WONOGIRI — Apa yang paling sering membuat seseorang gagal menjual produk? Apakah karena produknya buruk, harga terlalu mahal, atau promosinya tidak menarik?
Bisa jadi masalahnya jauh lebih sederhana: penjualnya takut menawarkan.
Persoalan mental tersebut menjadi pintu masuk Ahmad Madani saat berbicara di hadapan siswa SMK Negeri 1 Wonogiri dalam Sharing Session, Senin, 12 Oktober 2026. Materinya diberi judul “Jangan Takut Ditolak: Bangun Mental Marketer dan Entrepreneur Sejak Sekarang.”
Madani yang dikenal sebagai Praktisi Pemasaran & Vokasi, AI Visibility–GEO Educator, dan Sales Evolution Trainer mengajak siswa membongkar anggapan bahwa orang marketing harus sejak lahir pandai bicara, percaya diri, dan pintar menjual.
Menurutnya, hampir semua kemampuan tersebut dapat dilatih.
“Marketing bukan bakat bawaan. Banyak orang menjadi lebih baik karena berulang kali mencoba, ditolak, mengevaluasi cara pendekatan, kemudian mencoba kembali,” ungkap Madani.
Ia mengatakan, jawaban “tidak” dari calon pembeli seharusnya tidak langsung diterjemahkan sebagai kegagalan pribadi. Bisa jadi konsumen memang belum membutuhkan produk tersebut, belum memiliki anggaran, waktu penawaran kurang tepat, atau produk yang ditawarkan belum sesuai kebutuhan.
Bagi seorang marketer, semua respons itu justru bisa menjadi informasi.
Karena itu, Madani mengajak siswa mengubah cara memandang penolakan. Penolakan tidak harus menjadi alasan berhenti, tetapi dapat digunakan untuk memperbaiki produk, target pasar, komunikasi, maupun strategi pemasaran.
Siswa Jangan Hanya Menjadi Konsumen Digital
Di tengah penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan remaja, Madani juga mendorong siswa mulai berpindah dari sekadar menjadi konsumen menuju pencipta nilai.
Media sosial dapat digunakan untuk memamerkan portofolio, dokumentasi proyek, pengalaman organisasi, kegiatan kewirausahaan, keterampilan desain, kemampuan membuat video, hingga perjalanan belajar siswa.
“Kalau hari ini kalian belajar desain, tampilkan karyanya. Kalau mencoba jualan, dokumentasikan prosesnya. Kalau membantu UMKM membuat konten, itu bisa menjadi portofolio. Jangan menunggu lulus untuk mulai membangun jejak digital,” katanya.
Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan artificial intelligence. Madani menjelaskan bahwa pola pencarian informasi mulai berubah. Konsumen tidak hanya menggunakan mesin pencari, tetapi juga semakin terbiasa bertanya kepada mesin AI dan meminta rekomendasi.
Fenomena tersebut membuat AI Visibility dan GEO atau Generative Engine Optimization menjadi bagian baru dalam diskusi pemasaran modern.
Sebagai praktisi yang aktif mengedukasi AI Visibility–GEO melalui kegiatan pendidikan dan materi publik, Madani menilai siswa pemasaran perlu mengetahui arah perubahan tersebut. Namun ia menekankan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan bersama mentalitas yang kuat.
Sekolah Membentuk Kompetensi Sekaligus Mental
Kepala SMK Negeri 1 Wonogiri Heppi Budi Kurniawan, S.Sn., M.Pd., dalam keterangannya, menilai dunia vokasi perlu mempersiapkan siswa secara lebih utuh. Keterampilan teknis penting, tetapi keberanian, kedisiplinan, komunikasi, kreativitas, serta kesiapan menghadapi perubahan juga menentukan kemampuan lulusan beradaptasi.
Waka Kurikulum Gimo, S.Pd., M.Pd. melihat interaksi siswa dengan praktisi sebagai kesempatan untuk mempertemukan pembelajaran sekolah dengan realitas industri.
Kapro Pemasaran Riris Khuzaemah, S.Pd., M.Pd. menilai mental marketing menjadi aspek yang relevan karena seorang marketer akan selalu berhadapan dengan manusia, kebutuhan, pilihan, keberatan, hingga penolakan.
Guru Pemasaran Wiji Hastuti, S.Pd., M.Pd. menambahkan bahwa pembelajaran akan semakin kuat jika siswa memperoleh keberanian untuk mempraktikkan kemampuan mereka secara langsung.
Pada akhirnya, Madani mengingatkan bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu dimulai dengan modal besar, kantor, atau perusahaan.
Kadang proses itu dimulai dari keberanian yang jauh lebih sederhana: melihat satu masalah, menawarkan satu solusi, berbicara kepada satu calon pelanggan, dan menerima kemungkinan bahwa jawabannya adalah tidak.

























