KALIMANTAN 16/10/2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat dan merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga. Salah satu kelompok yang ikut merasakan dampaknya adalah para perantau asal Lamongan, Jawa Timur, yang menggantungkan hidup dari usaha warung makan di Kalimantan.
Di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap, aktivitas masyarakat terganggu dan jumlah pelanggan warung makan ikut berkurang. Para pedagang kecil pun harus menghadapi kenyataan pahit: pemasukan menurun, sementara biaya operasional dan kebutuhan sehari-hari tetap berjalan.

Keluh kesah tersebut dirasakan Bowo, pemilik Warung Pecel Lele Lamongan di Sampit, Kalimantan. Ia tetap berusaha membuka warungnya meskipun kondisi lingkungan tidak lagi mendukung aktivitas usaha seperti biasanya.
Bagi Bowo, situasi ini menjadi ujian berat bagi keberlangsungan usaha yang menjadi sumber penghidupan. Warung yang biasanya buka hingga pagi hari kini tidak lagi bisa beroperasi dengan jam yang sama. Kabut asap yang menyelimuti kawasan warung membuat aktivitas berdagang menjadi lebih sulit, sementara pelanggan yang datang juga semakin berkurang.

Persoalan tidak berhenti pada menurunnya jumlah pembeli. Bowo juga menghadapi berbagai kendala lain, mulai dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), sulitnya memperoleh gas LPG, hingga persoalan air yang disebut terasa asin.
Kondisi tersebut membuat kegiatan memasak dan melayani pelanggan menjadi semakin menantang. Padahal, dalam usaha kuliner, ketersediaan bahan bakar dan air merupakan kebutuhan penting agar kegiatan dapur tetap berjalan.
Di tengah situasi yang serba sulit, Bowo tetap berupaya mempertahankan warungnya. Ia menyadari bahwa berhenti berjualan berarti kehilangan pemasukan, sedangkan kebutuhan rumah tangga dan biaya usaha tidak bisa ikut berhenti.
Tagihan listrik tetap harus dibayar. Biaya air juga terus berjalan. Sementara itu, kebutuhan untuk menjaga dapur tetap mengepul harus dipenuhi meskipun omzet tidak lagi seperti hari-hari normal.
Kondisi ini menggambarkan beratnya perjuangan pelaku usaha mikro yang tidak memiliki banyak cadangan keuangan untuk menghadapi gangguan usaha berkepanjangan.
Eni Tetap Berjualan di Tengah Kabut Asap Tebal
Pengalaman serupa dialami Eni, pemilik warung makan Lamongan yang menjual nasi dan pecel lele di Jalan Tiung 3, RT 13, tepat di depan lapangan Gubah.
Kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan tersebut membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin berat. Dalam kondisi udara yang dipenuhi asap, penggunaan masker menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan langsung ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Gangguan akibat asap juga dirasakan masyarakat di sekitar lokasi. Aktivitas pendidikan ikut terdampak, dengan anak-anak sekolah diliburkan sebagaimana disampaikan dalam keterangan mengenai kondisi setempat.
Situasi tersebut tentu berpengaruh terhadap perputaran ekonomi warga. Ketika aktivitas masyarakat berkurang, peluang pedagang mendapatkan pelanggan juga semakin terbatas.
Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, Eni memilih tetap membuka warungnya. Ia berusaha menerima keadaan dengan sabar sembari berharap situasi segera membaik.
“Alhamdulillah, disyukuri meskipun pemasukan berkurang,” ujar Eni.
Pernyataan singkat itu mencerminkan keteguhan pelaku usaha kecil yang berusaha bertahan di tengah keadaan sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga kesehatan dan keselamatan keluarga. Di sisi lain, mereka tetap membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bagi pedagang seperti Bowo dan Eni, warung makan bukan sekadar tempat berjualan. Usaha tersebut merupakan sumber penghidupan yang menopang kebutuhan keluarga sekaligus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Ketika kabut asap mengganggu aktivitas warga, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitar kawasan kebakaran. Pedagang kecil yang berada jauh dari titik api pun dapat terkena imbasnya melalui penurunan jumlah pelanggan dan terganggunya kegiatan ekonomi.
Ketika Omzet Turun, Pengeluaran Tetap Berjalan
Penurunan omzet menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha mikro. Berbeda dengan usaha besar yang mungkin mempunyai cadangan modal lebih kuat, warung makan kecil umumnya mengandalkan pemasukan harian untuk memenuhi kebutuhan operasional dan rumah tangga.
Ketika pelanggan berkurang, pendapatan ikut menurun. Namun, pengeluaran untuk listrik, air, bahan makanan, gas memasak, dan kebutuhan lainnya tetap harus diperhitungkan.
Apabila keadaan berlangsung lama, modal usaha berisiko terkikis karena pemasukan tidak cukup untuk menutup seluruh biaya. Pedagang juga harus mempertimbangkan risiko bahan makanan yang tidak terjual, terutama jika aktivitas warung sudah jauh berkurang.
Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang dihadapi pedagang tidak mudah. Tetap buka berarti harus menghadapi risiko kesehatan dan kemungkinan pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya operasional. Sebaliknya, menutup warung dapat membuat pemasukan harian terhenti sama sekali.
Karena itu, persoalan kabut asap perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah lingkungan dan kesehatan, tetapi juga sebagai persoalan sosial-ekonomi yang memengaruhi kehidupan masyarakat kecil.
Diperlukan perhatian terhadap kelompok yang mata pencahariannya bergantung pada aktivitas harian, termasuk pedagang makanan, pekerja informal, pengemudi, dan pelaku usaha mikro lainnya.
Karhutla Bukan Hanya Persoalan Api, tetapi Juga Ancaman Kesehatan
Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak luas, terutama ketika asap menyebar ke kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat. Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang, mengganggu transportasi, membatasi aktivitas luar ruangan, dan memengaruhi kegiatan belajar mengajar. Ketika sekolah harus menghentikan sementara kegiatan tatap muka demi keselamatan peserta didik, orang tua dan masyarakat pun perlu menyesuaikan aktivitas sehari-hari.
Dalam keadaan demikian, masyarakat membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, pelayanan kesehatan yang memadai, serta langkah pencegahan yang jelas dari pihak berwenang.
Pedagang yang terpaksa tetap bekerja di luar ruangan juga perlu mendapat perhatian. Penggunaan masker biasa tidak selalu cukup untuk melindungi seseorang dari partikel halus asap. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengikuti rekomendasi kesehatan setempat, membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, dan mencari tempat yang lebih aman apabila memungkinkan.
Keselamatan warga harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap upaya mempertahankan aktivitas ekonomi selama bencana berlangsung.
Kebakaran Lahan di Melawi Menambah Kekhawatiran
Di tengah persoalan kabut asap yang dirasakan masyarakat Kalimantan, laporan kebakaran hutan dan lahan juga datang dari Dusun Sulub Permai, Desa Ulak Muid, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat
Berdasarkan informasi yang disampaikan, kebakaran pada 13 Oktober 2026 dilaporkan menghanguskan ratusan hektare semak belukar dan perkebunan kelapa sawit milik warga. Api disebut terus meluas hingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan permukiman di sekitarnya.
Menurut kesaksian warga yang disampaikan dalam laporan tersebut, titik awal kebakaran diduga berasal dari lahan kosong di wilayah Desa Maris Permai, Kecamatan Tanah Pinoh. Api kemudian merambat hingga memasuki kawasan Dusun Sulub Permai, Desa Ulak Muid.
Informasi tersebut juga menyebutkan adanya desakan agar perusahaan yang berada di kawasan terkait, termasuk Mukti Group dan PT AKM, bersama satuan tugas penanganan karhutla segera mengambil langkah untuk mencegah kebakaran semakin meluas.
Sementara itu, kualitas udara di Desa Ulak Muid dilaporkan masuk kategori berbahaya akibat tingginya paparan partikel halus PM2.5. Informasi mengenai kategori kualitas udara dan luas kebakaran tersebut perlu terus diperbarui melalui keterangan resmi instansi terkait agar masyarakat memperoleh gambaran kondisi yang akurat.
Dugaan mengenai asal api maupun tanggung jawab pihak tertentu juga perlu ditelusuri melalui penyelidikan yang transparan. Penetapan pihak yang bertanggung jawab harus didasarkan pada bukti dan hasil pemeriksaan, bukan semata-mata dugaan di lapangan.
Peristiwa di Melawi menunjukkan pentingnya respons cepat ketika api mulai meluas, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut, semak belukar kering, dan kawasan perkebunan yang berdekatan dengan permukiman.
Penanganan Karhutla Harus Menyentuh Akar Masalah
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran sudah meluas. Pencegahan harus dilakukan secara konsisten melalui pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, pemantauan titik panas, serta kesiapan personel dan peralatan pemadam.
Lahan gambut membutuhkan perhatian khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan kembali menimbulkan asap meskipun kobaran di permukaan telah mereda. Kondisi cuaca kering dan fenomena El Niño, ketika terjadi, juga dapat meningkatkan risiko kebakaran dan menyulitkan pemadaman.
Pemerintah, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat perlu memperkuat koordinasi untuk mencegah kebakaran baru. Jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian yang melanggar hukum, penanganannya harus dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengawasan terhadap lahan yang berulang kali terbakar juga penting dilakukan secara objektif. Pemeriksaan harus memperhatikan bukti di lapangan, riwayat kejadian, kondisi pengelolaan lahan, serta hasil penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain penegakan hukum, pemulihan lingkungan dan perlindungan warga terdampak tidak boleh diabaikan. Upaya pencegahan jangka panjang perlu mencakup pemulihan lahan yang rusak, pengelolaan tata air gambut, edukasi masyarakat, dan penguatan sistem peringatan dini.
Pernyataan atau imbauan kepada masyarakat juga harus disampaikan secara sensitif. Warga yang telah berhari-hari atau berminggu-minggu menghadapi asap membutuhkan informasi yang jelas, bantuan nyata, dan kepastian langkah penanganan, bukan sekadar imbauan tanpa tindak lanjut.
Pedagang Kecil Membutuhkan Perlindungan Nyata
Bagi Bowo dan Eni, persoalan karhutla terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin tidak berada tepat di lokasi awal kebakaran, tetapi harus menghadapi konsekuensi ketika asap mengganggu aktivitas masyarakat dan pelanggan tidak lagi ramai.
Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa bencana lingkungan memiliki dampak berlapis. Selain kerusakan hutan, ancaman kesehatan, dan gangguan pendidikan, ada pula pendapatan keluarga yang berkurang serta biaya hidup yang terus berjalan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan bantuan kesehatan dan informasi kualitas udara tersedia bagi masyarakat terdampak. Apabila gangguan usaha berlangsung berkepanjangan, pendataan pelaku usaha mikro yang benar-benar terdampak dapat menjadi dasar untuk menilai kebutuhan dukungan ekonomi sesuai program dan kemampuan anggaran yang tersedia.
Dukungan tersebut perlu dirancang secara tepat sasaran, transparan, dan tidak menyulitkan masyarakat yang sedang menghadapi keadaan darurat. Pada saat yang sama, langkah pencegahan dan penegakan hukum harus berjalan agar masyarakat tidak terus menanggung kerugian akibat kebakaran yang berulang.
Bagi para perantau asal Lamongan yang mencari nafkah di Kalimantan, bertahan dalam situasi sulit bukanlah perkara sederhana. Mereka harus menjaga kesehatan, mempertahankan usaha, dan tetap memenuhi kebutuhan keluarga di tengah ketidakpastian.
Jangan Biarkan Dapur Rakyat Padam
Kisah Bowo dan Eni bukan sekadar cerita tentang warung makan yang kehilangan pelanggan. Di balik penurunan omzet, ada perjuangan keluarga kecil untuk mempertahankan penghasilan dan menjaga keberlangsungan usaha.
Ungkapan Eni, “Alhamdulillah, disyukuri meskipun pemasukan berkurang,” menunjukkan sikap tabah di tengah tekanan ekonomi. Namun, ketabahan masyarakat tidak seharusnya menjadi alasan bagi pihak mana pun untuk mengabaikan kebutuhan mereka akan perlindungan dan penanganan bencana yang memadai.
Karhutla harus ditangani sebagai persoalan bersama yang menyangkut keselamatan manusia, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Pemadaman api, pencegahan kebakaran berulang, pengawasan lahan, penegakan hukum, pelayanan kesehatan, serta perhatian kepada pelaku usaha kecil perlu berjalan beriringan.
Masyarakat tidak cukup hanya diminta bersabar ketika udara dipenuhi asap dan pendapatan semakin menipis. Mereka membutuhkan tindakan nyata agar dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Sebab, ketika hutan terbakar dan asap menutup langit, yang ikut terancam bukan hanya pepohonan dan satwa liar. Ada pula kehidupan warga, pendidikan anak-anak, serta usaha kecil yang setiap hari berjuang agar dapur tetap ngebul.
Harapannya, penanganan karhutla dilakukan secara cepat, transparan, dan berkelanjutan sehingga masyarakat dapat kembali menghirup udara yang lebih bersih, menjalankan aktivitas secara aman, dan mencari nafkah tanpa terus dibayangi bencana yang sama.
























