Demak – Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 99 menjalankan program kerja bertajuk Bank Sampah di Dusun Klego, Desa Sidoharjo, Kabupaten Demak, pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan tersebut dirancang untuk membangkitkan kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan sampah, sekaligus mendorong mereka agar mulai menangani sampah rumah tangga dengan cara yang lebih bijak sehingga bermanfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Secara umum, bank sampah dapat dipahami sebagai wadah untuk “menabung” sampah yang telah dipisahkan menurut jenisnya. Cara kerjanya menyerupai bank konvensional, terdapat nasabah, sistem pencatatan, serta pengelolaan tersendiri. Perbedaannya terletak pada apa yang disetorkan, bukan berupa uang, melainkan sampah yang memiliki nilai jual dan dapat diolah kembali.
Program tersebut dilaksanakan dalam bentuk pendampingan langsung guna memperkuat pengelolaan bank sampah yang sebelumnya sudah berjalan di dusun tersebut. Mahasiswa KKN bersama warga bergotong royong menyiapkan sarana untuk menampung dan mengolah sampah anorganik, di antaranya botol plastik, kertas, kardus, dan kaleng.
Melalui program ini, mahasiswa berharap warga dapat membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah masing-masing. Selain berpotensi mengurangi tumpukan sampah yang dapat mencemari lingkungan, sampah yang telah terkumpul juga dapat dijual kepada pengepul sehingga menghasilkan nilai tambah bagi warga. Sampah yang sudah dipilah selanjutnya disalurkan ke pengepul untuk diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Bustamal Arifin Kaloko, Koordinator Desa KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 99, menjelaskan bahwa program bank sampah merupakan salah satu upaya mendaur ulang sampah agar memiliki manfaat sekaligus nilai ekonomi. Sampah yang semula dianggap tidak berguna, menurutnya, dapat diolah kembali menjadi modal atau sumber dana tambahan, baik bagi warga maupun desa. Ia menambahkan bahwa Desa Sidoharjo menjadi salah satu desa di Kecamatan Guntur yang telah menjalankan program tersebut, dan berharap hal ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mulai mengelola sampahnya secara mandiri.
Ia juga mengajak masyarakat agar lebih peduli dan memahami persoalan sampah yang menurutnya masih menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Karena itu, diperlukan kesadaran bersama dan langkah nyata dari berbagai pihak agar lingkungan dapat menjadi lebih bersih dan berkelanjutan.
Melalui pendampingan ini, mahasiswa KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 99 berupaya turut mendukung pengembangan bank sampah yang telah berjalan di Dusun Klego, Desa Sidoharjo, Kabupaten Demak. Antusiasme warga cukup terlihat dari semangat mereka mengikuti rangkaian kegiatan. Meski demikian, ke depan tetap diperlukan partisipasi lebih banyak warga agar pengelolaan bank sampah dapat berjalan optimal dan manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Dengan dukungan dan partisipasi aktif seluruh warga, bank sampah ini diharapkan dapat terus berjalan secara mandiri dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan menjadi kebiasaan yang turut menjaga kebersihan lingkungan serta menciptakan suasana yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat.





















