SURABAYA – Menulis buku tidak selalu membutuhkan bakat besar. Kemauan untuk memulai dan konsistensi justru menjadi modal utama. Pesan itu mengemuka dalam workshop penulisan buku ajar, buku referensi, dan buku monograf bertajuk “Dari Gagasan Menjadi Naskah Akademik” yang digelar Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN “Veteran” Jawa Timur, Selasa (29/9). Workshop yang berlangsung di Ruang Seminar Aboesono, Gedung 1 FEB UPN “Veteran” Jawa Timur tersebut diikuti 15 dosen dari Program Studi Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, dan Kewirausahaan.
Dosen sekaligus Kepala Program Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Anies Listyowati, S.Pd., M.Pd., yang menjadi pemateri, menegaskan bahwa menulis buku lebih banyak ditentukan oleh kemauan daripada bakat. Menurut dia, bakat hanya memberikan kontribusi sekitar 20 persen. “Masih banyak ilmu yang dibutuhkan anak Indonesia. Dengan menulis, ide dan ilmu kita bisa sampai ke banyak orang,” ujar Anies dalam workshop tersebut. Menurut Anies, dosen memiliki modal besar untuk menulis karena setiap hari bergelut dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman akademik. Karena itu, dosen tidak perlu mencari tema yang terlalu jauh dari bidang keahliannya. Justru, kepakaran yang dimiliki dapat menjadi sumber utama untuk menghasilkan buku. Ia juga memandang aktivitas menulis sebagai salah satu cara menjaga eksistensi akademik.
Buku dapat menjadi ruang untuk menuangkan gagasan, memperluas penyebaran ilmu, sekaligus memperkuat kepakaran seorang dosen. “Menulis buku itu bisa menjadi ibadah. Buku juga bisa menjadi tempat untuk menuangkan ide, bahkan curhat akademik,” katanya. Anies yang dikenal sebagai trainer dan pendamping penulisan buku ajar serta buku perguruan tinggi itu memaparkan sejumlah manfaat menulis buku. Selain menjaga fokus dan eksistensi akademik, buku dapat menjadi sarana memperkenalkan institusi, menyebarkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kepakaran, serta membuka peluang memperoleh pendapatan dari karya yang diterbitkan. Ia juga mengingatkan bahwa penerbitan melalui penerbit yang kredibel dapat memberikan nilai tambah bagi penulis. Dalam kondisi tertentu, karya yang diterbitkan bahkan berpotensi memberikan bonus maupun pendapatan pasif.
Namun, sebelum sampai pada tahap penerbitan, banyak dosen justru berhenti pada persoalan psikologis. Rasa takut salah, merasa tidak berbakat, kesulitan mengatur waktu, kesibukan, serta anggapan bahwa dirinya tidak mampu menulis menjadi sejumlah hambatan yang sering ditemui. Menurut Anies, hambatan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan membangun kebiasaan menulis dan menentukan ruang lingkup tulisan sesuai bidang keilmuan. Menulis secara mandiri juga memberikan keleluasaan bagi penulis untuk menentukan struktur dan pembagian subbab sesuai gagasan yang hendak disampaikan.
Dalam workshop tersebut, peserta juga diperkenalkan pada berbagai jenis buku perguruan tinggi, termasuk buku ajar, buku referensi, monograf, dan diktat. Masing-masing memiliki karakteristik serta fungsi akademik yang berbeda. Anies menyebut buku ajar sebagai salah satu jenis buku yang relatif mudah dikembangkan oleh dosen. Sebab, bahan dasarnya telah tersedia dalam proses pembelajaran, terutama melalui Rencana Pembelajaran Semester (RPS). “Buku ajar bisa dimulai dari RPS. Identitas mata kuliah, prasyarat, deskripsi, tujuan, standar kompetensi, subkompetensi, sampai metode pembelajaran dapat menjadi dasar penyusunan buku,” jelasnya. Setiap bab, lanjut dia, idealnya memiliki pendahuluan yang memuat deskripsi materi, relevansi, dan tujuan pembelajaran. Dengan pola tersebut, materi perkuliahan yang selama ini digunakan di kelas dapat dikembangkan menjadi naskah yang lebih sistematis dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa.
Sementara itu, buku monograf dapat dikembangkan dari hasil penelitian. Penyusunannya menekankan alur logika keilmuan, peta keilmuan, studi kasus, dan ilustrasi dengan gaya bahasa formal. Adapun buku referensi dapat bersumber dari hasil penelitian maupun gagasan akademik yang diperkuat oleh literatur yang relevan. Selain itu, terdapat buku diktat yang pada dasarnya dapat dikembangkan dari buku referensi dan dikemas kembali sesuai kebutuhan pembelajaran mahasiswa. Anies juga memberikan catatan penting bagi dosen yang hendak mengubah laporan penelitian menjadi sebuah buku. Struktur laporan penelitian tidak harus dipertahankan secara utuh. Subjek penelitian, misalnya, tidak harus terus disebutkan sebagaimana dalam laporan penelitian. “Ketika laporan penelitian diubah menjadi buku, isinya langsung dibagi menjadi beberapa bab sesuai latar belakang dan alur pembahasannya,” ujarnya.
Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Wiwik Handayani, S.E., M.Si., mengatakan workshop tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong dosen lebih produktif menghasilkan karya akademik. Menurut dia, buku ajar, buku referensi, dan buku monograf tidak hanya menjadi sarana untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Ketiga jenis karya tersebut juga dapat menjadi salah satu luaran kegiatan penelitian dan memiliki relevansi dengan pengembangan karier akademik dosen. Jika disusun sesuai ketentuan dan diterbitkan melalui mekanisme yang tepat, karya buku dapat memberikan kontribusi terhadap jabatan fungsional dosen sekaligus mendukung pemenuhan Beban Kerja Dosen (BKD). Karena itu, peserta didorong tidak berhenti pada gagasan.

Materi workshop diarahkan agar dosen mampu mengidentifikasi sumber tulisan, menentukan jenis buku yang sesuai, menyusun kerangka, hingga mengembangkan naskah akademik menjadi buku yang layak diterbitkan. Dalam penyusunan buku ajar, Anies juga mendorong dosen untuk tidak bekerja sendiri. Kolaborasi antardosen dinilai dapat memperkaya materi sekaligus mempercepat proses penyusunan naskah. Kerja sama dengan penerbit perguruan tinggi juga dapat menjadi pilihan. Salah satunya melalui penerbit yang memiliki pengalaman menerbitkan buku akademik dan menyediakan pendampingan editorial. Dengan demikian, dosen tidak hanya menghasilkan naskah, tetapi juga memahami proses penyuntingan hingga penerbitan.
Workshop tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa menulis buku bagi dosen bukan sekadar tuntutan administratif. Di balik sebuah buku terdapat proses dokumentasi pengetahuan, penyebaran gagasan, dan penguatan kepakaran akademik. Bagi dosen yang selama ini masih ragu memulai, pesannya sederhana: tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Mulailah dari ilmu yang sudah dikuasai, kemudian kembangkan menjadi karya yang bermanfaat bagi mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Penulis: Muhammad Syarofi dan Ardyan Wicaksana (Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur).





















