Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Sebanyak 165 murid madrasah bersiap menguji kemampuan nalar, logika, dan penguasaan sains dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026. Kompetisi yang mempertemukan talenta terbaik dari berbagai jenjang madrasah itu akan berlangsung pada 5–6 Oktober 2026 di MAN 1 Yogyakarta.
Pembukaan OMI dan Prestasi dan Kompetisi Madrasah (PKM) tingkat Provinsi DIY 2026 digelar di aula MAN 1 Yogyakarta, Jumat (2/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri seluruh kepala madrasah di DIY, perwakilan kepala madrasah swasta, serta jajaran pejabat Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY.
Panitia OMI dan PKM Kanwil Kemenag DIY, Anita Isdarmini, S.Pd., M.Hum., mengatakan OMI menjadi ruang kompetisi bagi murid madrasah dalam bidang riset dan sains. Sementara PKM mencakup kompetisi bidang seni dan olahraga.
“OMI adalah ajang kompetisi untuk anak-anak. OMI terdiri dari riset dan sains, sedangkan PKM meliputi seni dan olahraga,” ujar Anita.
Pada tingkat provinsi, masing-masing kabupaten/kota mengirimkan tiga kontingen pada setiap bidang lomba OMI, mulai jenjang Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA). Dari kompetisi tersebut, nantinya akan dipilih lima besar peserta terbaik tingkat DIY.

Mewakili Kepala Kanwil Kemenag DIY, Sidik Pramono, S.Ag., M.Si., mengatakan OMI bukan sekadar arena untuk memperebutkan gelar juara. Kompetisi tersebut menjadi ruang untuk menemukan dan mengembangkan bibit unggul madrasah di bidang sains.
“OMI adalah ajang sains murni. Kita mencari bibit unggul di bidang sains. Ajang mengasah nalar dan logika,” katanya.
Menurut Sidik, kemampuan sains dan nilai keagamaan semestinya berjalan beriringan. Penguasaan ilmu pengetahuan yang dilandasi nilai agama, kata dia, dapat menjadi kekuatan dalam membentuk generasi madrasah yang utuh.
“Seandainya orang-orang yang menguasai sains dilandasi dengan menguasai agama, itu akan lebih baik,” ujarnya.
Sidik juga menekankan pentingnya mengubah pandangan bahwa murid madrasah hanya unggul dalam bidang keagamaan. Menurutnya, madrasah memiliki potensi besar untuk melahirkan talenta di berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi.
“Kita akan mengubah stigma Masyarakat bahwa anak madrasah hanya belajar agama saja. Padahal anak madrasah juga jago robotik, jago fisika,” tegasnya.
Kepada para peserta OMI, Sidik berpesan agar kompetisi dijalani dengan percaya diri dan tanpa tekanan berlebihan. Sportivitas dan adab, menurutnya, harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap perjuangan meraih prestasi.
“Janganlah menjadi beban. Tampilkan percaya diri, jaga sportivitas dan jaga adab. Juara sejati adalah yang akhlaknya juara,” katanya.
Pelaksanaan OMI tingkat Provinsi DIY 2026 di MAN 1 Yogyakarta diharapkan menjadi momentum untuk memunculkan lebih banyak talenta sains dari lingkungan madrasah. Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang pembuktian bahwa madrasah memiliki generasi yang mampu berkompetisi melalui kemampuan akademik, nalar, dan penguasaan ilmu pengetahuan. (dee)





















