Lambangkuning, Probolinggo – Upaya meningkatkan produktivitas peternakan tidak selalu harus melalui teknologi yang rumit atau berbiaya tinggi. Berangkat dari kebutuhan masyarakat setempat, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 8 Universitas Muhammadiyah Surabaya menghadirkan sebuah Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Alat Pencacah Rumput untuk Pakan Ternak. Program tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Desa Lambangkuning, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo melalui kegiatan sosialisasi sekaligus demonstrasi penggunaan alat yang berlangsung dengan penuh antusias.
Desa Lambangkuning dikenal sebagai salah satu wilayah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan peternakan. Aktivitas memelihara sapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Namun, dalam proses penyediaan pakan, masih banyak peternak yang mencacah rumput secara manual menggunakan sabit atau parang. Cara tersebut membutuhkan tenaga yang cukup besar, memakan waktu, dan hasil cacahannya sering kali tidak seragam.
Melihat kondisi tersebut, Kelompok 8 KKN UMSurabaya berinisiatif menghadirkan sebuah alat pencacah rumput yang dirancang untuk membantu masyarakat mempersiapkan pakan ternak dengan lebih praktis, efisien, dan aman. Inovasi ini menjadi salah satu program Teknologi Tepat Guna yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata serta dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setelah kegiatan KKN berakhir.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai latar belakang pembuatan alat, tujuan penggunaannya, serta manfaat yang dapat diperoleh oleh para peternak. Mahasiswa menjelaskan bahwa ukuran rumput yang lebih kecil dan seragam akan memudahkan ternak dalam mengonsumsi pakan sehingga mengurangi pakan yang terbuang. Selain itu, proses persiapan pakan juga menjadi lebih cepat dibandingkan apabila dilakukan secara manual.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pengoperasian alat pencacah rumput. Mahasiswa memperlihatkan setiap tahapan penggunaan alat secara rinci, mulai dari pemeriksaan kondisi alat sebelum digunakan, memastikan seluruh komponen berfungsi dengan baik, menyiapkan rumput sebagai bahan pakan, hingga proses memasukkan rumput ke dalam mesin dengan teknik yang benar. Tidak hanya itu, masyarakat juga diberikan penjelasan mengenai prosedur keselamatan kerja, seperti pentingnya menjaga jarak tangan dari bagian pemotong, menggunakan alat sesuai kapasitasnya, serta memastikan mesin dimatikan sebelum dilakukan pembersihan.
Demonstrasi tersebut menarik perhatian warga yang hadir. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana rumput yang sebelumnya berukuran panjang dapat dicacah dalam waktu singkat menjadi potongan-potongan kecil yang lebih mudah diberikan kepada ternak. Hasil cacahan yang lebih merata dinilai dapat meningkatkan efisiensi pemberian pakan sekaligus menghemat tenaga peternak.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Setelah demonstrasi selesai, warga diberikan kesempatan untuk mencoba mengoperasikan alat secara langsung dengan didampingi mahasiswa. Kesempatan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk memahami cara kerja alat sekaligus bertanya mengenai perawatan mesin, langkah-langkah penggunaan yang aman, serta cara menjaga kualitas alat agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Diskusi yang terjalin menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap penerapan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selain memperkenalkan cara penggunaan, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya perawatan alat setelah digunakan. Warga dianjurkan membersihkan sisa rumput yang masih menempel pada bagian mesin, memeriksa baut dan komponen secara berkala, serta menyimpan alat di tempat yang kering agar kualitasnya tetap terjaga. Edukasi tersebut diberikan agar alat dapat dimanfaatkan secara optimal dan memiliki usia pakai yang lebih panjang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap alat pencacah rumput tidak hanya menjadi hasil karya selama pelaksanaan KKN, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Lambangkuning. Kehadiran Teknologi Tepat Guna diharapkan mampu membantu peternak menghemat waktu dan tenaga dalam menyiapkan pakan, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pengelolaan dan pengembangan usaha peternakan.
Program ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan inovasi yang sederhana namun memberikan manfaat nyata. Teknologi yang dikembangkan tidak harus rumit, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sosialisasi dan demonstrasi penggunaan alat pencacah rumput tersebut, Kelompok 8 KKN Universitas Muhammadiyah Surabaya berharap semangat untuk memanfaatkan teknologi tepat guna terus tumbuh di tengah masyarakat. Dengan inovasi yang sesuai kebutuhan desa, diharapkan produktivitas peternakan dapat meningkat, kesejahteraan masyarakat semakin baik, serta terjalin hubungan yang berkelanjutan antara dunia akademik dan masyarakat dalam menciptakan solusi yang bermanfaat bagi pembangunan desa.
























