Garut, 07 September 2026 – Ada cerita unik dan penuh kebersamaan dalam pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan AR-RAUDHOTUN NUR. Di tengah rangkaian acara yang berlangsung khidmat dan meriah, sebuah grup qasidah bernama “Dadakaniah” lahir secara spontan. Menariknya, grup tersebut bukan dipersiapkan jauh-jauh hari, melainkan terbentuk hanya dalam hitungan beberapa detik setelah prosesi pemberian santunan kepada para penerima manfaat selesai dilaksanakan. Berawal dari candaan dan spontanitas sejumlah pengajar, para personel kemudian sepakat untuk tampil menghibur para orang tua siswa dan tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.
Kehadiran Qasidah Dadakaniah pada awalnya memang tidak memiliki target khusus selain menciptakan suasana yang lebih hangat dan menghibur. Dengan persiapan yang sangat sederhana dan tanpa latihan khusus, para personel memberanikan diri tampil di hadapan para tamu. Namun, sesuatu yang awalnya hanya dianggap sebagai hiburan spontan justru mendapat respons positif dari para hadirin. Senyum, tepuk tangan, dan antusiasme terlihat dari para orang tua siswa serta tamu undangan yang menikmati penampilan tersebut. Spontanitas yang sederhana akhirnya mampu menciptakan suasana kekeluargaan yang semakin terasa dalam peringatan Maulid Nabi.
Grup Qasidah Dadakaniah dipimpin oleh Ustadz Baban Abdul Rahman, Guru Tahfidz di MIS AR-RAUDHOTUN NUR. Menurutnya, lahirnya grup tersebut bukan semata-mata untuk membentuk sebuah kelompok musik, melainkan menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan dan ukhuwah di antara para pengajar yang berada di bawah naungan Yayasan AR-RAUDHOTUN NUR. “Awalnya memang hanya spontan dan sekadar ingin menghibur para orang tua siswa serta tamu undangan. Tetapi bagi kami, yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan sederhana ini bisa menjadi sarana mempererat ukhuwah antarsesama pengajar,” ujar Ustadz Baban.
Lebih jauh, Ustadz Baban menyampaikan bahwa qasidah juga dapat menjadi salah satu media dakwah yang dekat dengan masyarakat. Melalui lantunan syair dan shalawat, pesan-pesan kebaikan dapat disampaikan dengan cara yang ringan, menghibur, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. “Kami ingin menjadikan syair sebagai bagian dari syiar. Kalau sebuah lantunan bisa membuat orang tersenyum, terhibur, sekaligus mengingat Allah dan Rasulullah SAW, menurut kami itu sudah menjadi sesuatu yang bernilai,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., selaku guru di MIS AR-RAUDHOTUN NUR, mengungkapkan bahwa dirinya melihat potensi besar dari grup yang awalnya lahir dari sebuah candaan tersebut. Ia menilai, sesuatu yang dimulai secara sederhana tidak menutup kemungkinan berkembang menjadi sebuah kelompok yang memiliki nama besar dan memberikan manfaat lebih luas. “Siapa sangka, grup yang awalnya hanya terbentuk dari candaan dan spontanitas dalam hitungan detik justru mendapatkan respons yang luar biasa dari para hadirin. Bisa jadi, Dadakaniah yang hari ini masih terdengar sederhana, suatu saat nanti justru menjadi grup dengan nama besar,” ungkapnya.
Penampilan perdana Qasidah Dadakaniah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan AR-RAUDHOTUN NUR pun menjadi catatan tersendiri dalam rangkaian kegiatan tersebut. Tanpa perencanaan panjang, tanpa persiapan berhari-hari, dan lahir dari sebuah spontanitas, Dadakaniah mampu menghadirkan hiburan sekaligus mempererat kebersamaan keluarga besar Yayasan. Nama “Dadakaniah” akhirnya bukan hanya menjadi sebuah nama grup, tetapi menjadi cerita tentang bagaimana kebersamaan, kekompakan, dan niat baik dapat melahirkan sesuatu yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Dari beberapa detik spontanitas, lahirlah sebuah grup yang berhasil membuat banyak orang tersenyum dan terhibur.























