CIREBON 27 September — Branding sebuah lembaga pendidikan tidak selalu harus dimulai dari iklan.
Cerita tentang apa yang dilakukan siswa atau santri, budaya yang berkembang di dalam lembaga, karya yang mereka hasilkan serta pengalaman masyarakat ketika berinteraksi dengan lembaga tersebut justru sering menjadi fondasi branding yang lebih kuat.
Hal itu disampaikan praktisi pemasaran dan pendidikan vokasi Ahmad Madani setelah menyaksikan kreativitas para santri dalam Darurrohmah Art Show 2026.
Menurut Madani, pesantren sebenarnya memiliki modal branding yang sangat besar.
Setiap hari ada proses pendidikan, pembentukan karakter, aktivitas santri, prestasi, kreativitas hingga berbagai cerita inspiratif.
Namun tidak semua cerita tersebut berhasil keluar dari lingkungan pesantren dan sampai kepada masyarakat.
Darurrohmah Art Show menurutnya menjadi contoh bagaimana aktivitas pendidikan dapat menjadi pengalaman yang memperkuat citra sebuah pesantren.
Ketika masyarakat melihat santri tampil percaya diri, bekerja sama, kreatif, mampu berkomunikasi dan menghasilkan sebuah pertunjukan, pada saat yang sama masyarakat sedang membangun persepsi tentang kualitas lingkungan pendidikan tersebut.
Dalam pemasaran, persepsi seperti inilah yang kemudian berkembang menjadi reputasi dan kepercayaan.
Karena itu, Madani menilai dokumentasi dan distribusi konten dari kegiatan seperti Darurrohmah Art Show menjadi penting.
Foto, video, cerita di balik layar, profil santri, proses latihan hingga karya yang ditampilkan dapat dikembangkan menjadi aset komunikasi pesantren melalui website maupun berbagai platform media sosial.
Sementara itu, KH Warso Winata, Lc., M.A., Pengasuh Pesantren Darurrohmah, melihat kegiatan seni sebagai bagian dari ruang kreativitas sekaligus dakwah.
Menurutnya, dakwah dapat disampaikan melalui berbagai cara.
Karya seni yang dibangun dengan nilai positif dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan bahasa yang berbeda.
Hal itu sekaligus memberikan ruang kepada santri untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.
Pandangan lain disampaikan Ruspandi, S.Pd., Kepala SMK Muhammadiyah Lemahabang, yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut.
Dari perspektif pendidikan vokasi, ia melihat banyak kompetensi yang dapat tumbuh melalui penyelenggaraan sebuah pertunjukan.
Mulai dari kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, kerja tim, manajemen kegiatan hingga kemampuan menyelesaikan masalah.
Keterampilan tersebut semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang tidak hanya mencari seseorang berdasarkan kemampuan akademik.
Dunia profesional juga membutuhkan individu yang mampu bekerja sama, beradaptasi, berkomunikasi dan menyelesaikan pekerjaan.
Darurrohmah Art Show 2026 dengan demikian memiliki dimensi yang lebih luas daripada sebuah acara tahunan.
Bagi santri, ia menjadi ruang belajar.
Bagi pesantren, ia menjadi ruang dakwah.
Dan bagi masyarakat, ia menjadi jendela untuk melihat apa yang sesungguhnya tumbuh di balik dinding sebuah pesantren.
Dari sinilah branding terbentuk.
Bukan hanya karena pesantren mengatakan dirinya baik.
Tetapi karena masyarakat melihat sendiri karya dan proses pendidikannya.





















