerupuk, semoga dengan adanya pengering kerupuk ini produk yang dihasilkan bisa menjadi lebih mudah dibuat dan melimpah” [Ibu Risma]

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap berbagai proses yang telah dilalui selama program Cooking Therapy. Sebelumnya, masyarakat telah mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan produk, pengelolaan usaha, serta strategi pemasaran. Pengetahuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung melalui uji coba pemasaran produk unggulan dalam kegiatan Memerti Desa Ketapang. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa program tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi diarahkan untuk membangun pengalaman dan kapasitas masyarakat secara bertahap. Masyarakat didorong untuk memahami bagaimana sebuah produk dikembangkan, dikelola, diperkenalkan kepada konsumen, hingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Bahkan salah satu anggota sekolah perempuan menyampaikan bahwa program ini memberikan pemahaman baru, “Program ini menyadarkan saya, bahwa ternyata memasak bisa menjadi salah satu penopang perekonomian keluarga kalau marketingkan dengan benar” [Ibu Icha].
Berakhirnya program pengabdian menjadi awal bagi masyarakat untuk melanjutkan hasil pembelajaran secara mandiri. Pengetahuan mengenai pengelolaan usaha dan strategi pemasaran yang telah diperoleh sebelumnya dapat terus diterapkan dalam pengembangan produk. Keberlanjutan program diharapkan tidak hanya terlihat dari penggunaan alat, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan ekonomi secara mandiri. Selain itu hadirnya dukungan dari pemerintah desa dan berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tersebut. Keterlibatan PT Astra Motor dalam kegiatan ini turut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, sektor swasta, dan kelompok masyarakat.

Rangkaian program Cooking Therapy UNNES di Desa Ketapang juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan produk unggulan, peningkatan kemampuan pemasaran, serta penyediaan sarana produksi merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Penyerahan alat pengering kerupuk merupakan bentuk dukungan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui upaya memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat. Sarana produksi tersebut diharapkan dapat membantu anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan usaha sehingga memiliki peluang untuk memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Di sisi lain, penyediaan alat pengering kerupuk juga sejalan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya melalui dukungan terhadap infrastruktur dan sarana produksi masyarakat. Penggunaan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat diharapkan dapat membantu proses produksi menjadi lebih optimal sekaligus mendorong pengembangan produk lokal. Sementara itu, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini memperkuat kontribusi terhadap SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara UNNES, Pemerintah Desa Ketapang, Sekolah Perempuan Teras Harmoni, PT Astra Motor, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan program pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga memiliki peluang untuk terus berkembang setelah program selesai.
Pada akhirnya, evaluasi akhir dan penyerahan pengering kerupuk bukan sekadar menjadi penutup rangkaian kegiatan Cooking Therapy. Momentum ini menjadi simbol peralihan dari pendampingan menuju kemandirian, ketika masyarakat mulai mengambil peran yang lebih besar dalam mengelola dan mengembangkan potensi ekonominya sendiri. Dengan bekal pengetahuan, pengalaman, jejaring kolaborasi, serta sarana produksi yang telah diperoleh, anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni diharapkan mampu terus mengembangkan produk unggulan Desa Ketapang. Selain itu, keberadaan alat pengering kerupuk diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi dapat menjadi sarana bersama yang mendukung aktivitas ekonomi anggota Sekolah Perempuan Teras Harmoni dan masyarakat Desa Ketapang. Pemanfaatan alat secara kolektif juga diharapkan dapat membuka ruang kerja sama antaranggota dalam proses produksi, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.

























