Malang, 24 Mei 2026 — Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan ruang kebersamaan bagi pengurus dan anggota melalui kegiatan “Minggu Sehat, Car Free Day Bersama Pengurus dan Anggota LKP2M” pada Minggu, 24 Mei 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 12 peserta tersebut berlangsung di kawasan Idjen Boulevard, Malang, sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan internal dan membangun suasana kekeluargaan di lingkungan UKM LKP2M.
Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki aktivitas akademik cukup intensif melalui kajian, penelitian, pengembangan karya, dan berbagai program keilmuan, LKP2M memandang bahwa hubungan interpersonal antaranggota juga menjadi bagian penting dalam keberlangsungan organisasi. Kekompakan tidak hanya dibangun melalui rapat dan forum formal, tetapi juga melalui ruang-ruang informal yang memungkinkan pengurus dan anggota berinteraksi secara lebih santai.
Kegiatan Minggu Sehat menjadi salah satu bentuk bonding internal yang dirancang untuk menciptakan ruang interaksi tersebut. Melalui aktivitas sederhana berupa jalan sehat dan menikmati suasana Car Free Day (CFD), pengurus dan anggota mendapatkan kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, membangun komunikasi yang lebih cair, sekaligus melepas rutinitas kegiatan organisasi.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari. Para pengurus dan anggota LKP2M berkumpul di Gedung Sport Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada pukul 05.30 WIB. Setelah seluruh peserta berkumpul, rombongan kemudian berangkat bersama menuju kawasan Idjen Boulevard pada pukul 06.00 WIB.
Sesampainya di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan jalan sehat bersama di kawasan Car Free Day. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi pengurus dan anggota untuk berinteraksi tanpa sekat struktural. Suasana yang santai membuat komunikasi antarpeserta berlangsung lebih natural, mulai dari berbincang mengenai aktivitas sehari-hari hingga bertukar cerita mengenai pengalaman selama mengikuti kegiatan LKP2M.
Bagi organisasi mahasiswa, kedekatan semacam ini memiliki arti penting. Hubungan yang harmonis antara pengurus dan anggota dapat menjadi modal sosial dalam membangun kerja sama ketika menjalankan berbagai program organisasi. Ketika komunikasi telah terbangun dengan baik dalam suasana informal, koordinasi dalam kegiatan formal diharapkan dapat berlangsung lebih efektif.
Wakil Direktur LKP2M Periode 2026, Ahmad Royhan Firdaus, menegaskan bahwa kegiatan CFD merupakan bagian dari upaya membangun hubungan internal yang lebih harmonis.
“Kegiatan CFD ini dilaksanakan sebagai bagian dari bonding antara pengurus dan anggota untuk menjalin hubungan internal yang harmonis antara keluarga besar UKM LKP2M.”
Menurutnya, organisasi tidak hanya membutuhkan program kerja yang berjalan dengan baik, tetapi juga membutuhkan relasi antarmanusia yang sehat di dalamnya. Pengurus dan anggota merupakan bagian dari satu kesatuan yang saling mendukung dalam menjalankan berbagai agenda LKP2M.
Setelah jalan sehat, peserta kemudian berkumpul untuk berbincang dan membahas rencana kegiatan bonding berikutnya. Diskusi informal tersebut menjadi kesempatan untuk menyusun gagasan kegiatan kebersamaan yang akan dilaksanakan di alam terbuka.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan bonding tidak berhenti pada satu agenda. Kebersamaan diharapkan dapat menjadi tradisi yang terus dikembangkan melalui berbagai bentuk kegiatan yang memungkinkan anggota berinteraksi dan membangun pengalaman bersama.
Pembina LKP2M, Agung Prasetiyo, M.Pd., melihat kegiatan semacam ini sebagai salah satu karakter menarik dalam kultur organisasi LKP2M. Menurutnya, kedekatan antaranggota tidak hanya dibangun melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui aktivitas santai di luar forum formal.
“Salah satu hal yang menarik di UKM LKP2M adalah cara organisasi ini membangun kedekatan dan keakraban antaranggota. Keakraban tersebut tidak hanya dibangun melalui kegiatan akademis seperti diskusi, kajian, dan pengembangan karya ilmiah, tetapi juga melalui berbagai kegiatan santai dan kebersamaan di luar forum formal,” jelas Agung.
Ia menilai bahwa kegiatan sederhana seperti jalan bersama di Car Free Day dapat menjadi momentum yang bermakna untuk memperkuat rasa kekeluargaan. Interaksi yang berlangsung dalam suasana santai memungkinkan anggota membangun komunikasi yang lebih hangat dan mengenal satu sama lain di luar konteks tugas organisasi.
“Melalui kegiatan semacam ini, anggota tidak hanya belajar bekerja sama dalam bidang akademik, tetapi juga membangun rasa kekeluargaan, solidaritas, dan komunikasi yang lebih hangat,” lanjutnya.
Menurut Agung, lingkungan organisasi yang akrab dan nyaman dapat memberikan dampak positif terhadap keterlibatan anggota. Ketika anggota merasa memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan organisasinya, mereka akan lebih terdorong untuk berkembang dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan.
“Suasana yang akrab dan nyaman inilah yang kemudian menciptakan lingkungan organisasi yang positif, sehingga setiap anggota merasa lebih termotivasi untuk berkembang, berkontribusi, dan aktif dalam berbagai program UKM LKP2M,” ungkapnya.
Setelah rangkaian jalan sehat dan diskusi selesai, kegiatan ditutup dengan menikmati berbagai jajanan yang tersedia di kawasan Car Free Day. Momen makan bersama menjadi bagian sederhana yang semakin mencairkan suasana. Para peserta juga melakukan dokumentasi bersama sebagai penanda kebersamaan dalam kegiatan Minggu Sehat LKP2M.
Meskipun dikemas secara sederhana, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya LKP2M membangun organisasi yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga memiliki iklim internal yang sehat. Kegiatan akademik seperti kajian, penelitian, penulisan, dan pengembangan karya tetap menjadi identitas utama organisasi, tetapi semua aktivitas tersebut membutuhkan relasi kerja yang dibangun melalui komunikasi dan rasa saling percaya.
Dalam konteks kaderisasi organisasi, hubungan antara pengurus dan anggota juga menjadi bagian penting dari proses keberlanjutan. Pengurus tidak hanya berperan sebagai pelaksana program kerja, sementara anggota bukan sekadar peserta kegiatan. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem yang saling belajar dan bertumbuh.
Car Free Day menjadi ruang sederhana untuk mempertemukan dua sisi tersebut. Di satu sisi, terdapat aktivitas fisik yang mendorong gaya hidup sehat; di sisi lain, terdapat interaksi sosial yang memperkuat hubungan internal organisasi.
Melalui Minggu Sehat, LKP2M menunjukkan bahwa membangun organisasi yang kuat tidak selalu harus dimulai dari agenda besar. Terkadang, kedekatan justru tumbuh dari langkah-langkah sederhana: berjalan bersama, berbincang tanpa sekat, menikmati makanan bersama, dan menciptakan pengalaman yang dapat dikenang bersama.
Ke depan, kegiatan bonding diharapkan dapat terus dikembangkan melalui berbagai aktivitas yang lebih beragam, termasuk kegiatan di alam terbuka sebagaimana yang mulai direncanakan dalam pertemuan tersebut. Dengan semakin kuatnya hubungan internal, LKP2M diharapkan mampu menciptakan lingkungan organisasi yang harmonis, suportif, dan mendorong setiap anggota untuk terus belajar, berkarya, serta berkontribusi.
Pada akhirnya, Minggu Sehat bukan sekadar jalan-jalan ke Car Free Day. Ia menjadi bagian dari ikhtiar merawat kekeluargaan, memperkuat solidaritas, dan membangun komunikasi yang menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan keluarga besar LKP2M.

























