LAMONGAN – Gelora semangat dari tribun Stadion Surajaya kembali membahana. Bukan sekadar sorakan, melainkan sebuah deklarasi sikap bahwa LA Mania (Lamongan Asli Mania), kelompok suporter fanatik Persela Lamongan, telah resmi bangkit dari masa vakum. Mengusung jargon legendaris “Setia Bersamamu Hingga Akhir”, LA Mania menegaskan komitmennya untuk mengawal perjuangan Laskar Joko Tingkir mengarungi kerasnya kompetisi Liga 2, dengan satu tujuan final: kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1.
Kebangkitan ini bukan sekadar wacana. Ia ditandai dengan konsolidasi organisasi yang solid dan terpilihnya kepemimpinan baru yang siap merajut kembali benang-benang persaudaraan yang sempat longgar.
Mandat Kepercayaan: Carembo Nahkodai LA Mania 2026–2031
Momentum kebangkitan ini bermula dari sebuah peristiwa bersejarah pada Sabtu, 7 Maret 2026. Dalam suasana kekeluargaan yang kental di Lamongan, para koordinator dan perwakilan suporter sepakat untuk menghidupkan kembali mesin organisasi LA Mania.
Dalam konsolidasi tersebut, Teguh, yang akrab disapa Carembo, terpilih secara aklamasi untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum LA Mania periode 2026–2031. Pemilihan Carembo bukan tanpa alasan; ia dinilai memiliki kapasitas untuk merangkul seluruh elemen suporter, dari senior yang telah malang melintang sejak awal 2000-an hingga generasi muda yang baru mengenal warna biru muda.
LA Mania “Setia Bersamamu Hingga Akhir” Kembali Bangkit: Konsolidasi Total Kawal Perjuangan Persela Tembus Liga 1
“Tantangan kita tidak ringan. Persela sedang berjuang di Liga 2, dan organisasi kita sempat mengalami vakum. Namun, hari ini kita membuktikan bahwa LA Mania masih ada, masih satu, dan siap berjuang,” ujar Carembo dalam arahannya pasca-pelantikan.

Mengapa LA Mania Harus Bangkit Sekarang?
Kebangkitan ini didorong oleh urgensi kondisi Persela Lamongan yang saat ini sedang bertarung di Liga 2. Ambisi untuk promosi ke Liga 1 membutuhkan lebih dari sekadar sebelas pemain di lapangan; ia membutuhkan “pemain ke-12” yang solid.
Selama masa vakum, atmosfer dukungan di Surajaya dan saat laga tandang terasa kurang “menggigit”. Manajemen dan pemain membutuhkan energi positif yang konsisten. LA Mania hadir untuk mengisi ruang kosong tersebut, memastikan bahwa setiap laga kandang maupun tandang, skuad Laskar Joko Tingkir merasa didampingi oleh ribuan warga Lamongan yang setia.
Di bawah kepemimpinan Carembo, LA Mania tidak akan bekerja dengan cara lama yang sentralistik. Strategi utama yang diterapkan adalah penguatan jaringan Koordinator Wilayah (Korwil).
Data internal menunjukkan bahwa LA Mania memiliki jaringan yang masif, mencakup lebih dari 86 Korwil yang tersebar tidak hanya di seluruh pelosok Lamongan (seperti Lamongan Kota, Mantup, Tikung, Sarirejo, Kembangbahu, Karangbinangun, , Kedungpring, Sugio, Sukodadi, Brondong, Paciran, Sambeng, Bluluk, Modo, Ngimbang, Babat, Pucuk, Sekaran, Solokuro, Turi, Karanggeneng, Laren, Deket, Glagah), tetapi juga memiliki perwakilan di luar Lamongan Seperti Kalimantan serta Luar negeri, termasuk Malaysia dan Korea Selatan.
Langkah konkret yang dilakukan meliputi:
1. Pendataan Ulang Anggota: Memastikan basis massa yang valid dan aktif.
2. Rutin Koordinasi: Mengaktifkan kembali komunikasi antar-Korwil agar satu komando dalam hal dukungan dan tindakan.
3. Pendekatan Persuasif: Merangkul kembali anggota yang sempat pasif dengan pendekatan kekeluargaan, bukan instruksi kaku.
Jejak Sejarah: Dari 2001 Hingga Predikat Terbaik
Untuk memahami bobot kebangkitan ini, kita perlu menengok ke belakang. LA Mania didirikan oleh Saptoyo Nugroho pada 18 Januari 2001. Sejak saat itu, organisasi ini menjadi denyut nadi Persela.
Sejarah mencatat nama besar seperti H. Aini Hidayat (Ainy Hidayat), sosok yang membawa LA Mania meraih predikat Suporter Terbaik Indonesia pada musim Indonesia Super League (ISL) 2008–2009. Era di mana koreografi tribun, tabuhan perkusi, dan kibaran bendera raksasa LA Mania menjadi standar dukungan suporter di Indonesia.
Warisan prestasi dan kreativitas inilah yang ingin dihidupkan kembali oleh Carembo dan pengurus baru. Bukan untuk terjebak nostalgia, melainkan untuk menginspirasi generasi baru agar tetap kreatif, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Surajaya: Rumah Bagi Laskar dan Mania
Stadion Surajaya kembali diposisikan sebagai “rumah” yang menakutkan bagi lawan dan nyaman bagi tuan rumah. LA Mania berkomitmen untuk menciptakan atmosfer yang intimidating bagi lawan melalui suara dan visual, namun tetap hospitable dan tertib.
Isu rasionalitas suporter menjadi poin penting. LA Mania menekankan bahwa kesetiaan diuji bukan saat menang, melainkan saat tim kalah. Dukungan harus tetap nyala, kritik disampaikan secara internal dan membangun, serta menjaga fasilitas umum dan ketertiban di sekitar stadion.
Menuju Liga 1: Sebuah Perjalanan Panjang
Perjuangan Persela di Liga 2 adalah maraton, bukan sprint. LA Mania menyadari bahwa jalan menuju Liga 1 terjal. Oleh karena itu, slogan “Bergerak dan Bersatu” menjadi landasan gerak.
Gerak berarti aktif memberikan dukungan di setiap pertandingan. Bersatu berarti menghilangkan sekat-sekat antar-wilayah atau antar-generasi. Jika Persela ingin kembali ke papan atas, maka tribun Surajaya harus kembali menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus.
Kini, dengan nahkoda baru dan semangat yang membara, LA Mania siap membuktikan bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Persela Lamongan. Seperti janji setia mereka: “Hingga akhir, kami di sini.






















