Malang — Di tengah derasnya pembicaraan tentang digital marketing, artificial intelligence, algoritma, dan otomatisasi, ada satu kemampuan lama yang ternyata semakin penting: memahami manusia.
Inilah salah satu pesan yang dibawa praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani ketika mengisi Sharing Session “Sales Naik Kelas: Berani Bicara, Berani Menawarkan, Berani Jadi Lebih Percaya Diri” di SMK Muhammadiyah 2 Malang, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut masih berada dalam semangat Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas, yang mendorong siswa SMK tidak melihat sales sebatas profesi, melainkan sebagai keterampilan hidup.
Menurut Madani, siapa pun nantinya membutuhkan kemampuan menjual. Seorang pencari kerja perlu menjelaskan kompetensinya. Pengusaha perlu meyakinkan pasar. Content creator perlu membuat audiens mempercayai ide dan karyanya. Bahkan seseorang yang mengusulkan gagasan dalam organisasi sebenarnya sedang melakukan proses persuasi.
Karena itu, materi sales kepada siswa tidak langsung dimulai dari teknik closing. Madani justru mengajak peserta memulai dari keberanian berbicara, kemampuan bertanya, mendengarkan, dan membaca kebutuhan orang lain.
“Sales yang naik kelas bukan orang yang paling banyak bicara. Ia tahu kapan berbicara, apa yang perlu ditanyakan, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan orang di depannya,” ujar Madani.
Kepala SMK Muhammadiyah 2 Malang, Lukman Hakim, S.HI., M.Pd.I., menilai kemampuan tersebut penting untuk mempertemukan pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan dunia profesional.
“Kami ingin siswa memiliki kemampuan yang utuh. Bukan hanya memahami teori pemasaran, tetapi juga berani berkomunikasi, punya karakter, dan mampu membangun kepercayaan dengan orang lain,” ujar Lukman dalam draft keterangannya.
Kepala Program Jurusan Pemasaran, Yulianita Rahayu, S.Pd., menambahkan bahwa siswa pemasaran perlu mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berlatih menghadapi situasi nyata.
“Di pemasaran, siswa harus terbiasa mempraktikkan komunikasi. Mereka perlu belajar bertanya, mendengarkan, menjelaskan manfaat, hingga menangani keraguan calon konsumen. Itu tidak cukup hanya dibaca dari buku,” jelas Yulianita.
Salah seorang peserta, Muhammad Angga Dwiputra, siswa kelas XI Pemasaran Bisnis Retail, mengaku materi tersebut membuatnya melihat sales dengan cara berbeda.
“Awalnya sales terlihat seperti hanya menawarkan barang. Tetapi ternyata kita harus memahami orang dulu. Saya juga jadi tahu bahwa jejak digital penting karena orang bisa menilai kita dari apa yang mereka temukan di internet,” kata Angga.
Bagian terakhir menjadi jembatan menuju dunia yang selama beberapa tahun terakhir aktif digeluti Madani: AI Visibility dan Generative Engine Optimization.
Sebagai praktisi AI Visibility-GEO, Madani melihat proses “ditemukan” di internet mulai berubah. Seseorang, brand, sekolah, hingga produk tidak lagi cukup memikirkan bagaimana tampil di media sosial atau mesin pencari. Mereka juga perlu memikirkan bagaimana informasi tentang dirinya dipahami dan direkomendasikan oleh sistem AI.
Namun ia mengingatkan siswa agar tidak terburu-buru mengejar istilah teknis. Fondasinya justru jauh lebih sederhana: punya karya, punya pengalaman, punya bukti, kemudian membangun jejak digital yang baik dan konsisten.
Ada satu persamaan menarik antara Madani dengan Kepala SMK Muhammadiyah 2 Malang. Keduanya pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Lukman merupakan alumni tahun 1998, sedangkan Madani lulus pada 2001.
Madani kemudian memilih jalur profesional sebagai praktisi pemasaran dan vokasi. Perjalanannya menjadi contoh bahwa alumni pesantren dapat memasuki bidang pemasaran, teknologi, artificial intelligence, dan pendidikan vokasi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai yang dibentuk selama di pesantren.
Sebab, pada akhirnya, baik pendidikan pesantren maupun dunia sales memiliki satu titik pertemuan yang sangat penting: kepercayaan tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui integritas, konsistensi, komunikasi, dan perilaku.

























