DEPOK – Kemampuan anak dan remaja dalam menyaring informasi digital perlu dibangun melalui pendampingan orang tua dan pendidikan di sekolah. Keduanya berperan penting membantu generasi muda memahami pesan yang diterima, mengenali potensi pengaruh narasi ekstrem, serta mengembangkan sikap kritis dalam menggunakan teknologi.
Persoalan ini dibahas dalam kegiatan Bincang Damai yang digelar Yayasan Ruang Damai dengan tema “Bahasa dan Literatur dalam Membangun Budaya Perdamaian” secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (15/10/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Dian Purnomo, penulis dan peneliti, serta AKP Irsal Lathief Hamdani dari Direktorat Pencegahan Densus 88 Polri.
Dalam diskusi tersebut, AKP Irsal Lathief Hamdani mengingatkan bahwa narasi ekstrem tidak selalu muncul dalam bentuk pesan yang terang-terangan. Pesan semacam itu juga dapat dikemas melalui konten ringan dan menghibur yang beredar di ruang digital, sehingga anak dan remaja perlu memiliki kemampuan untuk mengenali serta memahami isi konten secara kritis.
Upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan orang tua dalam kehidupan digital anak. Orang tua dapat membangun komunikasi dua arah, mendengarkan pengalaman anak saat berselancar di internet, dan mengajak mereka membahas informasi yang ditemukan. Pendekatan ini membantu anak belajar menilai informasi tanpa merasa takut untuk bertanya atau menyampaikan pendapat.
Dian Purnomo menilai kebiasaan berliterasi perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua juga perlu memberikan perhatian melalui interaksi langsung, bukan hanya terpaku pada penggunaan gawai. Dialog bersama anak dapat menjadi sarana untuk mengasah pemikiran kritis sekaligus membangun hubungan yang harmonis.
“Untuk membangun budaya damai, tentu kita harus lebih melek soal literasi, tidak hanya langsung memaknai kata itu secara cepat di tengah gempuran teknologi dan AI,” ujar Dian.
Di lingkungan sekolah, literasi digital dan nilai perdamaian dapat diperkuat melalui kegiatan belajar, diskusi, serta interaksi antarsiswa. Guru dapat mendorong siswa memeriksa kebenaran informasi, menghargai perbedaan pendapat, dan memahami dampak bahasa terhadap orang lain. Lingkungan belajar yang inklusif juga membantu menumbuhkan empati serta mencegah berkembangnya sikap intoleran.
Direktur Eksekutif Yayasan Ruang Damai, Zainal Abidin, menegaskan bahwa bahasa dapat menjadi sarana untuk membangun empati dan kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui Bincang Damai ini, Ruang Damai mendorong orang tua dan sekolah untuk saling melengkapi dalam mendampingi anak dan remaja. Sinergi keduanya diharapkan mampu membentuk generasi yang bijak menggunakan teknologi, kritis dalam menerima informasi, dan menghargai keberagaman.
Penulis: Akbar Trio Mashuri























