Klaten (MAN 1 Yogya) – Kemampuan mengenali posisi dan menentukan arah merupakan salah satu keterampilan dasar dalam kegiatan kepencintaalaman. Untuk menguasainya, diperlukan pemahaman terhadap peta, kompas, serta kondisi medan yang dihadapi secara langsung.
Pada Sabtu (31/10/2026), calon anggota Kelompok Pecinta Alam Lebah Gunung (KPGR-LG) angkatan 27 melaksanakan praktik navigasi darat di kawasan Kalitalang. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menerapkan materi navigasi darat yang sebelumnya telah dipelajari melalui praktik langsung di lapangan.
Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah penentuan posisi menggunakan metode resection dan intersection. Kedua metode tersebut memiliki peran penting dalam navigasi darat, khususnya untuk menentukan letak suatu titik berdasarkan informasi arah dan kenampakan medan.
Melalui metode resection, peserta mempelajari cara menentukan posisi diri pada peta dengan mengacu pada beberapa objek medan yang dapat dikenali. Sementara itu, metode intersection digunakan untuk menentukan posisi suatu objek di medan dengan memanfaatkan pengamatan arah dari titik-titik yang telah diketahui posisinya pada peta.
Dalam penerapannya, peserta dituntut untuk mengamati lingkungan sekitar, mengenali objek medan, serta mencocokkannya dengan informasi yang terdapat pada peta. Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan pemahaman agar posisi yang ditentukan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi latihan rutin Pramuka yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari keterampilan secara langsung. Menurutnya, kegiatan kepramukaan tidak hanya mengajarkan kedisiplinan, tetapi juga membekali murid dengan kemampuan praktis yang berguna dalam berbagai situasi.
“Pramuka mengajarkan banyak hal yang tidak selalu kita dapatkan di dalam kelas. Melalui latihan seperti ini, murid belajar keterampilan, ketelitian, kerja sama, dan tanggung jawab. Saya berharap anak-anak mengikuti setiap latihan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya memahami teorinya, tetapi juga mampu mempraktikkannya. Keterampilan sederhana seperti simpul, ikatan, dan jerat bisa sangat bermanfaat ketika dibutuhkan,” tuturnya.
Praktik secara langsung di kawasan Kalitalang memberikan pengalaman bagi calon anggota untuk memahami bahwa navigasi darat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca peta, tetapi juga kemampuan mengamati dan menganalisis lingkungan.
Melalui kegiatan ini, calon anggota KPGR-LG angkatan 27 diharapkan mampu mengembangkan keterampilan navigasi darat sebagai bekal dalam menghadapi berbagai kegiatan di alam bebas. Sebab, memahami posisi dan menentukan arah bukan hanya tentang menemukan jalan, tetapi juga tentang mengambil keputusan secara tepat dengan tetap mengutamakan keselamatan. (ark)





















