Manggarai Timur, NTT – Tim Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) terus berupaya memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Bekam atau Hijamah yang digelar di Balai Warga Waso, Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 25 peserta muslimin dan muslimat dari Dusun Waso, Ronting dan Binaan Desa Satar Kampas.
Materi pelatihan langsung disampaikan oleh Ketua Tim Kesehatan (Terapis) UAR sekaligus Ketua Komunitas Terapis Al-Fatah (KTA), Tabib Rojiun C.Ht. Ia merupakan pelatih tersertifikasi BNSP dan Founder Griya Sehat Asy Syifa Bogor.
Panitia pelatihan, Novie Avianti, mengatakan antusiasme warga cukup tinggi. Bahkan, sehari sebelum pelaksanaan tercatat lebih dari 30 warga Dusun Waso dan Ronting yang mendaftarkan diri, meski sebagian tidak dapat hadir pada hari pelaksanaan.
“Alhamdulillah peserta mengikuti pelatihan dengan antusias. Kemarin yang mendaftar dari Dusun Waso, Ronting dan Binaan, Desa Satar Kampas lebih dari 30 peserta. Hari ini sebagian berhalangan hadir,” ujar Novie, Kamis (1/10/2026).
Materi diawali dengan pembahasan sejarah bekam, termasuk praktik hijamah yang dikenal dalam sejarah pengobatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Peserta kemudian mendapatkan materi mengenai pengertian bekam serta anatomi tubuh.
Rojiun juga menjelaskan sejumlah aspek penting dalam pelaksanaan bekam, mulai dari kontraindikasi dan kegawatdaruratan hingga sterilisasi.
“Materi tersebut diberikan agar peserta memahami bahwa praktik bekam tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga memperhatikan keamanan dan prosedur yang tepat,” ujarnya.
Dalam penyampaian materinya, Rojiun juga mengutip hadis riwayat Bukhari tentang pengobatan, “Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu sayatan alat bekam, minum madu, atau sundutan dengan api (kay), dan aku melarang umatku berobat dengan kay.”
Menurutnya, pembelajaran bekam juga perlu mengenalkan metode sayatan, di samping penggunaan alat atau metode lain yang banyak digunakan dalam praktik bekam saat ini. “Jadi intinya, kita juga harus mempelajari bekam dengan sayatan sebagaimana dianjurkan Nabi,” tegasnya.
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti sesi simulasi dan praktik langsung bersama tim terapis. Peserta kemudian diberikan kesempatan bertanya untuk memperdalam pemahaman mengenai teknik, titik pembekaman, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan selama proses pembekaman.
Peserta Mendapat Pemahaman Baru
Salah seorang peserta, Muhidin Akbar, mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, khususnya mengenai titik-titik pembekaman dan penanganan apabila muncul kondisi yang tidak diinginkan saat praktik.
“Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan, saya lebih paham mengenai titik-titik pembekaman dan bagaimana menangani hal-hal apabila dalam proses pembekaman mengalami sesuatu yang tidak diinginkan,” kata Muhidin.
Ia menambahkan, “Singkatnya, banyak hal yang kami pahami setelah mengikuti semua proses pelatihan dan praktik langsung. Terima kasih banyak kepada Tim UAR yang sudah menyediakan pelatihan buat kami.”
Panitia berharap, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pelatihan sehari, tetapi menjadi bekal ilmu yang dapat terus dikembangkan masyarakat Dusun Waso dan sekitarnya setelah Tim UAR NTT, Jawa Timur dan UAR Pusat menyelesaikan misi kemanusiaan di lokasi terdampak gempa. [AM]




















