Energi merupakan salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus penopang jalannya aktivitas perekonomian. Hampir seluruh kegiatan masyarakat memerlukan energi, mulai dari transportasi, kegiatan industri, perdagangan, sampai dengan kebutuhan rumah tangga. Keadaan ini menempatkan industri energi pada posisi yang strategis dalam perekonomian Indonesia. Salah satu entitas yang menempati peran penting di dalam industri tersebut adalah PT Pertamina (Persero).
Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang beroperasi di sektor energi serta menjalankan aktivitas bisnis melalui beragam lini usaha, mulai dari kegiatan hulu minyak dan gas, pengolahan serta petrokimia, perdagangan dan distribusi, hingga upaya pengembangan energi baru dan terbarukan. Dengan ruang lingkup bisnis yang luas, Pertamina tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga berperan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Untuk menilai apakah suatu usaha patut untuk terus dikembangkan, dibutuhkan studi kelayakan bisnis. Kajian tersebut dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang, antara lain aspek pasar, keuangan, sumber daya manusia, operasional, serta prospek bisnis. Berdasarkan pertimbangan pada aspek-aspek tersebut, Pertamina dapat dijadikan salah satu contoh perusahaan yang menarik untuk ditelaah.
Aspek Pasar: Kebutuhan Energi yang Terus Ada
Dari aspek pasar, Pertamina memiliki keunggulan karena produk dan jasa yang ditawarkan berkaitan dengan kebutuhan energi. Permintaan terhadap bahan bakar minyak, gas, pelumas, dan berbagai produk energi masih memiliki pasar yang luas karena digunakan oleh masyarakat maupun sektor industri.
Posisi Pertamina juga diperkuat oleh skala operasionalnya. Pada 2024, produksi migas Pertamina mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari. Produksi tersebut berkontribusi sekitar 69 persen terhadap produksi minyak nasional dan 37 persen terhadap produksi gas nasional. Di sektor pengolahan, kilang Pertamina mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan BBM nasional, sementara kebutuhan avtur dan diesel dapat dipenuhi 100 persen dari kilang domestik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pertamina memiliki pasar yang besar sekaligus posisi yang strategis. Namun, perusahaan tetap menghadapi persaingan dari perusahaan energi lain, perubahan harga minyak dunia, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta meningkatnya kebutuhan terhadap energi yang lebih ramah lingkungan.
Aspek Sumber Daya Manusia: SDM Menjadi Penentu Keberlanjutan
Bisnis energi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi karena kegiatan perusahaan berkaitan dengan teknologi, keselamatan kerja, pengolahan energi, distribusi, keuangan, pemasaran, hingga pengembangan energi baru.
Pertamina membutuhkan tenaga kerja dengan berbagai keahlian, seperti teknik perminyakan, teknik kimia, teknik mesin, teknologi informasi, keuangan, manajemen, pemasaran, serta bidang lainnya. Selain kompetensi teknis, kemampuan beradaptasi juga menjadi semakin penting karena industri energi sedang mengalami perubahan.
Transformasi menuju energi yang lebih bersih membuat perusahaan perlu mengembangkan kompetensi karyawan agar tidak hanya memahami bisnis minyak dan gas, tetapi juga teknologi energi terbarukan, digitalisasi, efisiensi energi, dan pengelolaan lingkungan.
Aspek Operasional: Bisnis Terintegrasi Menjadi Keunggulan
Pertamina memiliki keunggulan dari sisi operasional karena bisnisnya terintegrasi dalam berbagai kegiatan energi. Kegiatan tersebut mencakup eksplorasi dan produksi migas, pengolahan minyak, penyimpanan, distribusi, perdagangan, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan.
Salah satu contoh pengembangan bisnis baru adalah energi panas bumi melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE). Pada 2024, PGE mencatat pendapatan US$407,12 juta dan laba bersih US$160,30 juta. Produksi listrik panas bumi juga mencapai 4.827,22 GWh, meningkat 1,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bisnis energi Pertamina mulai bergerak lebih luas. Tidak hanya mengandalkan energi fosil, Pertamina Group juga mengembangkan sumber energi yang lebih rendah karbon.
Pada 2025, PGE bahkan mencatat pendapatan US$432,73 juta dan laba bersih US$137,67 juta, sementara EBITDA mencapai US$330,35 juta. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bisnis panas bumi memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber pertumbuhan jangka panjang.
Apakah Bisnis Pertamina Layak?
Berdasarkan analisis dari berbagai aspek, bisnis Pertamina dapat dinilai layak untuk terus dijalankan dan dikembangkan. Dari aspek pasar, kebutuhan energi Indonesia masih besar. Dari aspek keuangan, Pertamina masih mampu menghasilkan pendapatan dan laba dalam jumlah besar meskipun menghadapi tekanan dari kondisi industri global.
Dari aspek SDM, perusahaan memiliki kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang beragam dan memiliki peluang untuk terus mengembangkan kemampuan karyawan sesuai perubahan industri. Sementara dari aspek operasional, integrasi bisnis dari sektor hulu hingga hilir menjadi salah satu kekuatan yang dapat meningkatkan efisiensi dan ketahanan bisnis.
Namun, kelayakan tersebut bukan berarti Pertamina tidak memiliki risiko. Penurunan laba pada 2024 menunjukkan bahwa perusahaan tetap rentan terhadap perubahan harga komoditas dan kondisi ekonomi global. Oleh karena itu, efisiensi, inovasi, digitalisasi, serta diversifikasi ke energi baru dan terbarukan perlu terus dilakukan.

























