Di tengah kehidupan masyarakat Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, terdapat sosok yang telah lama mendedikasikan dirinya dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Sosok tersebut adalah Mbah Karmono, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang selama kurang lebih 26 tahun turut berkiprah dalam kehidupan ke-NU-an di Desa Srobyong.
Mbah Karmono lahir di Jepara pada 16 Juni 1954. Perjalanan hidupnya tidak hanya diwarnai dengan aktivitas di bidang pendidikan, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan keagamaan. Salah satu bentuk pengabdiannya hingga saat ini adalah menjadi penjaga Mushola Al-Huda di lingkungan masyarakat Srobyong. Peran tersebut menjadi bagian dari kesehariannya dalam menjaga keberlangsungan kegiatan ibadah dan aktivitas keagamaan masyarakat sekitar.
Dari Dunia Pendidikan hingga Pengabdian kepada Masyarakat
Sebelum aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan, Mbah Karmono pernah mengabdikan diri di dunia pendidikan. Ia pernah mengajar di Sekolah Dasar (SD) serta di tingkat Sanawiyah di wilayah Mlonggo. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat.
Masa pengabdiannya di dunia pendidikan berlangsung pada rentang 1979 hingga 2018. Selama puluhan tahun tersebut, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai seorang pendidik, tetapi juga turut berinteraksi langsung dengan masyarakat dan generasi muda. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal dalam menjalankan berbagai peran sosial dan keagamaan setelahnya.
Kiprahnya dalam organisasi NU juga menjadi bagian penting dari kehidupannya. Mbah Karmono dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah NU Ranting Srobyong. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh struktural yang turut berperan dalam menggerakkan kegiatan NU di tingkat ranting.
Menjaga Tradisi Keagamaan Masyarakat Srobyong
Sebagai tokoh NU struktural sekaligus bagian dari masyarakat Srobyong, Mbah Karmono aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah tahlilan pada malam Jumat di Mushola Al-Huda.
Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, berdoa bersama, sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Tradisi seperti tahlilan tidak hanya menjadi kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga kebersamaan dan hubungan sosial masyarakat.
Selain kegiatan malam Jumat, terdapat pula pertemuan lingkungan yang dilaksanakan setiap malam Rabu. Pertemuan tersebut menjadi salah satu bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan.
Pada malam Jumat, masyarakat Srobyong juga mengikuti pengajian di Masjid Srobyong. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan masyarakat tetap berjalan melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin dan melibatkan warga.
Sementara itu, Mushola Al-Huda tidak memiliki kegiatan mengaji pada pagi hari. Meskipun demikian, keberadaan mushola tetap memiliki peran penting sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan masyarakat di lingkungan sekitar.
Pengabdian yang Terus Berjalan
Perjalanan Mbah Karmono sebagai tokoh NU tidak hanya dapat dilihat dari jabatan yang diembannya, tetapi juga dari keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat. Selama kurang lebih 26 tahun menjadi bagian dari perjalanan NU, ia turut menjaga kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan agar tetap hidup di tengah warga.
Pengalamannya sebagai seorang pendidik, penjaga mushola, serta Ketua Tanfidziyah NU Ranting Srobyong menjadi rangkaian perjalanan pengabdian yang saling berkaitan. Pendidikan membawanya dekat dengan generasi muda, sedangkan aktivitas keagamaan dan ke-NU-an membuatnya terus berinteraksi dengan masyarakat.
Sosok Mbah Karmono menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan melalui hal-hal besar. Menjaga tempat ibadah, mengikuti kegiatan tahlilan, menghadiri pertemuan lingkungan, serta menjalankan amanah dalam organisasi NU merupakan bagian dari kontribusi yang memiliki arti bagi kehidupan masyarakat.
Di usianya yang telah memasuki lebih dari tujuh dekade, perjalanan Mbah Karmono menjadi bagian dari cerita kehidupan keagamaan masyarakat Srobyong. Kiprahnya selama puluhan tahun menunjukkan pentingnya peran tokoh masyarakat dalam menjaga tradisi, kebersamaan, dan kegiatan keagamaan di tingkat desa.
























