PONOROGO — Ada wajah pesantren yang menarik ketika santri Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo tampil dalam program Xpresi Kabaret TVRI Jawa Timur. Mereka datang bukan hanya membawa tartil Al-Qur’an atau hadroh, tetapi juga orchestra, akustik, choral speaking, tari kombinasi hingga Reog Ponorogo.
Secara lengkap, santri Darul Falah menampilkan hadroh, tartil Al-Qur’an, Orchestra Darul Falah, tari kombinasi, Reog Ponorogo, musik akustik, choral speaking, serta Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ).
Keragaman penampilan tersebut seolah menyampaikan satu pesan: pesantren tidak harus menjadi tempat yang kaku dan menyeragamkan bakat anak. Spiritual dan kreatif bukan dua identitas yang saling bertentangan.
Pengasuh Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo, Gus Reza Arif Ahmadi, mengatakan bahwa ibadah, adab, dan akhlak tetap menjadi fondasi pendidikan Darul Falah. Namun, setiap santri juga perlu diberi kesempatan mengenali serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Anak-anak datang dengan potensi yang berbeda. Kalau pendidikan hanya memberikan satu ukuran keberhasilan, akan banyak potensi yang tidak ditemukan. Kami ingin mereka memiliki karakter dan nilai yang kuat, tetapi pada saat yang sama percaya diri mengembangkan kemampuan yang Allah titipkan kepada mereka,” kata Gus Reza.
Bagi Darul Falah, kegiatan seni bukan sekadar hiburan. Orchestra mengajarkan anak mendengarkan satu sama lain. Choral speaking menuntut kekompakan. Akustik membutuhkan kerja sama. Pertunjukan tari melatih koordinasi, sementara MSQ membutuhkan kemampuan memahami sekaligus menyampaikan pesan Al-Qur’an kepada publik.
Ustadzah Sahila Fikriya, guru Darul Falah, mengatakan nilai pendidikan justru banyak muncul selama proses persiapan.
“Anak-anak harus belajar mengatur waktu antara latihan dan kewajiban sebagai santri. Mereka belajar menerima koreksi, mengulangi ketika salah, menghormati peran teman, dan bertanggung jawab sampai penampilan selesai. Panggung hanya hasil akhirnya, sementara prosesnya adalah pendidikan,” ujar Sahila.
Tampilnya Reog Ponorogo juga menjadi simbol bahwa pesantren dapat memainkan peran dalam menjaga budaya daerah. Di tengah kuatnya pengaruh budaya global, anak-anak tetap membutuhkan identitas dan keterikatan terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh.
Namun tantangan pendidikan generasi hari ini bukan hanya masalah budaya. Internet, media sosial, artificial intelligence, algoritma, dan arus informasi bebas telah mengubah cara anak belajar dan berkomunikasi.
Menurut Ustadzah Ivania Syarif, pesantren perlu berada di tengah perubahan tersebut, bukan sekadar berdiri di luar sambil melarang.
“Teknologi adalah bagian dari kehidupan generasi sekarang. Pesantren harus menjadi benteng moral agar mereka memiliki kemampuan membedakan yang baik dan buruk, tetapi santri juga perlu memiliki kecakapan menggunakan teknologi. Kalau akhlaknya kuat, teknologi dapat digunakan untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan kebaikan,” ungkap Ivania.
Inilah keseimbangan yang berusaha dibangun Darul Falah. Pesantren menjaga ibadah dan akhlak sebagai pondasi, tetapi tidak berhenti di sana. Kreativitas dikembangkan, budaya dirawat, kemampuan komunikasi dilatih, sedangkan teknologi dipandang sebagai kecakapan yang perlu dikuasai secara bertanggung jawab.
Penampilan dalam Xpresi Kabaret TVRI Jawa Timur akhirnya menjadi jendela kecil untuk melihat wajah pendidikan Darul Falah yang lebih luas.
Santri boleh mengaji dan bermain orchestra. Mereka bisa menjaga adab sekaligus percaya diri tampil di depan publik. Mereka dapat mempelajari teknologi tanpa meninggalkan identitas budaya.
Sebab pendidikan yang baik bukan membuat semua anak menjadi sama. Pendidikan membantu setiap anak menemukan kekuatannya tanpa kehilangan nilai yang menjadi pegangan hidupnya.






















