MENONGO/SUKODADI/LAMONGAN – Di sebuah ruang kelas sederhana di Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, terdapat pemandangan yang mungkin asing bagi standar pendidikan formal pada umumnya, namun sangat familiar bagi hati yang memahami perjuangan seorang ibu. Seorang guru berdiri tegak di depan papan tulis, satu tangannya memegang spidol untuk menjelaskan materi Fiqih, sementara tangan lainnya dengan erat menggendong buah hatinya yang masih balita. Ini bukan adegan sinetron, melainkan realitas harian Bu Hana Rafiqa Rahmawati, S.Pd. dan Bu Mukzizah Ayu Afriyanti, S.Pd., dua guru hebat di MTs Muhammadiyah 20 Menongo. Kisah mereka, didukung oleh kebijakan pimpinan sekolah yang penuh empati, menjadi definisi utuh dari “memanusiakan manusia” dalam dunia pendidikan Indonesia.
Pendidikan Karakter Lewat Teladan Pengorbanan
Inti dari fenomena ini adalah integrasi antara tanggung jawab profesional sebagai pendidik dan peran biologis sebagai ibu. Bagi Bu Hana dan Bu Mukzizah, membawa anak ke sekolah bukanlah pilihan gaya hidup, melainkan solusi terakhir akibat ketiadaan pengasuh alternatif atau keterbatasan ekonomi untuk menyewa babysitter. Namun, di balik keterpaksaan itu tersimpan dedikasi luar biasa: mereka menolak meninggalkan murid-muridnya demi mengurus anak sendiri. Kehadiran balita di kelas—yang kadang duduk diam menggambar di pojok ruangan atau merangkak pelan saat ibunya membimbing hafalan—bukanlah gangguan, melainkan kurikulum tersembunyi tentang ketangguhan, kasih sayang, dan keseimbangan hidup yang diajarkan langsung melalui keteladanan.
Sinergi Guru Pejuang dan Pimpinan Berhati Lapang
Protagonis utama dalam narasi ini adalah Bu Hana Rafiqa Rahmawati dan Bu Mukzizah Ayu Afriyanti, dua sosok ibu yang menjalani “perjuangan ganda”: mendidik anak bangsa sekaligus mengASIhi anak kandungnya. Namun, cerita ini tidak akan berjalan tanpa peran krusial Kepala MTs Muhammadiyah 20 Menongo. Alih-alih menegakkan aturan kaku yang melarang kehadiran anak di area belajar, beliau memilih jalan empati dan kekeluargaan. Pernyataan resmi kepala sekolah menegaskan bahwa izin ini diberikan atas dasar kemanusiaan, karena diyakini “tidak ada seorang ibu pun yang ingin merepotkan jika ada pilihan lain.” Dukungan juga datang dari rekan guru dan wali murid yang menerima kehadiran si kecil dengan hati lapang, bahkan membantu menjaganya saat sang ibu fokus mengajar.
Rutinitas Harian di Ruang Kelas yang Hangat
Kejadian ini berlangsung setiap hari selama jam pelajaran aktif di lingkungan MTs Muhammadiyah 20 Menongo, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan. Suara adzan Zuhur yang berkumandang berpadu dengan suara kapur di papan tulis dan sesekali tawa renyah balita menciptakan atmosfer sekolah yang hangat layaknya rumah kedua. Momen-momen intim terjadi secara natural: menyusui di jam istirahat, menenangkan tangisan bayi sebelum kembali tersenyum kepada siswa, atau membiarkan anak bermain tenang di sela-sela bangku saat proses pembelajaran berlangsung. Ruang kelas ini menjadi saksi bisu bagaimana batas antara “ruang kerja” dan “ruang domestik” lebur demi keberlangsungan pendidikan dan kesejahteraan keluarga guru.
Ketika Aturan Bertemu Kemanusiaan
Mengapa kebijakan ini penting dan patut diapresiasi? Karena ia menjawab dilema nyata ribuan guru perempuan di Indonesia yang sering dipaksa memilih antara karir dan материнство. Banyak institusi pendidikan masih memandang kehadiran anak di sekolah sebagai pelanggaran disiplin, padahal bagi banyak ibu guru, itu adalah satu-satunya cara agar “dapur tetap mengepul dan kelas tetap ada gurunya.” MTs Muhammadiyah 20 Menongo membuktikan bahwa profesionalisme tidak harus bertentangan dengan empati. Dengan mengizinkan hal ini, sekolah tidak hanya menyelamatkan masa depan akademik siswa yang butuh guru, tetapi juga melindungi hak anak untuk mendapatkan ASI dan kehadiran ibu. Ini adalah wujud nyata nilai-nilai Islam Berkemajuan yang rahmatan lil ‘alamin.
Menjaga Profesionalitas di Tengah Keterbatasan
Bagaimana memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga meski ada balita di kelas? Melalui komitmen kuat dari para guru untuk tetap menjaga profesionalitas. Bu Hana dan Bu Mukzizah menyatakan dalam pernyataan resminya: “Kami berjanji akan tetap menjaga profesionalitas. Mengajar dengan sungguh-sungguh, mendidik dengan ikhlas, dan tetap menjaga ketertiban kelas.” Mereka mengatur strategi: menggendong anak saat menjelaskan konsep sulit, membiarkannya bermain mandiri saat siswa mengerjakan tugas, atau memanfaatkan waktu istirahat maksimal untuk kebutuhan anak. Rekan guru saling bantu menjaga, dan siswa-siswi pun belajar bersikap toleran dan peduli. Hasilnya? Proses belajar tetap mengalir, dan anak-anak didik justru mendapat pelajaran berharga tentang arti pengorbanan seorang ibu.
Pahlawan Tanpa Plakat yang Dicatat Langit
Perjuangan Bu Hana dan Bu Mukzizah mungkin tidak masuk headline berita nasional atau mendapatkan plakat penghargaan bergengsi. Namun, setiap huruf yang mereka tulis di papan tulis sambil menahan berat gendongan, setiap doa yang dibisikkan saat anak tertidur di ruang guru, dan setiap senyum yang mereka berikan kepada murid meski lelah mendera—semuanya dicatat oleh langit. Anak-anak yang mereka didik hari ini akan tumbuh menjadi dokter, ustadz, dan pemimpin yang pernah menyaksikan langsung betapa kuatnya seorang ibu. Dan balita yang mereka gendong kelak akan bangga bercerita: “Dulu ibuku mengajar sambil menggendong aku.” Terima kasih MTs Muhammadiyah 20 Menongo, terima kasih Bu Hana dan Bu Mukzizah, telah mengajarkan kami bahwa pendidikan sejati lahir dari cinta yang tak kenal menyerah.
(Tim Redaksi/Humas MTs Muhammadiyah 20 Menongo)





















