Pitch deck bukan sekadar kumpulan slide atau company profile. Pitch deck adalah cerita bisnis yang menjelaskan masalah, solusi, peluang pasar, model bisnis, bukti pertumbuhan, serta dukungan yang dibutuhkan.
PONOROGO, 24 Agustus 2026 Santri Yayasan Pondok Pesantren Darul Falah, Sukorejo, Ponorogo, mengikuti pembelajaran internal bertajuk “Jangan Cuma Punya Ide, Pitch It!” pada Senin, 24 Agustus 2026, pukul 15.30 WIB. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dengan menghadirkan Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi.
Dalam kegiatan tersebut, para santri belajar menyusun pitch deck yang menarik, terstruktur, dan meyakinkan dengan menggunakan Beras Pink Koperasi Pesantren Darul Falah sebagai studi kasus.
Ahmad Madani menjelaskan bahwa banyak bisnis memiliki produk berkualitas, nilai sosial, komunitas, dan peluang pasar. Namun, potensi tersebut sering gagal dipahami karena pemilik bisnis belum mampu menyampaikannya dalam cerita yang sederhana dan logis.
“Produk yang bagus tidak selalu dapat menjelaskan dirinya sendiri. Pemilik bisnis harus mampu menunjukkan masalah yang diselesaikan, siapa yang membutuhkan, bagaimana bisnis bekerja, dan mengapa bisnis tersebut layak dipercaya,” ujar Ahmad Madani.
Pitch Deck Bukan Company Profile
Menurut Ahmad, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan pitch deck seperti company profile. Presentasi dimulai dengan sejarah organisasi, susunan pengurus, visi, misi, dan legalitas, sementara audiens belum memahami peluang bisnis yang ditawarkan.
Company profile berfungsi menjawab pertanyaan “Siapa kami?”, sedangkan pitch deck menjawab “Mengapa bisnis ini menarik untuk didukung?”
Karena itu, pitch deck perlu memiliki alur yang mudah diikuti: problem, solution, market, product, business model, traction, competition, growth strategy, team, dan ask.
“Audiens perlu memahami masalah, solusi, dan peluang terlebih dahulu. Setelah itu, mereka akan lebih tertarik mengenal organisasi yang menjalankan bisnis tersebut,” jelasnya.
Beras Pink sebagai Studi Kasus Bisnis Pesantren
Melalui studi kasus Beras Pink, santri diajak melihat bahwa bisnis tidak cukup hanya menjual produk fisik berupa beras. Produk juga dapat membawa nilai berupa kualitas, kepercayaan, cerita komunitas, dan dampak ekonomi.
Value proposition yang dapat dikembangkan bukan hanya “menjual beras”, melainkan menghadirkan produk pangan berkualitas yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan penguatan ekonomi pesantren.
Santri juga belajar menentukan target pasar yang lebih tajam. Pernyataan “semua orang adalah target pasar karena semua orang makan nasi” dinilai belum cukup strategis. Bisnis perlu memilih kelompok yang paling mungkin membeli terlebih dahulu, seperti keluarga, wali santri, alumni, reseller, toko lokal, rumah makan, katering, dan lembaga.
Pendekatan tersebut diperkuat dengan konsep TAM, SAM, dan SOM. TAM menggambarkan keseluruhan pasar teoritis, SAM menunjukkan pasar yang dapat dilayani, sedangkan SOM menjelaskan bagian pasar yang realistis untuk diraih pada tahap awal.
Data dan Traction Membangun Kepercayaan
Materi juga menekankan pentingnya traction atau bukti bahwa pasar mulai merespons. Traction dapat berupa jumlah pelanggan, pembelian ulang, reseller, titik distribusi, pertumbuhan penjualan, kontrak, maupun daftar tunggu.
“Ide dapat diperdebatkan. Data lebih sulit dibantah,” kata Ahmad Madani.
Dalam simulasi model bisnis, peserta mempelajari hubungan antara harga jual, harga pokok produksi, margin, jumlah reseller, dan volume penjualan. Simulasi digunakan untuk membantu santri memahami logika pertumbuhan, bukan sebagai klaim mengenai pencapaian aktual produk.
Para peserta turut mempelajari peluang membangun pendapatan berulang melalui paket berlangganan serta pentingnya menjelaskan model bisnis secara sederhana. Selain itu, setiap pitch perlu diakhiri dengan ask atau permintaan yang spesifik, misalnya mencari reseller, distributor, mitra distribusi, akses pasar, pendampingan, atau kolaborasi.
Pitching sebagai Keterampilan Masa Depan Santri
Ahmad Madani menegaskan bahwa pitching bukan keterampilan yang hanya diperlukan oleh pendiri startup. Santri juga perlu menguasainya untuk mempresentasikan ide, menawarkan usaha, mengembangkan program, membangun kolaborasi, memimpin organisasi, dan meyakinkan tim.
“Pitching adalah kemampuan mengomunikasikan nilai. Tujuannya bukan memanipulasi audiens, tetapi menyusun fakta menjadi cerita yang mudah dipahami dan layak dipercaya,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, santri diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menciptakan ide. Mereka juga mampu menyederhanakan gagasan, menjelaskan manfaat, menggunakan data, serta menyampaikan kebutuhan bisnis dengan jelas.
Pada akhirnya, pitch deck yang efektif bukan dinilai dari banyaknya slide, animasi, atau desain yang rumit. Pitch deck dinilai dari kemampuannya membuat audiens memahami bisnis dan tertarik melanjutkan percakapan.
“Jangan cuma punya ide. Pitch it. Produk adalah fondasi, tetapi pertumbuhan membutuhkan kemampuan untuk membuat pasar, mitra, dan investor memahami mengapa produk tersebut layak dibeli, dikembangkan, dan dipercaya,” pungkas Ahmad Madani.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran, serta Juri LKSN Digital Marketing 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.























